Sajak rumahitam: Senandung Hutan Bukit dan Gunung-gunung

oleh -
oleh
Senandung Hutan Bukit dan Gunung-gunung
Tarmizi, Presiden Komunitas Seni Rumahitam (dr)

senandung hutan bukit dan gununggunung

Bismillahirrahmanirrahim
salam pada alam, langit dan bumi
salam sumatera luka

tuan

jangan kata ini bencana yang datang tibatiba, ini adalah senandung hutan bukit dan gununggunung, menenggelamkan kampungkampung, merenggut nyawanyawa, menyita harap anak cucu saudaraku bangsa sumatera

banjir bandang, tanah longsor, kayukayu yang terpotongpotong sebelum sempat digotong ke kantongkantong cukong yang saling berkedip mata dengan pemegang tahta dan kuasa, berserakan menimpa rumahrumah kami, menimbun jasadjasad kerabat saudara kami.

kami yang tersisa mencoba menjaga kampung kami dengan bekal seadanya, lapar dan dahaga kamipun mulai lupa serupa apa rasanya. sebab bencana telah lama menempa kami tumbuh dewasa

oi

kalian yang lebih iblis dari iblis, tak pernah kenyang dan selalunya menebang, menggali tambang beratusratus lobang. kini kampungkampung kami hilang. apakah kalian senang gembira riang?

cukongcukong yang saling berkedip matta dengan pemegang tahta dan kuasa, kalian lebih syaiton dari pada syaiton. sebab para syaiton tak pernah mau mengorbankan sesama syaiton, tapi tak mengapa, kalian lelaplah tidur di sana, di ranjangrangjang empuk, di ruangruang berpendingin, tersenyum menyaksikan derita kami.

kami yang masih tersisa dari senandung hutan bukit dan gununggunung, jangan kira kami termenung, tapi kami sedang merenung memilah untung. kami akan kembali membangun kampungkampung kami, mengalihkan tanah-tanah lumpur depan rumah yang tersisa. menumpukan kayu dan batubatu yang kemarin menyapa murka. kalian tak usah cemas, kami teramat dewasa dengan bencana, tak usah kalian risau.

oi

nanti setelah kampungkampung kami benahi, kalian boleh datang dan bertandang lagi. lalu ke hutan bukit dan gununggunung kami kalian kembali menebang. kami akan sambut kalian dengan senyumsenyum mengambang.

oi hari boleh jadi anakanak kami tak bisa sekolah, tak bisa bercanda di teras rumah. tapi tunggulah, beberapa masa kemuka, anakanak kami yang kini lapar dan dahaga, akan menjelma tukang cerita paling sempurna, mendedah kesah orangorang serakah.

oi

hari ini kami lapar tapi tak benarbenar mengenali rasanya. hari ini kami dahaga, tapi kami pun tak tau sesempurna apa rasa hausnya. begitulah, ketika derita itu tak dapat diurai katakata, sebab semesta tak pernah salah membelai penghuninya.

oi

bacalah gelondongan kayu yang kalian sebut tumbang sendiri, gelondongan itu terpotongpotong rapi. mungkinkah banjir bandang itu menjelma setajam sinso dan gergaji, piawai memotong sempurna molek dan rapirapi.

oi

bacalah fakta tanah, bebatuan dan air lumpur yang kemarin datang menggempur, membuat kampungkampung kami hanyut dan terkubur. lalu kalian datang menghibur, datang dengan tangis dan sekarung beras. ada juga yang datang memodifikasi cuaca, datang dengan momentum yang tak santun. ada yang menyebut realita tidak mencekam serupa tayangantayangan media. ada yang singgah minta memohon maaf, eh adaada sahaja, tempoyak belacan kalian para pembengak.

oi

tak ada sajak indah yang dapat kudedah untuk kalian orangorang serakah. bukan karena banyaknya hanyut rumah, dan kerabat saudaraku yang dibawa arus banjir entah di mana muaranya, sedang senandung hutan bukit dan gununggunung tetap sahaja kami yang menanggung. dan kalian hanya fasih menghitung untung

tarmizi rumahitam
lamankata rumahitam, awal desember 2025