Kisah Uwais Al Qarni, Si Penghuni Langit

oleh -
oleh
Uwas Al Qarni, mengendong ibunya mennaikan ibadah haji. Rekor berjalan kaki yang tidak terpecahkan hingga kini. (foto ilustrasi)

LenteraKepri.com, Batam – Uwais Al Qarni, dikenal sebagai sosok sufi dalam dunia Islam. Meski belum pernah bertemu langsung Uwais Al Qarni, Nabi Muhammad SAW, memuji-mujinya sebagai orang yang sangat taat, dan berbakti kepada ibunya.

Uwais Al Qarni termasuk golongan tabi’in. Namanya sangat terkenal di langit, dan dipuji Rasulullah berkat baktinya yang luar biasa kepada ibunya yang lumpuh, dan buta.

Berikut kisah singkat Uwais Al Qarni, yang dirangkum dari berbagai sumber.

Pada zaman Nabi Muhammad SAW, hiduplah seorang pemuda miskin bernama Uwais Al Qarni. Ia berpenyakit sopak, yang menyebabkan tubuhnya belang-belang. Ia diperkirakan lahir tahun 594 M, di Qarn, Yaman (sekarang wilayah Arab Saudi), dan wafat pada 657 M, dalam usia 63 tahun.

Pekerjaan sehari-harinya sebagai mengembala. Agama Islam yang dibawa Nabi Muhammad SAW sudah sampai dan dianut sebagian masyarakat Qarn, Yaman kala itu.

Banyak orang-orang Yaman, termasuk Uwais Al Qarni, ingin bertemu dan berjumpa langsung Nabi Muhammad SAW, yang sudah hijrah ke Madinah. Hingga pada suatu hari, Uwais meminta izin kepada ibunya untuk ke Madinah berjumpa Nabi. Ibunya meminta agar ia tidak berlama-lama, dan segera pulang setelah bertemu Nabi.

Namun, keinginannya untuk bertemu Nabi tidak terpenuhi. Ia hanya bertemu dengan istri Nabi, Siti Aisyah r.a. Aisyah mengatakan bahwa Nabi sedang pergi berperang.

Uwais ingin menunggu kepulangan Nabi. Akan tetapi ia tidak bisa disebabkan ibunya, yang lumpuh, tidak bisa ditinggal berlama-lama. Maka Uwais pun pamit kepada Siti Aisyah r.a,, dan hanya menitipkan salam untuk Nabi Muhammad SAW.

Sepulang dari medan perang, Nabi Muhammad SAW menanyakan kepada Aisyah, tentang Uwais Al Qarni, pemuda yang datang ingin menemuinya. Siti Aisyah r.a. membenarkan ada seorang pemuda yang mencari Nabi, dan segera pulang ke Yaman, karena ibunya sudah tua, dan lumpuh, sehingga tidak dapat meninggalkan ibunya terlalu lama.

Kepada Aisyah r.a dan sahabat-sahabatnya, Nabi mengatakan bahwa Uwais Al Qarni adalah anak yang soleh dan taat kepada ibunya. Nabi mengatakan Uwais Al Qarni bukan penghuni bumi, ia adalah penghuni langit.

Mendengar perkataan Nabi, Siti Aisyah r.a. dan para sahabat tertegun. Nabi Muhammad melanjutkan keterangannya tentang Uwais Al Qarni, sang penghuni langit itu, kepada Aisyah dan sahabatnya,

“Kalau kalian berjumpa dengan dia, perhatikanlah ia mempunyai tanda putih di tengah telapak tangannya.”

Sesudah itu Nabi memandang kepada Ali bin Abi Thalib, dan Umar bin Khaththab seraya berkata;

“Pergilah kalian (Ali bin Abi Thalib, dan Umar bin Khaththab) bertemu dengan dia, mintalah doa dan istighfarnya, dia adalah penghuni langit, bukan penghuni bumi.”

Sebab Uwais Al Qarni Dipuji-Puji Nabi

Sepulang dari Madinah, ibu Uwais Al Qarni meminta diantar menunaikan ibadah haji. Uwais yang miskin berpikir bagaimana cara membawa ibunya menunaikan haji, semenara ia tidak memiliki uang yang cukup.

Ia tertegun. Orang-orang yang berangkat menunaikan haji, akan membawa banyak bekal mengunakan unta sebagai tunggngan, dan angkutan barang. Maka dibelilah oleh Uwais, sekor anak lembu, dan membuat kandang di puncak bukit yang tinggi.

Saban pagi dan sore, setiap hari, anak sapi itu digendong di punggungnya dan dibawa turun-naik bukit. Orang-orang mengangap aneh dengan apa yang dilakukan Uwais membuat kandang di atas bukit dan tiap hari mengendong anak sapi itu turun naik bukit dari kandangnya.

Hari berganti hari, minggu berganti minggu, bulan pun berganti bulan, sampai anak sapi itu mencapai berat satu kwintal. Dan musim haji pun tiba.

Orang-orang pun tau, Uwais melatih fisiknya menjadi kuat dan kekar untuk membopong ibunya naik haji dengan berjalan kaki jauh dari Yaman menuju Makkah, yang berjarak 530 km, dengan lama perjalanan sekitar 14 – 20 hari berjalan kaki.

Ketika menunaikan ibadah haji, Uwais juga mengendong ibunya bolak-balik antara Bukit Shafa dan Bukit Marwah, serta mengelilingi Ka’bah, serta membopongnya pulang kembali ke Yaman.

Di depan Ka’bah, Uwais, dan ibunya berdoa agar penyakit Uwais disembuhkan, dan diampuni dosa-dosa mereka. Seketika itu pula penyakit kulit (sopak) yang ada di tubuh Uwais sembuh, menyisakan tanda putih kecil di telapak tangannya.

Rasulullah SAW pernah berpesan kepada Umar bin Khattab dan Ali bin Abi Thalib bahwa Uwais adalah sebaik-baik tabi’in. Tanda sopak ditangannya sebagai tanda untuk Umar dan Ali, dua sahabat Rasulullah itu mengenali Uwais.

“Doanya sangat makbul. Kalian berdua (Umar bin Khaththab dan Ali bin Abi Thalib) pergilah cari dia. Dia akan datang dari arah Yaman, dia dibesarkan di Yaman.”

Waktu terus berganti, dan Nabi pun wafat. Kekhalifahan Abu Bakar pun telah digantikan oleh Khalifah Umar bin Khaththab. Suatu ketika Khalifah Umar teringat akan sabda Nabi tentang Uwais Al Qarni.

Beliau mengingatkan kembali sabda Nabi kepada Ali bin Abi Thalib. Sejak saat itu setiap ada kafilah yang datang dari Yaman, Khalifah Umar dan Ali, yang selalu berada disekitar Ka’bah, selalu menanyakan tentang Uwais Al Qarni, si fakir pengembala itu.

Rombongan kafilah (pedagang) dari Yaman, yang hendak menuju ke negeri Syam datang silih berganti, membawa barang dagangan mereka. Suatu ketika, Uwais Al Qarni turut serta bersama sebagai penjaga unta.

Mendengar ada rombongan kafilah yang baru datang dari Yaman, segera Khalifah Umar, dan Ali mendatangi mereka dan menanyakan apakah Uwais Al Qarni turut serta.

Rombongan kafilah itu mengatakan bahwa Uwais ada bersama mereka. Dia sedang menjaga unta-unta di perbatasan kota Madinah.

Mendengar jawaban itu, Khalifah Umar dan Ali segera pergi menjumpai Uwais Al Qarni. Sesampainya di kemah tempat Uwais berada, Khalifah Umar dan Ali memberi salam.

Rupanya Uwais sedang salat. Setelah mengakhiri salatnya dengan salam, Uwais menjawab salam Khalifah Umar dan Ali sambil mendekati kedua sahabat Nabi tersebut dan bersalaman.

Sewaktu berjabat tangan, Khalifah Umar dengan segera membalikan telapak tangan Uwais, seperti yang pernah dikatakan Nabi. Memang benar. Tampaklah tanda putih di telapak tangan Uwais Al Qarni.

Wajah Uwais nampak bercahaya. Benarlah seperti sabda Nabi, bahwa ia adalah penghuni langit. Khalifah Umar dan Ali bin Abi Thalib menanyakan namanya, dan dijawab, “Abdullah”.

Mendengar jawaban Uwais, mereka tertawa dan mengatakan, “Kami juga Abdullah, yakni hamba Allah. Tapi siapakah nama mu yang sebenarnya?” Uwais berkata, “Nama saya Uwais Al Qarni”.

Dalam perbincangan mereka, diketahui ibu Uwais telah meninggal dunia. Itu sebab ia baru dapat turut bersama rombongan kafilah dagang saat itu. Akhirnya Khalifah Umar dan Ali memohon agar Uwais memanjatkan doa dan stighfar untuk mereka, seperti yang diperintahkan Nabi.

Uwais dengan kerendahan diri berkata kepada kedua sahabat Nabi itu; “Saya lah yang seharusnya meminta do’a kepada kalian”. Mendengar perkataan Uwais, Khalifah berkata, “Kami datang kesini untuk mohon doa dan istighfar dari Anda, sebagai mana yang disampaikan oleh Nabi”.

Mendengar itu, Uwais Al Qarni mengangkat tangan, berdoa dan membacakan istighfar, memohon ampunan kepada Allah SWT untuk kedua sahabat Nabi tersebut.

Setelah itu Khalifah Umar menyumbangkan uang negara dari Baitul Mal kepada Uwais untuk jaminan hidupnya. Uwais menolak dengan halus, dan berkata;

“Hamba mohon supaya hari ini saja hamba diketahui orang. Untuk hari-hari selanjutnya, biarlah hamba yang fakir ini tidak diketahui orang lagi.”

Fenomena Uwais Al Qarni Ketika Wafat

Beberapa tahun kemudian, Uwais Al Qarni berpulang ke rahmatullah. Anehnya, pada saat dia akan di mandikan, tiba-tiba sudah banyak orang berebutan ingin memandikannya.

Dan ketika di bawa ke tempat pembaringan untuk dikafani, di sana pun sudah ada orang-orang yang sudah menunggu untuk mengafaninya.

Demikian pula ketika orang pergi hendak menggali kuburannya, di sana ternyata sudah ada orang-orang yang menggali kuburnya hingga selesai. Ketika usungan dibawa ke pekuburannya, luar biasa banyaknya orang yang berebutan untuk mengusungnya.

Penduduk kota Qarn tercengang. Sejak ia dimandikan sampai ketika jenazahnya hendak diturunkan ke dalam kubur, di situ selalu ada orang-orang yang telah siap melaksanakannya terlebih dahulu. Warga kota Qarn juga tidak mengenal siapa mereka.

Banyak terjadi hal-hal yang amat mengherankan, dan mereka saling bertanya-tanya, Sedemikian banyak orang yang tidak dikenal berdatangan mengurus jenazah dan pemakamannya. Padahal Uwais Al Qarni adalah seorang yang fakir yang tidak dihiraukan orang.

“Siapakah sebenarnya engkau Wahai Uwais Al Qarni? Bukankah Uwais yang kita kenal, hanyalah seorang fakir, yang tak memiliki apa-apa, yang kerjanya sehari-hari hanyalah sebagai pengembala domba dan unta? Tapi, ketika hari wafatnya, engkau menggemparkan penduduk Yaman dengan hadirnya manusia-manusia asing yang tidak pernah kami kenal. Mereka datang dalam jumlah sedemikian banyaknya. Agaknya mereka adalah para malaikat yang diturunkan ke bumi, hanya untuk mengurus jenazah dan pemakamannya.”

Berita meninggalnya Uwais Al Qarni dan keanehan-keanehan yang terjadi ketika wafatnya tersebar kemana-mana.

Baru saat itulah penduduk Yaman mengetahuinya, siapa sebenarnya Uwais Al Qarni. Selama ini tidak ada orang yang mengetahui siapa sebenarnya Uwais Al Qarni disebabkan permintaan Uwais Al Qarni kepada Khalifah Umar dan Ali bin Abi Thalib agar merahasiakan tentang dia.

Tetapi di hari wafatnya Uwais Al Qarni, sebagaimana yang telah di sabdakan oleh Nabi Muhammad SAW, barulah mereka tau bahwa Uwais Al Qarni adalah penghuni langit.

No More Posts Available.

No more pages to load.