41 Calon PMI Ilegal Diamankan di Batam Center, Polisi Bongkar Modus TPPO, Dikendalikan dari Luar

oleh -
oleh
41 Calon PMI Ilegal Diamankan di Batam Center, Polisi Bongkar Modus TPPO, Dikendalikan dari Luar
Polsek KKP berhasil mengamankan 41 calon PMI Ilegal yang diduga jadi korban TPPO di Pelabuhan Batam Center (ilustrasi)

LenteraKepri.com, Batam – Aksi penyelamatan besar terjadi di Pelabuhan Ferry Internasional Batam Center. Sebanyak 41 korban Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) berhasil diamankan oleh Unit Reskrim Polsek Kawasan Pelabuhan (KKP) Batam, Kamis (16/4/2026).

Pengamanan dilakukan dalam tiga gelombang berbeda. Sebanyak 28 korban diamankan pada dini hari, disusul 6 orang pada siang hari, dan 7 korban lainnya pada sore hari. Jumlah ini terbilang tidak biasa dan langsung memicu kecurigaan petugas.

Kapolsek KKP Batam, Zharfan Edmond, mengungkapkan bahwa jumlah korban yang mencapai 41 orang tergolong sangat tinggi dibandingkan kasus serupa sebelumnya.

“41 itu cukup banyak, biasanya hanya 3 orang,” ujarnya.

Kasus ini terungkap saat petugas melakukan patroli rutin dengan pemeriksaan dokumen penumpang. Dari hasil pemeriksaan, para calon penumpang tidak mampu menjelaskan tujuan perjalanan mereka secara jelas, apakah untuk bekerja atau sekadar berlibur.

Kecurigaan semakin kuat saat diketahui bahwa seluruh paspor yang mereka miliki masih baru.

Salah satu korban, MB, asal Adonara, Nusa Tenggara Timur, mengaku baru pertama kali ke Batam. Ia menempuh perjalanan panjang dari NTT menuju Makassar, lalu ke Jakarta, hingga akhirnya tiba di Batam.

Ia mengaku hendak menyusul suaminya ke Malaysia atas arahan pihak tertentu.

“Disuruh ikut ke sana, katanya lagi cari satu orang lagi. Daripada orang lain, saya saja yang berangkat,” ujarnya.

Namun sesampainya di pelabuhan, paspornya langsung ditahan petugas. Ia juga mengungkapkan bahwa para korban tidak saling mengenal satu sama lain, meski berangkat dalam rombongan.

Fakta mengejutkan terungkap: para korban diduga dikendalikan oleh seseorang dari luar negeri melalui sambungan telepon. Mereka diarahkan secara terpisah namun menuju tujuan yang sama.

“Mereka berjalan sendiri dan dikendalikan dari luar negeri melalui telepon,” jelas Kapolsek.

Para korban diketahui berasal dari berbagai daerah di Indonesia, seperti Lombok, Gresik, Aceh, Madura, hingga Nusa Tenggara Timur.

Saat ini, polisi masih melakukan pemeriksaan intensif serta memburu pelaku utama yang diduga menjadi otak di balik jaringan TPPO ini.

Setelah proses pemeriksaan selesai, seluruh korban rencananya akan diserahkan kepada BP2MI untuk penanganan lebih lanjut.

Kasus ini menjadi peringatan serius bagi masyarakat agar lebih waspada terhadap tawaran kerja ke luar negeri yang tidak jelas prosedurnya.

No More Posts Available.

No more pages to load.