LenteraKepri.com, Batam – Di setiap panggung puisi yang disinggahinya, dari Sumatera hingga Jawa, dari Kalimantan sampai Singapura, Malaysia, Thailand, dan Brunei, Tarmizi selalu hadir dengan satu penanda yang tak pernah absen: tanjak di kepala.
Ia bukan sekadar penyair yang membacakan sajak. Ia adalah penyair yang membawa identitas.
“Waktu itu tanjak belum ramai orang pakai,” kenangnya. “Tapi ke mana pun saya baca puisi, saya selalu bertanjak.”
Awalnya bukan untuk dijual. Tanjak hanyalah bagian dari jalan budaya yang ia pilih. Namun setiap kali turun dari panggung, selalu ada permintaan yang sama.
“Bang, aku pakai tanjaknya ya…”
Permintaan itu terus berulang, di Medan, di kota-kota lain, di berbagai pertemuan sastra. Dari situlah, sekitar awal 2010-an, Tarmizi mulai melihat satu kemungkinan: tanjak bukan hanya simbol budaya, tapi juga peluang hidup.
Namun ia belum tergesa. Saat itu, dunia Tarmizi masih penuh dengan puisi dan berita. Ia aktif sebagai penyair dan bekerja sebagai wartawan Harian Lantang. Bisnis belum menjadi tujuan utama, budaya tetap di depan.

Baru tujuh tahun kemudian, pada 2017, jalan itu benar-benar dipilih.
Bersama sang istri, Efmilia, yang memiliki keterampilan menjahit, Tarmizi mulai serius menggarap tanjak. Modal awalnya sederhana: 10–20 helai tanjak. Produksi rumahan, dikerjakan berdua.
Dua tahun pertama, mereka hanya fokus membuat tanjak. Memasuki tahun ketiga, usaha itu berkembang. Busana Melayu mulai digarap, baju teluk belanga, persalinan, hingga muncul gagasan yang lebih berani: memodernisasi produk budaya Melayu.
“Songket itu produk kebudayaan. Kenapa tidak dikembangkan?” ujarnya.
Lahirlah jas songket, jaket, hingga jasket—jas dengan gaya jaket. Pasar lokal menyambut. Media sosial menjadi panggung baru: YouTube, Instagram, Facebook.
Permintaan berdatangan.

Ketika usaha tanjak lain bermunculan dengan harga murah, Bengkel Tanjak Rumahitam mengambil jalan berbeda. Mereka memilih kualitas, bukan perang harga.
“Orang jual Rp150 ribu, saya jual Rp300 ribu. Tapi orang tetap datang,” kata Tarmizi.
Baginya, tanjak adalah martabat. Ia tak bisa diturunkan nilainya sembarangan.
Tahun 2021 menjadi titik balik besar. Rezeki datang dari seberang Selat Malaka. Seorang pembeli dari Kuala Lumpur tertarik memasarkan produk Tanjak Rumahitam di Malaysia setelah menonton video YouTube mereka.
Yang menarik perhatian adalah tanjak kreasi baru: tanjak harian.
Tarmizi mengampanyekan satu pesan sederhana tapi kuat:
“Lupakan topi, gunakan jati diri.” Topi bukan produk Melayu, tanjak adalah jati diri Melayu.
Kini, Tarmizi bukan hanya berbicara tentang sajak. Ke mana pun ia pergi, ia berbicara tanjak.
Produksi Tanjak Rumahitam telah memberdayakan 13 keluarga di sekitar Sekupang. Sistem kerjanya gotong royong: bahan diambil dari Rumahitam, dikerjakan di rumah masing-masing, lalu difinishing di bengkel utama.
Saat ini, mereka mengerjakan pesanan besar dari Johor Bahru: 15.000 helai tanjak.
Setiap keluarga bisa memperoleh penghasilan Rp20–26 juta per order, angka yang mengubah kehidupan banyak orang.
Harga tanjak di Rumahitam bervariasi. Yang termurah Rp120 ribu untuk tanjak hitam polos. Yang termahal bisa mencapai Rp8 juta, tergantung desain dan bahan. Bahkan, pernah membuat satu set lengkap, baju, celana, samping, dan tanjak, untuk seorang menteri, senilai Rp17 juta.
Jenis tanjak seperti Solok Timbo dan Dendam Tak Sudah dibuat khusus untuk tokoh tertentu. Perbedaan simpul kanan untuk umum, kiri untuk bangsawan, menjadi penanda nilai dan filosofi.
Kini, Bengkel Tanjak Rumahitam berdiri di Jalan R.E. Martadinata, Sekupang. Nama “Rumahitam” berasal dari dunia puisi Tarmizi, juga nama komunitas seninya, tempat para penggiat seni berkumpul dan berkreasi.
Dari usaha rumahan berdua istri, kini Rumahitam telah mempekerjakan banyak warga sekitar. Logo, desain, dan produknya telah dipatenkan sebagai UMKM.
Di rumah, nilai budaya itu mengalir ke anak-anaknya. Dua putra Tarmizi; Sapa Saya Sultan dan Sapa Saya Raja, telah akrab dengan dunia seni. Yang sulung gemar menulis puisi, yang bungsu memainkan piano dan gitar. Keduanya bahkan sudah bisa membuat tanjak.
“Kalau kerjaan banyak, mereka ikut bantu. Dan mereka dibayar seperti pekerja lain,” ujarnya.
Sang istri, Efmilia, kini lebih fokus pada administrasi dan keuangan. Peran menjahit tak lagi seberat dulu.
Bagi Tarmizi, tanjak bukan sekadar penutup kepala. Ia adalah mahkota kain, lambang martabat. Cara orang Melayu memuliakan kepala dan isinya.
“Secara fisik, kepala terlindung. Tapi yang paling penting, pikiran ikut terjaga,” katanya.
Bertanjak, menurutnya, adalah berpikir yang baik-baik. Jika belum mampu berpikir baik, jangan dulu memakai tanjak.
Ia percaya, pemimpin yang bertanjak seharusnya menjaga akal budi.
Sebagai seniman, Tarmizi merasa punya kewajiban menjaga peradaban. Membuat tanjak adalah caranya berkampanye—bahwa budaya ini luhur, mulia, dan bisa menghidupi banyak orang.
“Tanjak itu lambang martabat,” tegasnya.
Dari ikat kepala sederhana di kampung-kampung, tanjak berkembang melalui akal budi. Nama-nama seperti Dendam Tak Sudah bukan dendam dalam arti negatif, melainkan semangat pantang menyerah—hidup yang selalu punya peluang.
Dan di Bengkel Tanjak Rumahitam, sajak tak lagi hanya dibacakan di panggung. Ia dijahit, diproduksi, dipakai dan hidup di kepala banyak orang.
“Karena di panggung seni, sering kali kita menghabiskan uang,” kata Tarmizi sambil tersenyum.
“Tapi dari tanjak, seni justru menghidupi.”








