LenteraKepri.com, Kepri – Setelah sekian lama situasi di Gaza mencekam, akhirnya angin segar didapat masyarakat Palestina. Israel dan kelompok perlawanan Hamas di Palestina sepakat melakukan gencatan senjata di Gaza pada Rabu (15/1/2025) waktu setempat.
Gencatan senjata itu bakal berlaku efektif pada Minggu (19/1). Durasi gencatan senjata Israel dan Hamas tersebut akan dilakukan selama enam pekan di Gaza untuk fase pertama.
Pejabat Hamas menyebut kesepakatan gencatan senjata Gaza sebagai keuntungan besar yang mencerminkan sejarah yang telah dicapai melalui keteguhan Gaza, rakyatnya, dan keberanian perlawanannya.
“Ini juga merupakan penegasan kembali kegagalan penjajahan untuk mencapai salah satu tujuannya,” kata Sami Abu Zuhri kepada Reuters.
Baca: Sehari Curi Dua Sepeda Motor, David Diciduk Polsek Lubukbaja Hendak ‘COD’ di Pelita
Dilansir dari CNN Indonesia yang mengutip media CNN, Perdana Menteri Qatar Mohammed bin Abdulrahman Al Thani menyatakan gencatan senjata akan dibagi dalam tiga fase.
Pada gencatan fase pertama yang akan berlangsung selama 42 hari, Israel sepakat akan menarik mundur pasukan militer di Gaza, pertukaran sandera dan tahanan, dan mengizinkan bantuan kemanusiaan masuk ke Gaza.
Kedua belah pihak juga akan melakukan pertukaran sandera dan tahanan. Hamas siap membekaskan 33 sandera, terdiri dari perempuan dan anak-anak atau remaja. Sedangkan Israel akan melepas sejumlah tahanan selama fase pertama gencatan senjata.
Baca: Mobilisasi Tinggi, BP Batam Imbau Pengendara Tak Parkir di Jembatan Barelang
Sementara itu, fase kedua dan ketiga belum bisa dipastikan detailnya. Perdana Menteri Qatar Mohammed bin Abdulrahman Al Thani mengatakan kedua fase itu akan disampaikan lebih detail pada pelaksanaan fase pertama gencatan senjata.
“Kami akan melanjutkan upaya apapun yang kami mampu, semua hal mungkin terjadi akan diusahakan oleh para mitra kami untuk memastikan kesepakatan ini segera dilaksanakan,” tutur Mohammed Al Thani seperti dikutip dari CNN.
“Semoga saja pada akhirnya, kesepakatan ini akan membawa kita pada perdamaian. Saya percaya bahwa semua itu tergantung pada pihak-pihak yang terlibat dalam kesepakatan dengan iktikad baik dan memastikan tidak ada kegagalan pada kesepakatan itu,” ia menambahkan.
