LenteraKepri.com, Batam – Sudah lebih sepekan perairan di Pulau Dangas, Sekupang, Batam tercemar limbah B3. Lebih 7.000 nelayan terdampak langsung akiabt sulit mencari ikan. Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kota Batam pun bersiap membawa kasus ini ke ranah pidana.
Ketua DPC HNSI Kota Batam, Muslimin yang akrab disapa Limin, menegaskan pihaknya akan melaporkan kasus pencemaran laut tersebut ke Polda Kepri dalam pekan ini. Langkah tegas itu diambil lantaran persoalan terus dibiarkan mengambang, sementara ribuan nelayan menanggung kerugian besar.
“Sudah berjalan seminggu ini belum ada kepastian dari mana pun. Ngambang terus. Karena itu, dalam minggu ini kita buat laporan ke Polda,” tegas Limin, Selasa (10/2).
Menurut Limin, penanganan kasus pencemaran ini seharusnya sudah menjadi atensi serius aparat penegak hukum, termasuk Direktorat Polisi Perairan dan Udara (Ditpolairud).
“Ini sudah ranah Polda yang menyikapi, mungkin Polairud. Sampai sekarang belum ada tanggapan dari perusahaan, sementara nelayan sangat butuh kepastian,” ujarnya.
Ironisnya, kapal yang diduga sebagai sumber tumpahan limbah B3, yakni Kapal Landing Craft Tank (LCT) Mutiara Garlib Samudera, disebut sudah tidak lagi berada di lokasi dan bahkan dikabarkan telah berpindah-pindah.
“Kapal yang buat limbah B3 itu sudah digeser ke mana-mana, sudah tidak ada lagi di lokasi. Ini yang bikin nelayan makin resah,” kata Limin.
Dalam laporan ke Polda Kepri nanti, HNSI akan menuntut kejelasan penanggung jawab dari pihak kapal. Nelayan, kata Limin, tidak bisa terus dibiarkan menunggu tanpa kepastian, sementara dampak pencemaran kian meluas.
“Poinnya jelas, kami minta penanggung jawab pihak kapal. Jangan berlarut-larut. Harus ada titik terang buat nelayan. Kasihan nelayan kita, sudah susah nangkap ikan gara-gara limbah B3 ini,” tegasnya.
Dampak pencemaran tersebut disebut telah memukul keras kehidupan nelayan di enam kecamatan di Kota Batam, yakni Sekupang, Belakang Padang, Bulang, Lubuk Baja (Tanjung Uma), Batu Ampar, serta Batu Besar–Nongsa.
“Kalau dijumlahkan sekitar 7.000-an nelayan. Tapi yang paling parah itu Sekupang dan Belakang Padang,” ungkap Limin.
Pukulan terberat dirasakan nelayan dingkis, ikan musiman bernilai ekonomi tinggi yang biasanya menjadi andalan menjelang Imlek. Namun, pencemaran justru terjadi di momen krusial tersebut.
“Kelong mereka tidak ada ikan. Minyak mengalir ke jaring dan tiang-tiang kayu. Dingkis ini sangat sensitif, kena bau minyak saja tidak mau masuk,” jelasnya.
Menurut HNSI, kondisi di lapangan bukan lagi sekadar penurunan hasil tangkapan, melainkan nihil produksi bagi banyak nelayan.
“Bukan turun lagi, sudah tidak ada hasil,” kata Limin.
HNSI memperkirakan produksi dingkis tahun ini anjlok hingga 70 persen dibandingkan tahun lalu. Jika sebelumnya nelayan mampu meraup ratusan kilogram hingga hitungan ton per hari, kini hasil tersebut nyaris tak ada.
Tak hanya nelayan musiman, nelayan harian juga ikut terdampak. Limbah minyak yang mengikuti pasang surut air laut menempel di bebatuan dan perairan dangkal, memperparah kondisi pencemaran.
“Kalau air surut, minyak nempel di batu. Pas air pasang, kena lagi. Dampaknya bukan sebentar, bisa dua sampai tiga tahun baru pulih,” tutup Limin.
