Belajar dari Pengalaman Pasca Blackout, PLN Batam Evaluasi Pagar Pengaman Gardu

oleh -
Blackout
Manager Komunikasi dan Humas PT PLN Batam, Yoga Perdana Sulastama, saat menerangkan kondisinya saat diskusi bersama PWI BAtam. (Foto: Dok)

LenteraKepri.com, Batam – Manager Komunikasi dan Humas PT PLN Batam, Yoga Perdana Sulastama, secara ksatria mengakui adanya kelemahan pada infrastruktur pengamanan fisik di perimeter luar Gardu Induk Sei Harapan hingga akhirnya menyebabkan blackout. Kondisi pagar pembatas dinilai tidak terlalu tinggi, sehingga mudah dilewati oleh satwa pemanjat seperti monyet.

“Kami harus jujur mengevaluasi diri. Kondisi pagar pembatas di area tersebut memang dinilai tidak terlalu tinggi, sehingga satwa yang memiliki kemampuan memanjat dan melompat seperti monyet dapat melewatinya dengan mudah,” ungkapnya, saat melakukan diskusi santai bersama perwakilan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Batam, Jumat (16/10/2026).

Selain tinggi pagar yang kurang ideal, PLN juga mendapati bahwa sistem pertahanan aktif berupa alat kejut listrik belum terpasang secara merata di seluruh sisi pagar. Adanya celah kosong yang belum ter-cover inilah yang diduga dimanfaatkan oleh kawanan satwa liar untuk menyusup masuk. Perbaikan perimeter kini menjadi prioritas utama agar insiden serupa tidak terulang.

Di tengah situasi tersebut, ruang digital sempat dihebohkan oleh berbagai informasi menyesatkan. Di wilayah Pulau Bintan, beredar poster digital yang mengklaim adanya pemadaman bergilir ekstrem selama 3 hari berturut-turut dengan skema menyala 6 jam sekali.

Yoga secara tegas membantah infografis dan pesan berantai tersebut.

“Kami tegaskan bahwa informasi pemadaman terencana selama 3 hari berturut-turut dengan skema menyala 6 jam itu adalah murni hoaks,” tegas Yoga.

“PLN Batam maupun unit pelayanan di Bintan tidak pernah merancang atau mengeluarkan kebijakan pemadaman ekstrem seperti itu,” imbuhnya.

Sementara itu di Kota Batam, ruang publik sempat dihebohkan oleh rumor adanya ledakan besar pada pipa gas atau kabel transmisi di dalam laut. Terkait isu tersebut, Yoga memastikan hal tersebut sepenuhnya tidak benar.

“Isu mengenai ledakan di dalam laut juga sepenuhnya tidak benar dan tidak berdasar,” ujar Yoga.

“Tidak ada infrastruktur interkoneksi bawah laut kita yang meledak atau hancur. Sumber gangguan tunggal murni berasal dari kejadian di Gardu Induk Sei Harapan,” pungkasnya.

Sebelumnya, PLN Batam akhirnya membeberkan alasan di balik lambatnya penyampaian rincian kasus pemadaman total (blackout) yang melanda wilayah Batam dan Bintan.

Berbeda jauh dengan penanganan insiden serupa pada tahun 2023 silam, Manager Komunikasi dan Humas PT PLN Batam, Yoga Perdana Sulastama, menjelaskan bahwa seluruh proses penyelidikan insiden kali ini telah diserahkan sepenuhnya ke Bareskrim Mabes Polri.

“Kondisinya sangat bertolak belakang dengan pemadaman total pada tahun 2023,” ujar Yoga, Jumat (16/10/2026).

“Pada blackout masa lalu, seluruh proses investigasi teknis murni diambil alih, dikelola, dan diaudit dengan cepat membuahkan hasil dan mengetahui pasti penyebab utamanya,” imbuhnya.

Pada peristiwa kali ini, kata Yoga, pihak PLN baru sebatas mengetahui pemicu awalnya (trigger), yakni adanya kontak fisik satwa pada komponen gardu induk.

Sementara itu, penyebab sistemik utama mengapa pemicu kecil tersebut bereskalasi menjadi kelumpuhan sistem total belum diketahui pasti hingga Bareskrim turun tangan.

No More Posts Available.

No more pages to load.