LenteraKepri.com, Batam – Wali Kota Batam, Amsakar Achmad, membagikan kisah perjalanan hajinya yang penuh cerita unik, lucu, sekaligus sarat makna spiritual saat menjalankan ibadah di Tanah Suci bersama sang istri.
Melalui catatan berjudul “Kisah Perjalanan” di akun Instagramnya, Amsakar terlebih dahulu menyampaikan ucapan Selamat Idul Adha 1447 Hijriah kepada seluruh masyarakat Batam. Ia mengaku Idul Adha tahun ini terasa berbeda karena tidak dapat membersamai warga lantaran sedang melaksanakan puncak ibadah haji di Padang Arafah.
“Terlebih dahulu, saya dan istri mengucapkan Selamat Idul Adha 1447 H untuk seluruh warga Batam,” tulis Amsakar.
Perjalanan Panjang Menuju Tanah Suci
Amsakar menceritakan perjalanan dimulai pada Kamis, 21 Mei 2026 pukul 21.20 WIB, saat dirinya bersama rombongan bertolak menuju Jeddah, Arab Saudi.
Setelah menempuh perjalanan hampir delapan jam, rombongan tiba di Jeddah pada Jumat, 22 Mei 2026 pukul 06.10 WIB dan melanjutkan perjalanan menuju Moro Alalameyah Hotel Makkah, tempat jamaah Kloter 25 Embarkasi Batam menginap.
Namun, di balik khusyuknya ibadah, Amsakar justru mengalami momen lucu yang tak terlupakan.
Lupa Handuk Ternyata Masih di Pinggang
Pada hari kedua di Makkah, Amsakar mengaku sempat panik karena merasa kehilangan handuk.
Ia bolak-balik antara tempat tidur dan kamar mandi mencari handuk yang dianggap hilang. Tingkahnya itu sampai membuat rekan sekamar heran.
“Ada apa komandan?” tanya rekannya.
Amsakar pun menjawab dirinya sedang mencari handuk. Namun, jawaban rekannya justru membuat suasana pecah.
Ternyata handuk yang dicari selama ini masih terselempang di pinggang, tersamar oleh pakaian ihram yang sudah beberapa hari dikenakan.
“Karena sudah berhari-hari pakai ihram sampai membuat saya lupa bahwa handuk sudah diselempangkan di pinggang,” tulisnya sambil berseloroh.
HP Tertinggal, Tapi Tak Kemana-Mana
Cerita lain terjadi pada hari ketiga saat Amsakar turun ke lantai dasar hotel untuk merokok dan berjalan santai ke tempat ngopi langganannya di sekitar hotel.
Usai berjalan cukup lama, ia baru menyadari bahwa telepon genggamnya tertinggal di ruang kecil tempat dirinya sebelumnya merokok.
Beruntung, saat kembali dicek, HP tersebut masih dalam keadaan aman.
Dari pengalaman itu, Amsakar mengambil pelajaran sederhana namun bermakna.
“Kalau memang hak kita, tak akan ke mana-mana,” ungkapnya.
Filosofi Haji: Mudahkan Urusan Orang Lain
Di sela perjalanan spiritualnya, Amsakar juga mengaku banyak mendapatkan kemudahan selama di Tanah Suci.
Mulai dari ada rekan yang menyiapkan kopi saat bangun tidur, mengambil nasi kotak ketika jam makan, hingga kemudahan transportasi menuju Masjidil Haram di saat banyak jamaah kesulitan mendapatkan kendaraan.
Menurutnya, pengalaman tersebut memperkuat keyakinannya pada filosofi hidup:
“Mudahkanlah urusan orang lain, niscaya Allah akan mudahkan urusan kita.”
Drama Tahallul: Potong Sedikit atau Botak Sekalian?
Bagian paling menarik terjadi setelah proses lempar jumrah, saat Amsakar dihadapkan pada pilihan sulit: apakah hanya memotong rambut sekadar syarat, dipangkas pendek, atau botak total sebagai bagian dari tahallul.
Ia bahkan mengaku sempat “berdiskusi panjang dalam hati” sebelum mengambil keputusan.
Karena tidak ada “forum paripurna” dan pimpinan DPRD yang bisa diajak berdiskusi, Amsakar akhirnya mengikuti kata hati, ditambah dorongan istri dan anak-anak yang terus bertanya:
“Papa kapan botaknya?”
Akhirnya, dengan mengerahkan “segala kekuatan batin”, Amsakar memutuskan untuk botak habis.
Namun setelah bercermin, ia mengaku seperti melihat sosok yang berbeda.
“Mudah-mudahan saat pulang nanti, sudah kembali tumbuh seperti biasa,” candanya.
Di akhir catatannya, Amsakar memberi isyarat bahwa masih ada banyak cerita spiritual lainnya selama berhaji yang akan dibagikan setelah kembali ke Batam.






