LenteraKepri.com, Batam – Di sebuah kelas inklusi di SDN 003 Batu Aji, Batam, ada seorang guru yang memiliki ritual kecil sebelum proses belajar dimulai: menatap wajah anak-anak dengan senyum tulus, seolah ingin memastikan bahwa setiap dari mereka merasa diterima sepenuhnya. Ia memanggil mereka satu per satu, bukan hanya untuk kehadiran tetapi untuk memastikan kenyamanan.
Nama wanita itu Sutarya Aryaningsih, S.Pd, lahir di Kijang, Bintan Timur, 12 Oktober 1980. Namun dalam dunia sastra, ia dikenal dengan sebutan sederhana: Ning.
Tidak ada yang menyangka, di balik sosok guru yang setiap hari memegang buku pelajaran, menyusun rencana belajar, dan menggendong perhatian ekstra untuk murid berkebutuhan khusus, tersimpan dunia batin yang luas, dunia puisi. Ning bukan sekadar penulis puisi.
Hari ini, ia merupakan penyair perempuan paling produktif menerbitkan buku puisi yang dimiliki Provinsi Kepulauan Riau. Sebuah gelar yang ia semat bukan karena klaim, tetapi karena konsistensi karya, produktivitas tanpa henti, dan pengakuan dunia sastra Indonesia serta Malaysia dan Singapura.
Awal Semua: Dari Diari Kecil ke Kertas Tanpa Batas
Cinta Ning pada kata dimulai diam-diam. Saat teman sebayanya mengenal kaset pop remaja atau surat cinta, Ning punya benda yang ia simpan seperti harta karun: diari.
Di sanalah ia menulis apa saja, tentang perasaan, tentang teman, tentang kekhawatiran, tentang hal-hal yang bahkan tak berani ia ucapkan keras-keras.
“Saya suka menulis sejak remaja. Tapi saat itu hanya coretan-coretan. Belum terpikir untuk menunjukkan pada dunia,” ucapnya.
Tahun 1995, ketika bersekolah di SMKN 1 Tanjungpinang, aktivitas menulis itu berubah menjadi kebutuhan. Diari bukan sekadar tempat mencurahkan isi hati, tapi tempat dunia dipahami.
Kuliah di Universitas Terbuka membuatnya makin matang. Ia belajar menyusun kata dengan kesadaran penuh. Namun arah hidup membawanya ke dunia lain dulu: dunia pendidikan. Tahun 2011 Ning mulai mengajar di sekolah luar biasa (SLB).
Sepuluh tahun mendampingi anak berkebutuhan khusus membentuknya menjadi manusia penuh empati, penuh kesabaran, penuh pemahaman.
Namun satu hal tidak pernah padam: puisi.
Pertemuan yang Mengubah Hidup
Hidup sering kali mempertemukan seseorang dengan orang lain pada waktu yang tepat. Bagi Ning, seseorang itu adalah sastrawan besar Melayu, Dato Rida K Liamsi.
Ia menyebutnya dengan panggilan penuh makna: Ayah.
“Ayahlah yang paling keras mengkritisi puisi saya. Saya bersyukur,” kata Ning sambil tersenyum.
Setiap kali ia memublikasikan puisi di media sosial, komentar pertama yang ia tunggu adalah dari Ayah. Jika ada kalimat yang tidak kuat, atau metafora yang tidak tepat, Ayah akan langsung memberi arahan tanpa kompromi.
Namun kritik terbesarnya datang pada 2011.
“Percuma saja sebanyak apapun yang kau tulis kalau tidak dibukukan. Orang tak akan tahu.”
Ning menggeleng waktu itu. “Ayah, saya tidak pandai,” jawabnya.
Tetapi Ayah percaya dulu, Ning belajar kemudian. Kepercayaan itu membentuk sayap.
Dengan bantuan penyair senior Abdul Kadir Ibrahim, Ning mulai menyusun naskah buku pertamanya. Biaya dicari sendiri, tanpa sponsor. Ning tidak mau menunggu dunia membuka pintu; ia memutuskan mengetuk pintunya sendiri.
Buku pertamanya lahir pada 2020:
“Pasal-Pasal Rindu Secantum Puisi”
Sejak itu ia tidak berhenti:
- “Perihal Kita” (2023)
- “Kau Peluk” (2024)
- “Menggapai Impian” (2025 – proses cetak)
Belum termasuk puisinya yang masuk ke antologi besar seperti Berbisik Pada Dunia, Festival Sastra Internasional Gunung Bintan, dan Jazirah Enam.
Dari Batu Aji ke Panggung Internasional
Jika dulu Ning membaca puisi sendirian di kamar, kini ia membacanya di panggung, di hadapan audiens negeri sendiri dan negara jiran.
Ia sudah tampil membacakan puisi di:
Jakarta
Tanjungpinang
Kuala Lumpur
Johor Bahru
Singapura
Di Malaysia dan Singapura, penyair perempuan Indonesia dari Batam yang tampil dengan kekuatan bahasa Melayu dan suara lirih penuh luka itu menarik perhatian kritikus sastra.
Ia mulai dikenal sebagai penyair perempuan produktif yang mewakili Kepri.
Penyair Yang Tetap Menjadi Guru
Meskipun karyanya terbang jauh, Ning selalu memilih pulang ke kelas. Ia tetap menjadi wali kelas 3 SDN 003 Batu Aji, sekolah inklusi dengan keberagaman potensi.
Di Batam ada Festival Literasi Kota. Setiap sekolah diwajibkan menghasilkan karya, cerpen, puisi, konten digital, hingga numerasi. Banyak sekolah memandang festival ini sebagai kewajiban. Ning memandangnya sebagai pintu masa depan.
Ia mendorong murid dan guru agar berani berkarya.
“Saya ingin anak-anak tahu bahwa menulis adalah ruang untuk merdeka,” ungkapnya.
Yang membanggakan, sekolah memberikan dukungan penuh. Ketika Ning harus tampil di Johor, Jakarta atau Tanjungpinang, kepala sekolah dan rekan guru memberi izin dan motivasi.
Rumah: Tempat Yang Selalu Mendukung
Dunia panggung dapat memukau. Dunia kelas dapat membahagiakan. Tetapi dunia keluarga adalah tempat Ning pulang.
Ia didampingi suaminya Bambang Susilo, sosok yang jarang tampil di depan publik tetapi selalu ada di belakang layar. Putra tunggalnya Gilang Herlambang (22) sedang menyelesaikan kuliah dan gemar bermusik; talenta seni tampaknya menurun.
Jika puisi adalah pelukan kata, keluarga adalah pelukan tanpa kata.
Hidup yang Didedikasikan untuk Kata
Ning percaya puisi bukan hanya tentang rima, metafora, atau diksi. Puisi adalah cara memproses hidup.
“Apa yang dilihat dan dirasakan itu jadi puisi. Kawan galau pun bisa jadi puisi. Atau duduk, melihat meja, meja pun bisa jadi puisi.”
Bagi Ning, puisi bukan hanya karya seni, puisi adalah cara bertahan hidup.
Ning adalah bukti bahwa tak ada batas untuk perempuan yang memilih untuk berkarya. Bahwa Keyakinan bisa mengalahkan keraguan. Bahwa puisi tidak harus lahir dari hidup glamor; ia bisa lahir dari buku catatan harian seorang guru di sudut kelas.
Ia mungkin bukan nama paling populer di Indonesia. Tidak muncul di layar televisi. Tidak wara-wiri di kanal gosip. Tapi ia terus menulis, terus menerbitkan buku, terus tampil di panggung sastra, dan masih mengajar dengan hatinya yang penuh.
Di peta sastra Kepulauan Riau, ada satu titik cahaya perempuan. Dan namanya adalah Ning.
