Iran Ingatkan Perang Bisa Meluas

oleh -
oleh
Amerik Serikat membom pusat kota Teheran, Iran. (foto reuters)

LenteraKepri.com, Batam – Juru Bicara Militer Iran Brigjen Mohammad Akraminia memperingatkan perang baru yang mungkin terjadi antara Iran dengan Amerika Serikat (AS) dapat meluas ke seluruh kawasan serta menyeret infrastruktur energi dan komunikasi ke dalam konflik tersebut.

Kepada Kantor Berita Mehr, Rabu (26/8/2026), Akraminia telah memperingatkan bahwa setiap kesalahan perhitungan yang dilakukan para lawan Iran akan memicu respons langsung dan berpotensi memperluas cakupan geografis konflik tersebut.

Pernyataan Akraminia itu merujuk pada Selat Bab al-Mandab dan pangkalan milik AS di Suriah. Dia mengatakan kedua area itu telah menjadi bagian dari konflik tersebut, meskipun sebelumnya berada di luar cakupan geografis pertempuran.

“Saat ini, ancaman tersebar di seluruh kawasan dan kami memiliki kemampuan untuk menghadapi serta mengatasinya,” ucapnya.

Akraminia mengatakan perang baru yang mungkin terjadi juga dapat mencakup medan pertempuran lain, termasuk infrastruktur energi dan komunikasi di seluruh kawasan.

Secara khusus, dia menyinggung soal infrastruktur energi dan jalur komunikasi yang sebagian besar membentang di dasar laut pada perairan lepas pantai Iran dan Semenanjung Arab, serta melintasi Teluk Oman.

“Di mana pun musuh memiliki kepentingan, jika terjadi agresi, maka wilayah itu dapat masuk sebagai sasaran sah bagi angkatan bersenjata Republik Islam Iran,” tegasnya.

Akraminia juga mendesak Qatar meningkatkan upaya untuk mengetahui nasib tiga pilot Iran yang hilang sejak operasi udara Iran terhadap pangkalan AS di Qatar pada 2 Maret lalu.

Dua pesawat Sukhoi Iran menyerang pangkalan tersebut sebelum ditembak jatuh dalam perjalanan kembali. Jenazah satu dari empat pilot pesawat tersebut, yakni Majid Kazemi, kemudian ditemukan; sedangkan tiga lainnya masih hilang.

Qatar membantah telah menahan ketiga pilot tersebut. Qatar menyatakan tim pencarian dan penyelamatnya menemukan jasad satu pilot, tetapi tidak menemukan bukti penangkapan pilot lainnya.

Pernyataan itu disampaikan di tengah konflik Iran-AS sejak 28 Februari, setelah serangan gabungan militer AS dan Israel terhadap Iran.

Konflik kemudian meluas ke sejumlah wilayah di kawasan setelah Iran membalas dengan menyerang posisi militer AS. Perang itu kemudian melibatkan beberapa lini regional dan mengganggu lalu lintas maritim.

Iran dan AS akhirnya menandatangani nota kesepahaman (MoU) pada 18 Juni dengan mediasi Qatar dan Pakistan untuk mengakhiri pertempuran dan membuka jalan bagi perundingan.

Iran kemudian menuduh AS tidak sepenuhnya melaksanakan kesepakatan dalam MoU tersebut, sementara Qatar dan Pakistan terus melakukan upaya diplomatik antara kedua pihak.

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio telah menyampaikan kepada negara-negara sekutu bahwa Pemerintah AS saat ini tidak berencana untuk melancarkan serangan militer baru terhadap Iran.

Menurut laporan portal berita Axios dengan mengutip keterangan dari seorang pejabat AS, Rubio menekankan bahwa ke depannya Pemerintah AS akan lebih berfokus menggunakan instrumen tekanan lain terhadap Pemerintah Iran, termasuk pemberian sanksi.

Berdasarkan analisis Axios, perubahan strategi tersebut menjadi sinyal bahwa Presiden AS Donald Trump sudah lelah dengan upaya perang melawan Iran dan menginginkan agar konflik tersebut segera diakhiri.

Menteri Keuangan AS Scott Bessent pada Senin (24/8/2026) mengumumkan pemberian sanksi baru terhadap Iran yang menyasar lima sektor ekonomi utama negara tersebut, yakni penerbangan, pelayaran, teknologi, emas, dan aset digital. AS juga menjatuhkan sanksi terhadap lebih dari 60 entitas, individu, dan kapal terkait Iran.