LenteraKepri.com, Batam – Angin segar berembus dari Pulau Rempang, Batam, Kepulauan Riau. Menteri Transmigrasi M Iftitah Sulaiman Suryanagara menyalurkan 16 unit kapal nelayan kepada warga setempat sebagai langkah konkret menggerakkan ekonomi masyarakat sekaligus memperkuat iklim investasi di kawasan tersebut.
Penyerahan bantuan dilakukan bertepatan dengan perayaan Tahun Baru Imlek di Batam, Selasa (17/2/2026). Iftitah menegaskan, bantuan kapal nelayan ini bukan sekadar kompensasi, melainkan upaya nyata agar masyarakat Rempang memiliki sumber penghasilan berkelanjutan.
“Sebanyak 16 kapal nelayan sudah kami serahkan. Harapannya, warga tidak hanya pindah ke tempat baru, tetapi juga memiliki pekerjaan yang terus menghasilkan pendapatan demi kesejahteraan,” ujarnya.
Rempang sebelumnya sempat menjadi sorotan nasional akibat penolakan warga terhadap proyek Rempang Eco City yang masuk daftar Proyek Strategis Nasional (PSN). Namun, Iftitah memastikan situasi kini jauh lebih kondusif.
Ia menilai, kondisi yang semakin damai akan berdampak langsung pada meningkatnya kepercayaan investor ke Batam, termasuk Rempang.
“Dalam satu tahun terakhir situasinya jauh lebih damai dan nyaman. Ini menciptakan iklim investasi yang positif, dan itu yang akan terus kami bangun,” katanya optimistis.
Rempang Eco City
Tak hanya menyalurkan bantuan, Iftitah juga meninjau langsung rumah relokasi Rempang Eco City sebagai bagian dari arah baru kebijakan transmigrasi.
Ia menekankan bahwa konsep transmigrasi ke depan akan kembali ke tujuan awal, yakni mendukung industrialisasi di luar Pulau Jawa.
“Transmigrasi harus back to basic. Industri dibangun terlebih dahulu, baru masyarakat ikut tumbuh di sekitarnya, bukan sebaliknya,” tegasnya.
Menurut Iftitah, Rempang dipilih karena memiliki potensi industri besar, terutama manufaktur berbasis pasir silika untuk produksi kaca. Pemerintah pusat sendiri telah menyetujui investasi sebesar Rp198 triliun, bahkan nilainya diprediksi melonjak hingga lebih dari Rp300 triliun.
Jika seluruh rencana berjalan sesuai target, kawasan industri Rempang diperkirakan mampu menyerap hingga 85.000 tenaga kerja dalam lima tahun ke depan, sekaligus berpotensi menghapus angka pengangguran di Kepulauan Riau yang saat ini berada di kisaran 70.000 orang.
“Kami tidak ingin sekadar memindahkan masyarakat. Tujuan utamanya adalah membangun kehidupan yang lebih baik dengan ekosistem ekonomi yang berkelanjutan,” pungkas Iftitah.
Langkah ini menegaskan komitmen pemerintah menjadikan Rempang bukan hanya kawasan industri baru, tetapi juga titik tumbuh ekonomi dan kesejahteraan masyarakat Batam ke depan.
