Sepenggal Kalimat Memicu Maut, Kisah Gelap di Balik Sepuluh Hari Kerja ART di Batam

oleh -
ART
Ilustrasi tragedi berdarah yang dilakukan seorang ART terhadap majikannya di Batam, (Foto: Dok/AI)

Dini hari di Kompleks Wira Mustika, Sungai Jodoh, Kota Batam, biasanya hanya diisi oleh suasana sunyi dan senyap jalanan. Namun, Minggu (30/8/2026) lalu, keheningan di lantai empat ruko tersebut pecah oleh retaknya rasa kemanusiaan.

Jarum jam baru menunjukkan pukul 02.00 WIB. Ketika sebagian besar penghuni kota masih terlelap dalam tidur nyenyak, NH (28) justru berdiri di dekat toren air di area jemuran lantai empat. Perempuan muda ini baru sepuluh hari mengadu nasib sebagai Asisten Rumah Tangga (ART) di sana.

Lembar gaji pertamanya pun belum sempat ia pegang. Namun malam itu, bukan sekadar kelelahan fisik yang menghimpit dada NH, melainkan tumpukan sakit hati yang tak lagi sanggup ia tampung.

Kalimat-kalimat tajam yang terlontar dari majikannya, L (52), terus berdengung dan berngiang di kepalanya. Sejak hari-hari pertama bekerja, bentakan demi bentakan, seperti “kamu kerja lelet” hingga “kerja harus pakai otak”, seolah mengikis harga dirinya secara perlahan.

“Motif tersangka melakukan tindakan kekerasan tersebut adalah rasa sakit hati karena sering dimarahi dan dikatakan kasar oleh korban,” tegas Kapolresta Barelang Kombes Pol Anggoro Wicaksono saat memimpin konferensi pers di Mapolresta Barelang.

Bagi NH, perintah untuk naik ke lantai atas dan membersihkan toren air di tengah kegelapan malam bukan sekadar tugas tambahan, melainkan pemantik dari bara emosi yang sudah menumpuk di ambang batas. Selama tiga jam, sunyi malam perlahan berubah menjadi ketegangan yang kian pekat.

Pukul 05.00 WIB, benteng kesabaran itu akhirnya runtuh total. Amarah yang meluap menuntun jemari NH mengambil apa saja yang terjangkau oleh tangannya di lantai jemuran. Tanpa kendali emosi, ia menyerang majikannya secara brutal.

NH melayangkan sembilan kali pukulan ke arah wajah L, menghantamkan kursi plastik biru sebanyak 14 kali, ember plastik putih tiga kali, pot bunga merah besar dan kecil berulang kali, hingga menggunakan palet kayu dan sebilah pisau dapur.

“Pelaku juga memukul korban menggunakan palet kayu,” ujar Kapolresta Barelang Kombes Pol Anggoro Wicaksono menjelaskan rentetan penganiayaan di lokasi.

Di sudut lain ruko tersebut, seorang ART lain berinisial YN menyaksikan pemandangan mengerikan itu dengan tubuh gemetar. Diliputi rasa takut yang luar biasa, YN hanya bisa menyelamatkan diri dengan merayap dan bersembunyi di dalam celah toren air, menjadi saksi bisu dalam kegelapan yang mencekam.

Usai kekerasan itu mereda, YN segera keluar dan menghubungi suami korban, HS (54). Langkah tergesa-gesa HS membawanya menaiki anak tangga menuju lantai empat, hanya untuk menemukan istrinya sudah tergeletak tak berdaya dengan pendarahan hebat di bagian kepala.

Meski sang suami berupaya membawa tubuh L turun ke lantai dua untuk menolongnya, takdir berkata lain; nyawa L tidak dapat diselamatkan lagi.

Sementara itu, NH tidak menyentuh satu pun barang berharga. Tidak ada lembaran rupiah atau perhiasan yang ia kantongi. Ia melangkah pergi meninggalkan ruko membawa kehampaan dan ketakutan mendalam menuju rumah saudaranya di Perumahan Nadin Raya, Belian.

Kurang dari enam jam kemudian, Tim Opsnal Polsek Batu Ampar bersama Unit Jatanras Polresta Barelang berhasil menemukan tempat persembunyiannya.

“Saat diinterogasi, pelaku langsung mengakui perbuatannya,” ungkap Kombes Pol Anggoro Wicaksono.

Kini, satu nyawa melayang di tengah luka keluarga yang ditinggalkan. Di sisi lain, NH yang masih berusia muda kini harus bersiap menghabiskan 10 hingga 15 tahun masa depannya di balik jeruji besi atas jeratan Pasal 458 ayat (1) dan Pasal 468 ayat (2) UU No. 1 Tahun 2023 tentang KUHP.

Tragedi berdarah di Kompleks Wira Mustika ini menjadi cermin kelam bagi kehidupan urban saat ini. Kisah ini mengetuk kesadaran kita tentang betapa pentingnya saling menghargai dan menjaga tutur kata di bawah satu atap yang sama.

Sebab sering kali, luka tercuram tidak hanya dibentuk oleh senjata tajam, melainkan oleh rangkaian kata-kata yang perlahan-lahan meremukkan nilai kemanusiaan seseorang.