LenteraKepri.com, Batam – Rencana membuka jalur kapal Roll-on/Roll-off (RoRo) Batam–Johor mulai menemukan titik terang. Permintaan dari kalangan pelaku usaha disebut cukup menjanjikan, bahkan muncul harapan agar kapal dapat segera beroperasi.
Namun, jangan buru-buru berharap bisa membawa mobil dari Batam langsung ke Malaysia. Rute internasional tersebut masih berada dalam tahap kajian dan belum memasuki fase operasional.
PT ASDP Indonesia Ferry masih menghitung potensi pasar sekaligus mempersiapkan berbagai kebutuhan sebelum layanan tersebut benar-benar diluncurkan.
General Manager PT ASDP Indonesia Ferry Cabang Batam Reno Yulianto mengatakan, potensi permintaan terlihat setelah pihaknya melakukan diskusi dengan pelaku usaha dari Batam dan Johor melalui focus group discussion (FGD).
“Dari situ kita lihat permintaannya cukup baik. Pelaku bisnis juga berharap kalau memungkinkan kapal bisa segera beroperasi,” ujar Reno di Batam, Selasa (1/9/2026).
Bukan Hanya Penumpang, Kendaraan Juga Bisa Ikut
Yang membuat rencana ini menarik adalah konsep RoRo yang berbeda dengan layanan feri penumpang pada umumnya.
Kapal RoRo dirancang agar kendaraan dapat masuk langsung ke kapal melalui ramp. Setelah tiba di pelabuhan tujuan, kendaraan kemudian keluar kembali tanpa harus memindahkan muatan dari kendaraan.
Dengan konsep tersebut, rute Batam–Johor nantinya tidak hanya berpotensi membawa penumpang, tetapi juga kendaraan dan barang dalam skala tertentu.
Rute yang dirancang akan menghubungkan Pelabuhan Bintang 99 Persada di Batam dengan Terminal Feri Tanjung Belungkor di Johor.
Jarak kedua pelabuhan tersebut sekitar 27 mil laut.
Jika terealisasi, konektivitas ini berpotensi menjadi alternatif baru bagi wisatawan maupun pelaku usaha yang membutuhkan akses lintas batas melalui jalur laut.
Peluang Besar Justru Ada di Pariwisata
ASDP melihat setidaknya dua sektor yang berpotensi menjadi penggerak rute tersebut, yakni pariwisata dan logistik.
Bagi sektor pariwisata, layanan RoRo bisa memberikan opsi berbeda bagi wisatawan yang ingin bepergian ke Johor dengan membawa kendaraan.
Sementara dari sisi logistik, kapal ini dapat melayani kendaraan dan muatan berkapasitas menengah.
“Pariwisata, kemudian logistik,” kata Reno.
Ia menjelaskan bahwa RoRo bukan ditujukan untuk mengangkut kargo dalam jumlah besar seperti kapal kontainer.
“Kalau RoRo bisa untuk menengah ke bawah. Muatannya tidak terlalu besar dan tidak terlalu banyak. Wisatawan juga nantinya lebih mudah,” ujarnya.
Artinya, rute ini lebih menyasar mobilitas orang, kendaraan serta barang dengan volume tertentu, bukan menjadi jalur utama pengangkutan kargo skala besar.
Batam Disebut Siap, Johor Masih Perlu Berbenah
Dari sisi Batam, Pelabuhan Bintang 99 Persada diproyeksikan tetap menjadi titik keberangkatan.
Menurut Reno, fasilitas pelabuhan tersebut sudah mendukung kebutuhan operasional layanan RoRo.
Namun, kesiapan di sisi Malaysia masih menjadi salah satu pekerjaan yang harus diselesaikan.
Sejumlah fasilitas di Terminal Feri Tanjung Belungkor masih perlu ditingkatkan agar mampu mendukung aktivitas kapal RoRo.
“Masih dalam kajian. Koordinasi terus dilakukan dengan pihak Batam, termasuk melihat kesiapan dari Johor,” kata Reno.
Selain fasilitas, ASDP juga masih harus memastikan kesiapan kapal, regulasi serta berbagai persetujuan dari pemerintah Indonesia dan Malaysia.
Target Dibuka 2026, Tetapi Belum Ada Jadwal Pasti
ASDP berharap rute Batam–Johor dapat direalisasikan tahun ini.
Meski demikian, belum ada tanggal pasti kapan kapal RoRo mulai beroperasi.
Direktur Operasi dan Transformasi PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) Rio Lasse sebelumnya menyampaikan bahwa persiapan rute melibatkan berbagai pemangku kepentingan.
Pengoperasian jalur internasional tersebut harus memenuhi aspek infrastruktur, regulasi dan persetujuan kedua negara.
Karena itu, selesainya persiapan di Batam belum otomatis membuat kapal bisa langsung berlayar menuju Johor.
Jika Jadi, Batam Punya Pilihan Baru Menuju Malaysia
Rencana RoRo Batam–Johor bukan sekadar penambahan trayek kapal.
Jika benar-benar terealisasi, layanan ini dapat membuka model konektivitas baru Indonesia–Malaysia, khususnya untuk perjalanan wisata dan distribusi barang skala menengah.
Wisatawan berpotensi memiliki alternatif perjalanan dengan membawa kendaraan, sementara pelaku usaha mendapatkan pilihan baru untuk pergerakan barang dan kendaraan lintas negara.
Dengan jarak hanya sekitar 27 mil laut, jalur Batam–Johor juga memiliki posisi strategis untuk memperkuat konektivitas kedua wilayah.
Kini, bola berada di tangan ASDP dan para pemangku kepentingan di kedua negara. Potensi pasarnya sudah terlihat, fasilitas di Batam disebut siap, tetapi kesiapan Johor dan berbagai persyaratan internasional masih menjadi penentu kapan kapal RoRo benar-benar bisa berlayar.
