LenteraKepri.com, Batam – Sejarah Indonesia, banyak bersumber dari catatan kolonial. Sementara catatan sejarah dari era pra kolonial, seperti catatan dan buku-buku di era kerajaan-kerajan sebelum ditaklukkan, sangat minim sekali dijadikan menjadi literasi sejarah.
Minimnya catatan sejarah masyarakat dan kerajaan-kerajaan Islam di Sumatera, sebelum dianeksasi kolonial Belanda. Pastinya banyak menyimpan catatan kondisi sosial, budaya dan agama, serta kondisi kehidupan masyarakat waktu itu.
Salah satu sebab, minimnya catatan pra kolonial, disebabkan Kolonial Belanda, Ingris, Spanyol, dan Portugis, melakuka penjarahan dan pembakaran arsip-arsip serta buku-buku catatan kerajaan-kerajaan taklukkannya.
Meski demikian, adaa juga buku-buku sejarah yang ditulis orang-orang Eropa di masa kolonial, seperti buku karya William Marsden, berjudul ‘Sejarah Sumatra’, atau ‘The History of Sumatra’, bercover benteng Marlborough (Fort Marlborough), di Bencoolen (sekarang Bengkulu), (juga ada beberapa buku dengan cover berbeda), yang diterbitkan Komunitas Bambu.
William Marsden (16 November 1754 – 6 Oktober 1836), berasal dari Irlandia, dan semula bekerja sebagai pegawai pada perusahaan Hindia Timur Britania (EIC) di Fort Marlborough, Bencoolen.
Ia menerbitkan buku Sejarah Sumatra (penulisan sekarang Sumatera) pertama kali pada tahun 1783. Marsden menulis buku itu berdasarkan pengamatan langsung sejak tahun 1771, di usia 16 tahun, ketika bertugas Bencoolen.
Selain dari pengamatan langsung, ia juga memperoleh bahan tulisan dari catatan-catatan kolonial, dan keterangan masyarakat setempat. Sementara sejarawan asal Selandia Baru, Anthony Reid, penulis buku Sumatera Tempoe Doloe: Dari Marco Polo Sampai Tan Malaka, yang juga diterbitkan Komunitas Bambu, lebih mendasarkan penulisan pada catatan kolonial, dan studi pustaka.
Dalam buku-buku itu, ada catatan tentang kanibalisme di Becoolen, dan di Tanah Batak, yang hanya bersumber dari catatan kolonial, ketika menginvasi pendalaman daerah itu. Semenntara, dari catatan pra kolonial, seperti catatan Islam, dan kerjaan, belum ditemukan catatan mengenai praktek kanibaisme yang dimaksud.
Marsden dan Anthony, mencatat bahasa Melayu dipergunakan secara luas sebagai bahasa pengantar dalam perdagangan, tertutama di pelabuhan-pelabuhan dagang di kerajaan-kerajaan dan daerah-daerah taklukan VoC dan Kolonial Belanda, serta kantor dagang EIC di Sumatera.
Dalam buku Sejarah Sumatera, Marsden mampu membawa pembaca, dari sudut pandangnya, untuk mengetahui kondisi sosial, budaya, agama dan kepercayaan, ekonomi, perdagangan beras, suasana perkampungan di Sumatera, rumah, perhiasan, sistim dan cara peftanian-perkebunan masyarakat Sumatera.
Marsden juga mencatat suku-suku di Sumatera, produk perkebunan, jenis rempah-rempah, pakaian yang digunakan sehari-hari masyarakat, catatan jenis-jenis flora dan fauna endemik Sumatera, dan banyak hal lain, seperti makanan, cara berdagang masyarakat, perang dan penaklukan kolonial di daerah jajahan.
