LenteraKepri.com, Batam – Bulan depan, para pemimpin perekonomian-perekonomian Kerja Sama Ekonomi Asia-Pasifik (APEC) dijadwalkan akan berkumpul di Shenzhen untuk menghadiri konferensi tingkat tinggi (KTT) tahunan.
Tahun ini, KTT tersebut mengusung tema “Membangun Komunitas Asia-Pasifik untuk Kesejahteraan Bersama” (Building an Asia-Pacific Community to Prosper Together). Sementara Tiongkok telah menetapkan keterbukaan, inovasi, dan kerja sama sebagai tiga bidang prioritas dalam kerja sama APEC tahun ini.
Kawasan Huaqiangbei di kota tersebut, yang merupakan salah satu pasar grosir produk elektronik terbesar di dunia, memberikan gambaran nyata tentang bagaimana prioritas tersebut diwujudkan dalam dunia bisnis.
Pasar yang ramai ini lama dikenal sebagai pusat grosir komponen elektronik dan berbagai gawai murah, tetapi kini komposisi barang yang dijual bergeser ke arah produk konsumen pintar yang semakin beragam, yang mencerminkan upaya kota ini dalam mendorong inovasi digital.
Kemampuan untuk meluncurkan produk baru dengan cepat ini tumbuh berkat klaster industri yang terintegrasi dengan erat.
Dengan luas hanya 1,45 kilometer persegi, Huaqiangbei memiliki 35 pasar khusus dan lebih dari 115.000 pelaku usaha terdaftar, yang menyediakan lebih dari satu juta jenis suku cadang serta barang jadi.
Para perancang, pemasok, bengkel pembuatan prototipe, dan eksportir beroperasi dalam jarak berdekatan. Kondisi ini menciptakan lingkungan di mana gagasan produk baru dikembangkan dengan cepat, dari tahap konsep hingga masuk ke pasar.
“Dulu, pembeli asing kebanyakan datang untuk membeli aksesori elektronik,” kata Meng Hangfang, salah satu pendiri platform rantai pasokan lokal Zhipinku.
“Kini, robot pintar, perangkat AI yang dapat dikenakan, dan peralatan rumah tangga berukuran kecil sedang populer. Banyak pengunjung berdatangan tak lama setelah produk baru diluncurkan,” ujarnya.
Di dalam pasar, para wisatawan dari seluruh kawasan menjajal produk-produk anyar. Seorang pengunjung asal Vietnam menjajal model pesawat yang dikendalikan sensor, yang menarik perhatian orang-orang di sekitarnya dan merekam aksi tersebut.
Tak jauh dari sana, sekelompok wisatawan Vietnam membeli alat pijat leher portabel. Nguyen Thi Hong Ngoc mengatakan bahwa alat pijat seharga 150 yuan (1 yuan = Rp2.721), sekitar 22 dolar AS (1 dolar AS = Rp18.128), itu lebih unggul daripada produk sejenis yang lebih mahal di negaranya. Hampir semua anggota rombongannya pun membeli alat tersebut.
Data dari pihak berwenang subdistrik Huaqiangbei menunjukkan bahwa produk-produk yang berkaitan dengan AI mencapai 61 persen dari total produk elektronik di wilayah tersebut per Juli, naik dari 41 persen pada 2025.
Penjualan produk AI meningkat lebih dari 55 persen secara tahunan (year on year/yoy) dalam tujuh bulan pertama 2026. Penjualan kacamata AI meningkat dua kali lipat, sementara penjualan drone dan robot naik 60 hingga 70 persen.
Choi Minjee, seorang jurnalis dari surat kabar Kyunghyang Shinmun di Korea Selatan (Korsel) yang sebelumnya meliput industri teknologi, mengatakan bahwa dirinya terkejut melihat harga aksesori berteknologi AI yang murah di Huaqiangbei.
“Aksesori semacam itu belum banyak tersedia di Korsel, tetapi sangat mudah ditemukan di Shenzhen,” katanya. “Anda bisa langsung merasakan manfaat yang diberikan oleh rantai industri informasi elektronik kota tersebut yang lengkap dan matang.”
Konsumen luar negeri banyak memburu jam tangan pintar, headphone, konsol game, ponsel terjangkau, dan pengering rambut, serta sepeda listrik lipat dan koper pintar, kata pedagang Xiao Wenlong. Sekitar 70 persen hingga 80 persen pesanan yang diterimanya berasal dari luar negeri, terutama Eropa, Amerika Serikat, Timur Tengah, dan Asia Tenggara.
“Dulu, lebih banyak pembeli grosir dalam jumlah besar,” kata Xiao. “Kini, wisatawan asing sering menggabungkan liburan keluarga dengan kegiatan berbelanja.” Dia menambahkan bahwa kebijakan pembebasan visa dan pengembalian pajak Tiongkok telah memudahkan pembeli perorangan untuk melintasi perbatasan, sehingga mendorong pertukaran perdagangan yang lebih luas dan terbuka.
Pada paruh pertama 2026, perdagangan Shenzhen dengan anggota APEC lainnya meningkat 33 persen (yoy) menjadi 1,98 triliun yuan. Nilai tersebut mencakup hampir 70 persen dari total perdagangan luar negeri kota itu.
Huaqiangbei menyambut sekitar 750.000 kunjungan setiap harinya, termasuk lebih dari 8.000 kunjungan dari pelaku bisnis luar negeri, ujar pejabat setempat Chen Jiongwen.
Janwick Hattingh, seorang warga Afrika Selatan yang tinggal di Hong Kong, menyempatkan diri untuk melakukan perjalanan selama sehari. Dia membeli power bank, memperbaiki MacBook miliknya dan jam tangan putrinya, lalu pulang menjelang sore.
“Anda bisa menemukan apa saja di sini,” katanya. “Kalau Anda tidak bisa menemukannya di sini, berarti memang barang itu belum dibuat,” ujarnya. (red)
