LenteraKepri.com, Tel Aviv — Situasi di Jalur Gaza kembali memanas. Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, melontarkan ancaman keras bahwa Israel siap melanjutkan serangan militer jika Hamas tidak mematuhi kesepakatan gencatan senjata yang baru-baru ini dicapai dengan dukungan Amerika Serikat.
Pernyataan itu disampaikan Rabu (15/10/2025) waktu setempat, hanya beberapa jam setelah Hamas menyerahkan dua jenazah sandera Israel. Kelompok tersebut mengklaim tidak mampu mengevakuasi lebih banyak jasad dari reruntuhan akibat terbatasnya peralatan khusus.
Sejak gencatan senjata dimulai Senin (13/10/2025), hasil mediasi Presiden AS Donald Trump dan para pemimpin Timur Tengah, Hamas telah membebaskan 20 sandera hidup. Sebagai gantinya, Israel melepas hampir 2.000 tahanan Palestina.
“Jika Hamas menolak mematuhi kesepakatan, Israel — berkoordinasi dengan Amerika Serikat — akan melanjutkan pertempuran untuk menghancurkan total Hamas dan mengubah realitas di Gaza,” tegas Israel Katz dalam pernyataan resminya, dikutip dari CNN.
Hamas Klaim Sudah Penuhi Kesepakatan
Sayap militer Hamas, Brigade Ezzedine Al-Qassam, menyatakan bahwa dua jenazah yang diserahkan merupakan yang terakhir untuk saat ini.
Mereka menegaskan telah memenuhi kewajiban sesuai kesepakatan dengan menyerahkan semua sandera yang masih hidup serta jenazah yang dapat dijangkau.
Namun, penasihat senior pemerintah AS menyebut pihaknya masih menerima sinyal positif dari Hamas bahwa kelompok itu tetap berkomitmen menuntaskan kesepakatan.
Tekanan Politik Kian Panas di Israel
Penundaan pemulangan jenazah sandera turut menambah tekanan politik terhadap PM Benjamin Netanyahu.
Menteri Keamanan Nasional sayap kanan, Itamar Ben Gvir, bahkan mengancam menghentikan pasokan bantuan kemanusiaan ke Gaza jika Hamas tidak segera menyerahkan seluruh jasad tentara Israel yang masih ditahan.
Sementara itu, Kementerian Kesehatan Gaza melaporkan Israel telah mengembalikan 45 jenazah warga Palestina ke Rumah Sakit Nasser, menambah total 90 jenazah sejak gencatan senjata berlaku.
Dalam kesepakatan versi Trump, Israel diwajibkan menukar 15 jenazah warga Palestina untuk setiap sandera Israel yang tewas.
PBB Desak Buka Akses Bantuan
Kepala bantuan kemanusiaan PBB, Tom Fletcher, menyerukan agar Israel segera membuka seluruh perbatasan Gaza demi penyaluran bantuan.
“Kami ingin anak-anak mendapatkan makanan, rumah sakit memiliki obat, dan pengungsi punya tempat berlindung,” ujarnya kepada AFP.
Namun, laporan media Israel KAN menyebut rencana pembukaan perbatasan Rafah masih tertunda hingga Rabu malam.
Tuduhan Pelanggaran Gencatan Senjata
Meski gencatan senjata diberlakukan, ketegangan tetap terjadi di lapangan. Tiga warga Palestina dilaporkan tewas akibat tembakan Israel di kawasan Shujaiya, Kota Gaza.
Militer Israel mengonfirmasi adanya penembakan dengan dalih bahwa “beberapa tersangka melanggar garis kuning dan mendekati pasukan.”
Gaza di Ambang Krisis Kemanusiaan
Konflik yang bermula sejak serangan Hamas pada 7 Oktober 2023 telah menimbulkan bencana kemanusiaan besar di Gaza.
Wilayah padat penduduk itu kini bergantung pada bantuan internasional, sementara pasokan kerap dibatasi oleh Israel. PBB bahkan menyatakan Gaza berada dalam kondisi kelaparan, meski klaim itu dibantah oleh pemerintah Israel.
Israel dan Amerika Serikat bersikeras bahwa Hamas tidak boleh memiliki peran di pemerintahan Gaza di masa depan, sementara Hamas tetap menolak dilucuti senjatanya. (r)
Sumber: kompas






