Puisi YURNALDI
Di Jakarta,
kata-kata lebih cepat dari bantuan.
Rapat lebih deras dari banjir.
Pendingin ruangan bekerja sempurna
sementara negara
masuk angin moral.
NKRI Harga Mati!
teriakmu nyaring,
tapi aneh—
teriakan itu
tidak bisa
mengangkat satu pun karung beras
ke desa yang terisolasi.
Di Aceh,
air bah tidak menunggu konferensi pers.
Longsor tidak peduli
apakah status bencana sudah naik kelas.
Anak-anak tidak paham
apa beda “nasional”
dan “daerah”.
Mereka hanya paham
perut kosong.
Air kotor.
Ibu yang gemetar
karena tak tahu
besok makan apa.
Sementara itu,
negara sibuk menghitung:
siapa berwenang,
siapa tanda tangan,
siapa takut salah prosedur.
Prosedur!
Kata suci yang lebih dijaga
daripada nyawa manusia.
Ketika Bupati berteriak
rakyatnya mencuci beras
dengan air sungai berlumpur,
Jakarta masih bertanya:
“Apakah ini sudah layak
disebut darurat?”
Apa lagi yang kalian tunggu?
Mayat?
Epidemi?
Atau foto viral
baru kalian percaya
bahwa Aceh tidak sedang berdrama?
Lalu Aceh mengambil keputusan
yang kalian benci:
memanggil PBB.
UNDP.
UNICEF.
Dan kalian tersinggung.
Seolah-olah
yang dilukai itu
harga diri negara,
bukan perut anak-anak.
Kalian teriak kedaulatan
sambil membiarkan rakyat
mengemis keselamatan
ke dunia luar.
Munafik.
Jika negara ini begitu berdaulat,
mengapa logistik lebih cepat datang
dari lembaga asing
daripada dari republik
yang katanya satu?
Jangan sembunyi
di balik kata “asing”.
Masalahnya bukan mereka datang.
Masalahnya kalian tidak datang.
Di laporan pusat,
semua tampak terkendali.
Grafik naik.
Distribusi berjalan.
Koordinasi solid.
Di lapangan,
jembatan putus.
Jalan hancur.
Bantuan menumpuk
di gudang
karena laporan sudah telanjur
membuat penderitaan
terlihat jinak.
Inilah wajah asli
budaya Asal Bapak Senang:
rakyat boleh tenggelam,
asal grafik tidak rusak.
Nasionalisme macam apa
yang alergi pada bantuan asing
tapi kebal terhadap jeritan rakyat sendiri?
Bagi seorang ibu di tenda pengungsian,
NKRI tidak terasa “harga mati”.
Yang terasa justru:
negara mahal,
dan sulit diakses.
Ia tidak peduli
logo di selimut.
Ia tidak peduli
asal susu itu dari siapa.
Ia hanya ingin
anaknya hidup.
Dan jika itu datang
dari UNICEF,
sementara negara sibuk
mengatur redaksi pidato—
maka jangan salahkan Aceh
jika memilih hidup
daripada setia pada retorika.
Buka lagi konstitusi itu!
Baca keras-keras,
kalau perlu sambil berkaca:
Melindungi segenap bangsa Indonesia
dan seluruh tumpah darah Indonesia.
Melindungi—
bukan sekadar menjaga wibawa.
Bukan sekadar menolak bantuan asing.
Melindungi artinya hadir
saat rakyat nyaris mati.
Hari ini,
Aceh memberi kalian cermin.
Dan pantulan di sana
tidak gagah.
Jika negara kalah cepat
dari PBB
dalam menyelamatkan warganya sendiri,
maka berhentilah berteriak
tentang harga mati.
Karena kedaulatan
yang tidak menyelamatkan nyawa
adalah slogan kosong.
Aceh sudah memilih:
hidup sekarang,
urusan gengsi nanti.
Dan sejarah
akan mencatat
siapa yang sibuk berpidato,
dan siapa yang benar-benar
menyelamatkan rakyat.
Padang, 15/12/2025
YURNALDI adalah wartawan utama dan penyair/sastrawan Indonesia yang sudah lebih 40 tahun berkarya. Pernah bertugas saat Darurat Militer, Pasca tsunami Aceh, masa darurat sipil, masa damai. Disandera GAM, dilepas, dan diundang Panglima GAM Ishak Daud, 2004.
