LenteraKepri.com, Batam – Ekspansi pembangunan data center di Batam, Kepulauan Riau, mulai mendapat sorotan dari Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI). Industri komputasi berskala besar, termasuk infrastruktur berbasis kecerdasan buatan (AI), dinilai berpotensi meningkatkan tekanan terhadap ketersediaan air bersih masyarakat.
Kekhawatiran tersebut muncul di tengah meningkatnya kebutuhan air untuk operasional data center serta ancaman terhadap sumber daya air akibat sedimentasi waduk, perubahan iklim dan potensi kekeringan.
Pengampanye Urban Berkeadilan WALHI Nasional, Wahyu Eka Styawan, mengatakan saat ini terdapat sekitar 16 hingga 18 proyek data center di Batam, baik yang telah beroperasi maupun masih dalam tahap pembangunan.
Menurut Wahyu, pertumbuhan industri tersebut perlu diikuti dengan pengaturan yang lebih ketat karena sebagian kebutuhan air Batam masih bergantung pada waduk, termasuk Waduk Duriangkang yang menjadi salah satu sumber strategis pasokan air bagi masyarakat.
“Kita melihat kasus di Batam ini perlu menjadi perhatian serius. Infrastruktur AI dibangun di atas sumber air bersih strategis yang selama ini menopang kehidupan masyarakat,” ujar Wahyu dalam keterangan tertulis WALHI.
10 Data Center AI Bisa Habiskan 32 Juta Liter Air per Hari
WALHI memperkirakan kebutuhan air untuk sekitar 10 data center berbasis kecerdasan buatan (AI) dapat mencapai 32 juta liter per hari atau sekitar 11,68 juta meter kubik per tahun.
Besarnya kebutuhan tersebut disebut WALHI setara dengan kebutuhan air bersih sekitar 320 ribu penduduk setiap hari.
WALHI menilai angka tersebut perlu menjadi perhatian serius apabila ekspansi data center di Batam tidak diimbangi dengan kebijakan yang mempertimbangkan daya dukung dan daya tampung lingkungan.
Kondisi tersebut dinilai semakin penting karena pertumbuhan industri data center berlangsung ketika Batam juga menghadapi tantangan dalam menjaga keberlanjutan sumber air baku.
WALHI Soroti Belum Ada Aturan Khusus Data Center
Wahyu mengatakan pembangunan infrastruktur AI saat ini masih mengandalkan instrumen umum, seperti analisis mengenai dampak lingkungan (AMDAL) dan perizinan berbasis risiko.
Namun, menurut dia, belum terdapat regulasi khusus yang secara spesifik mengatur kebutuhan air dan energi industri komputasi berskala besar.
Regulasi khusus tersebut dinilai penting untuk mengantisipasi dampak kumulatif pembangunan data center, termasuk potensi konflik dalam pemanfaatan sumber daya alam.
“AI memang menjadi bagian dari perkembangan teknologi yang tidak bisa dihindari. Namun pembangunan infrastruktur AI tidak boleh mengorbankan hak masyarakat atas air dan lingkungan hidup yang sehat,” katanya.
Waduk Duriangkang Jadi Perhatian
WALHI secara khusus menyoroti keberadaan Waduk Duriangkang yang memiliki peran penting dalam menopang kebutuhan air masyarakat Batam.
Pertumbuhan kebutuhan air dari sektor industri dikhawatirkan menambah tekanan terhadap sumber air tersebut, terutama jika tidak disertai strategi pengelolaan yang berkelanjutan.
Risiko tersebut juga perlu dilihat bersamaan dengan ancaman sedimentasi waduk dan perubahan iklim yang berpotensi memengaruhi ketersediaan air baku di masa mendatang.
“Jika tidak ada pengaturan yang ketat, maka masyarakat akan menjadi pihak pertama yang terdampak ketika terjadi kemarau panjang, krisis iklim atau penurunan ketersediaan air,” tegas Wahyu.
WALHI Dorong Moratorium Data Center Baru di Batam
Untuk mengantisipasi risiko tersebut, WALHI mendesak pemerintah memperketat tata kelola pembangunan data center di Batam.
Sejumlah kebijakan yang didorong antara lain pengaturan zonasi, penerapan standar efisiensi penggunaan air dan energi, serta kewajiban pemanfaatan air daur ulang untuk kebutuhan operasional data center.
WALHI juga mendorong pemerintah mempertimbangkan moratorium pembangunan data center baru hingga tersedia regulasi khusus yang mengatur daya dukung lingkungan, perlindungan sumber air, tata ruang, keterbukaan informasi dan partisipasi masyarakat.
“Teknologi harus berkembang dalam koridor keberlanjutan ekosistem. Indonesia tidak boleh mengorbankan sumber daya air, lingkungan hidup dan kepentingan masyarakat demi mengejar investasi AI,” kata Wahyu.
