LenteraKepri.com, Batam – Istilah ‘Sijori’ tentunya tidak asing lagi di telinga masyarakat Kepulauan Riau (Kepri). Sebab, Sijori sendiri memiliki kepanjangan Singapura, Johor (Malaysia) dan Kepulauan Riau (Indonesia), dulunya masih berada di bawah Provinsi Riau, yang merujuk pada kerjasama tiga negara. Didirikan pada tahun 1994, atau lebih dikenal sebagai Segitiga Pertumbuhan Sijori.
Ini merupakan inisiatif untuk meningkatkan kerjasama ekonomi dan integrasi di antara ketiga wilayah tersebut. Fokusnya adalah memperbaiki infrastruktur, transportasi, dan saluran komunikasi untuk meningkatkan perdagangan dan investasi. Letak geografis yang dekat dari ketiga wilayah ini membuatnya cocok untuk upaya kolaboratif guna mengoptimalkan potensi ekonominya.
Wilayah Sijori terletak secara strategis, dengan Singapura sebagai pusat keuangan global dan perdagangan utama di kawasan tersebut, Johor memiliki basis industri dan proyek pembagunan yang kuat, dan Kepulauan Riau memiliki kekayaan akan sumber daya alam dan beberapa pulau yang telah menjadi pusat kegiatan pariwisata seperti di pulau Batam dan di pulau Bintan. Kerjasama di kawasan ini berpotensi menciptakan zona ekonomi yang lebih dinamis.
Baca: Duta Besar Australia Lawatan ke Batam, Tingkatkan Hubungan Kemitraan dan Investasi
Hanya saja, seiring perjalanan waktu kerjasama Sijori mulai meredup. Fokus kerjasama mulai bergeser dan intensitas kerjasama antar ketiga wilayah tersebut mulai berkurang. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi, salah satunya perubahan fokus pembangunan. Singapura mulai fokus pada pembangunan internal dan diversifikasi ekonomi, sementara Johor dan Kepri juga mengembangkan potensi masing-masing.
Faktor lain, munculnya inisiatif kerjasama lain di tingkat regional, seperti IMS-GT (Indonesia-Malaysia-Singapura Growth Triangle), yang kemudian menggantikan Sijori. Selain itu, masing-masing negara dan wilayah memiliki prioritas pembangunan yang berbeda, sehingga fokus kerjasama Sijori mulai terbagi.
Meskipun demikian, upaya untuk menghidupkan kembali kerjasama Sijori masih terus dilakukan. Gubernur Kepulauan Riau Ansar Ahmad, pernah menyuarakan wacana kebangkitan Sijori, dengan harapan dapat mengoptimalkan potensi ekonomi dan pembangunan di ketiga wilayah tersebut.
Hal senada pun, juga tengah diupayakan Konsul Jenderal Republik Indonesia di Johor Bahru, Sigit Suryantoro Widiayanto. Saat ini, ia sendiri menyaksikan bagaimana pesatnya perkebangan kerjasama yang dilakukan Malaysia dengan Singapura. Salah satunya ialah pembangunan Rapid Transit System (RTS) Link Johor Bahru-Singapura.
RTS sendiri merupakan proyek jalur kereta api yang bertujuan untuk menghubungkan langsung Johor Bahru di Malaysia dengan Singapura, mengurangi kemacetan di Causeway, dan meningkatkan konektivitas lintas batas. Proyek ini diperkirakan akan beroperasi pada akhir tahun 2026.
Baca: Masjid Istiqomah Salurkan Bantuan Kemanusiaan untuk Palestina
“Ini memperlihatkan bahwa kerjasama antara Sijo (Singapura-Johor) masih terus terjalin. Nah bagaimana dengan kita atau katakanlah dalam istilah itu Kepulauan Riau sebagai ‘ri’ nya? Perkembangan di Johor saat ini jangan kita jadikan sebagai ancaman. Namun kita harus bisa mengambil manfaatnya, sehingga kerjasama tiga negara yang disebut Sijori itu bisa tumbuh kembali,” ujar Sigit, kepada perwakilan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kota Batam, yang menggelar kegiatan Safari Jurnalistik di kantor Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Johor Bahru, Kamis (3/7/2025).
Gesa Pengoperasian Roro Batam-Johor
Pihaknya saat ini juga terus berupaya menumbuhkan kerjasama tersebut. Salah satunya, dengan mendorong rencana pembukaan jalur pelayaran roll-on/roll-off (roro) Batam-Johor, Malaysia, yang telah digagas sejak dua tahun lalu bisa segera terealisasi. Ini menjadi langkah awal Sijori lahir kembali.
Rute roro Batam-Johor direncanakan akan menghubungkan Terminal Bintang 99 Persada Batam dengan Pelabuhan Tanjung Belungkor di Johor. Estimasi jarak antar pelabuhan adalah 49,68 km, menjadikannya jalur yang efisien untuk transportasi laut kedua negara. Pelabuhan Bintang 99 Persada memiliki akses yang dekat dengan pusat perdagangan Batam dan dibekali sarana dan prasarana yang mumpuni.
Tanjung Belungkor sebelumnya berfungsi sebagai jalur laut menuju Singapura, namun berhenti beroperasi sejak 2019 dan terhenti sepenuhnya akibat pandemi COVID-19. Kini, pelabuhan itu siap difungsikan kembali dengan tujuan baru, yakni Batam.






