Sepiring Terakhir di Kampong Gelam: Saat Warong Nasi Pariaman Menutup Kenangan 78 Tahun

oleh -
Sepiring Terakhir di Kampong Gelam: Saat Warong Nasi Pariaman Menutup Kenangan 78 Tahun
Warga Singapura antri untuk menikmati hidangan terakhir Warong Nasi Pariaman (dok cna)

LenteraKepri.com, Singapura – Jam belum genap 09.00 pagi waktu Singapura, namun antrean sudah mengular di depan sebuah ruko tua di Kandahar Street, Kampong Gelam. Orang-orang berdiri sabar, sebagian menggenggam ponsel, sebagian lainnya berbincang pelan. Tujuan mereka sama: Warong Nasi Pariaman.

Bukan sekadar ingin sarapan. Mereka datang untuk berpamitan.

Warung nasi padang yang telah menemani Singapura selama 78 tahun itu akan resmi tutup pada 31 Januari 2026. Kabar tersebut diumumkan dua hari sebelumnya dan langsung menyentuh emosi banyak orang. Sejak saat itu, Pariaman tak lagi sekadar tempat makan, ia berubah menjadi ruang nostalgia.

Didirikan pada 1948 oleh Haji Isrin, perantau dari Pariaman, Sumatera Barat, Warong Nasi Pariaman diyakini sebagai warung nasi padang tertua yang masih bertahan di Singapura.

Selama hampir delapan dekade, ia berdiri kokoh di Kampong Gelam, menyajikan masakan Minangkabau yang tak banyak berubah oleh zaman.

Rendang yang dimasak perlahan. Gulai yang kaya rempah. Ikan bakar dengan aroma asap khas. Semua terasa seperti pulang, bahkan bagi mereka yang tak pernah tinggal di Sumatera.

Di antara antrean, terselip cerita lintas generasi. Ada yang datang bersama orang tua. Ada yang mengenang masa kecil. Ada pula yang baru pertama kali mencicipi, karena tak ingin menyesal di kemudian hari.

“Tempat ini bagian dari hidup kami,” ujar Wini, pelanggan setia yang kini berusia awal 40-an seperti dikutip cna, Selasa (27/1/2026).

Empat generasi keluarganya dari kakek-nenek hingga anak-anaknya tumbuh dengan rasa masakan Pariaman. Ia masih ingat saat keluarganya diundang ke pesta pernikahan anak pemilik warung pada akhir 1990-an.

“Bukan cuma makanannya. Orang-orangnya hangat. Mereka memperlakukan kami seperti keluarga,” katanya.

Cerita Generasi ke Empat

Di balik etalase makanan, Adam Bakri (19) membantu melayani pelanggan. Ia adalah generasi keempat keluarga Isrin yang ikut menjaga warung ini. Sejak akhir 2024, ia rutin membantu setiap akhir pekan.

“Saya bangga bisa melanjutkan warisan keluarga,” katanya lewat pesan singkat.

Kini, saat penutupan tinggal hitungan hari, perasaan itu berubah menjadi kehilangan. “Rasanya seperti ada bagian dari diri saya yang diambil.”

Ia kerap mendengar pelanggan bercerita—tentang makan di Pariaman bahkan sebelum ia lahir. Tentang orang tua mereka yang dulu bekerja di Kampong Gelam. Tentang bagaimana aroma nasi padang ini selalu memanggil pulang.

Sejarawan kuliner Khir Johari menyebut Pariaman sebagai rujukan nasi padang autentik di Singapura. Autentik, menurutnya, bukan sekadar label.

“Itu hubungan dengan tradisi, teknik, dan niat budaya,” ujarnya.

Di Pariaman, proses memasak Minangkabau dari gulai, kalio, hingga rendang dijalani dengan kesabaran dan penghormatan pada warisan.

Bahkan bagi pelanggan lintas etnis, tempat ini punya makna khusus. Khir mengenang dua pria Tionghoa lanjut usia yang ditemuinya di Pariaman beberapa tahun lalu. Meski kini tinggal jauh dari Kampong Gelam, mereka tetap kembali, bukan hanya untuk makan, tapi untuk terhubung kembali dengan komunitas.

“Itu momen yang membuat saya terdiam,” katanya.

Kehilangan ini juga dirasakan di tingkat nasional. Pelaksana Tugas Menteri Urusan Muslim Singapura, Faishal Ibrahim, menyebut nilai Warong Nasi Pariaman tak ternilai. Ia bahkan menyempatkan diri mengunjungi keluarga pemilik warung setelah mendengar kabar penutupan.

“Bagi banyak keluarga, termasuk keluarga saya, kunjungan ke Kampong Gelam hampir selalu disertai makan di sini,” ujarnya.

Menjelang siang, antrean kian panjang. Ada yang berdiri hingga berjam-jam. Tak ada keluhan. Karena semua tahu, ini bukan sekadar antre makanan.

Ini adalah antrean untuk mengucapkan terima kasih.

Saat pintu Warong Nasi Pariaman kelak ditutup, Kampong Gelam akan kehilangan satu denyut pentingnya. Namun aroma rendang, senyum pemilik, dan cerita-cerita yang terukir di meja makan itu akan tetap hidup di ingatan mereka yang pernah duduk, makan, dan merasa pulang.