LenteraKepri.com, Batam – Deru mesin meraung di Sirkuit Ayrton Senna, Moto GP Brasil, Minggu (22/3/2026). Lampu start padam dan dalam sekejap, segalanya berubah menjadi adu nyali di atas lintasan panas.
Di antara deretan pembalap muda dunia, satu nama dari Indonesia melesat: Veda Ega Pratama.
Start dari posisi keempat, Veda tak butuh waktu lama untuk menunjukkan taringnya. Lap pertama belum usai, ia sudah berada di posisi ketiga. Agresif, berani, dan tanpa ragu.
Namun, balapan belum benar-benar dimulai.
Lap demi lap berjalan, tensi meningkat. Satu per satu pembalap saling menyalip, memperebutkan setiap inci lintasan. Lalu, perlahan tapi pasti, Veda mulai kehilangan ritme.
Posisinya merosot.
Kelima… ketujuh… hingga akhirnya terlempar ke posisi ke-10.
Di titik itu, harapan seolah menjauh.
Di layar, namanya tak lagi terlihat di barisan depan. Di lintasan, ia tertelan dalam kerumunan pembalap yang saling berebut posisi. Podium terasa seperti mimpi yang perlahan memudar.
Namun balapan, seperti hidup, tak pernah bisa ditebak.
Lap ke-15 menjadi titik balik segalanya.
David Almansa—yang memimpin sejak awal—jatuh. Insiden itu seperti membuka kembali pintu yang hampir tertutup. Peta persaingan berubah drastis.
Dan di situlah Veda melihat celah.
Satu per satu pembalap mulai disalip. Manuvernya tajam, pergerakannya presisi. Ia bukan lagi pembalap yang tercecer—ia kembali menjadi pemburu.
Lap-lap terakhir berubah menjadi pertarungan tanpa ampun.
Di depan, Maximo Quiles mulai menjauh. Marco Morelli bertahan di posisi kedua. Namun perebutan posisi ketiga menjadi medan perang.
Dua lap tersisa.
Veda menempel ketat. Mesin meraung lebih keras. Tikungan demi tikungan dilahap tanpa kompromi. Lalu, di momen krusial ia menyalip.
Bersih. Berani. Menentukan.
Ketika garis finis semakin dekat, satu hal menjadi jelas: sejarah sedang ditulis.
Veda Ega Pratama melintasi garis finis di posisi ketiga.
Podium.
Bukan sekadar podium biasa, ini adalah podium pertama untuk Indonesia di kelas grand prix Moto3.
Di parc fermé, suasana berubah. Sorak sorai pecah. Namun di tengah euforia itu, Veda justru terlihat diam sejenak.
Saat diwawancarai, suaranya terbata.
“Ini… pencapaian terbesar saya,” katanya pelan.
Di balik helm dan balapannya, ada seorang anak bangsa yang baru saja mengubah sejarah.
Dari posisi ke-10… ke podium dunia Moto GP.
Dan mungkin, ini baru permulaan.






