Lelaki Tidak Berkata-kata tentang Cinta dan Air Mata

oleh -
Lelaki Tidak Berkata-kata tentang Cinta dan Air Mata
Lelaki tidak banyak bicara tentang cinta dan air mata (ilustrasi/AI)

Lelaki itu diam,
menyimpan hatinya di balik dada yang berdebar
seperti bumi yang menahan gemuruh gunung,
namun getarnya sampai hingga ke langit.

Ia tidak berkata-kata tentang cinta,
sebab baginya cinta adalah rahasia
yang ditulis Tuhan dalam garis-garis nasib,
bukan dalam untaian kata yang mudah runtuh
diterpa angin dunia.

Ia tidak berkata-kata tentang air mata,
sebab ada hujan yang lebih lembut dari tangisan,
ada doa yang gugur tanpa suara
di antara sepertiga malam yang sunyi.

Dalam sunyi itu ia bersujud,
menghadapkan segala rapuhnya
kepada Yang Maha Menampung
segala runtuh dan segala retak.

Sebab lelaki itu tahu,
tidak semua luka harus dipamerkan,
tidak semua cinta harus diumumkan.

Beberapa cukup diserahkan
kepada Tuhan yang Maha Menyaksikan.
Dan ketika fajar menyingkap tirai gelap,
ia berdiri lagi
bukan karena tak pernah jatuh,
melainkan karena Tangan-Nya
selalu menegakkan
setiap hati yang percaya.

Lelaki itu tidak berkata-kata,
namun langkahnya adalah ayat,
diamnya adalah tasbih,
dan cintanya
adalah doa yang tak pernah
putus menuju langit.

Denni Risman
Baloy, Batam, 12122025

Catatan Apresiatif YURNALDI : Ketika Diam Menjadi Bahasa yang Paling Jujur

Ada masa ketika dunia terlalu berisik. Setiap orang berlomba menunjukkan cinta dengan kata, memamerkan luka dengan dramatisme, dan mengekspresikan kesedihan lewat panggung-panggung kecil yang serba terbuka. Pada zaman seperti itu, puisi “Lelaki Tidak Berkata-kata tentang Cinta dan Air Mata” hadir sebagai teguran yang halus namun dalam: bahwa ada sisi manusia yang justru paling murni ketika ia memilih diam.

Puisi ini tidak sekadar menggambarkan sosok lelaki religius yang menahan kata. Ia menawarkan model kedewasaan emosional yang makin langka: kemampuan menyimpan, mengolah, dan menyerahkan rasa terdalam kepada Tuhan sebelum diserahkan kepada dunia.

Di tengah budaya oversharing—ketika setiap perasaan harus diumumkan—puisi ini mengajarkan bahwa tidak semua luka pantas dipajang, dan tidak semua cinta harus dipertontonkan.
Diam dalam puisi ini bukan ketiadaan.

Ia adalah bahasa yang tak memerlukan huruf. Ia adalah tasbih yang bergulir di ruang batin. Ia adalah pengakuan paling jujur, sebab ia tidak berurusan dengan pencitraan. Ketika sang lelaki dalam puisi itu memilih tidak berbicara tentang cinta, sesungguhnya ia sedang menjaganya. Ketika ia menahan air mata, ia tidak memutuskan untuk menjadi kuat, tetapi memilih cara yang lebih lembut—doa.

Puisi itu menunjukkan bahwa kerapuhan manusia justru menemukan sandarannya ketika disampaikan kepada Yang Maha Menampung. Ada nilai spiritual yang sangat kuat: bahwa manusia berdiri kembali bukan karena ia perkasa, tetapi karena ada Tangan Yang Tak Terlihat yang menegakkannya setiap kali ia jatuh. Ini adalah bentuk keberanian yang berbeda, yang tidak muncul dari suara lantang, melainkan dari tekad sunyi.

Catatan ini mengajak kita merenungkan ulang makna kecerdasan emosional dan spiritualitas modern. Kita dibesarkan dengan anggapan bahwa lelaki harus tegar, kuat, dan jarang menangis. Padahal puisi ini membalikkan gagasan itu dengan elegan: ketegaran justru lahir dari kemampuan mengakui rapuh, dan kerahasiaan cinta bukan tanda ketidaksanggupan, tetapi kematangan batin.

Dalam masyarakat yang setiap hari memproduksi kata—di media sosial, panggung politik, hingga ruang-ruang privat—diam menjadi barang mewah. Diam yang tidak pasif, tapi kontemplatif. Diam yang menjadi ibadah. Diam yang memelihara kedalaman.

Puisi ini memaknai kata, namun langkahnya adalah ayat;
ada manusia yang tidak bercerita tentang luka, namun sujudnya mengabarkan semuanya;
ada cinta yang tidak diumumkan, namun justru karena itu tidak pernah putus menuju langit.

Dalam dunia yang sering kehilangan keheningan, puisi ini adalah fajar kecil yang membelah gelap—mengajarkan, sekali lagi, bahwa diam pun mengingatkan:
bahwa ada lelaki yang tidak banyak berkata- bisa menjadi jalan pulang.

Padang, 12/12/2025.