AS-Iran Saling Serang Usai Sebulan Jeda

oleh -
oleh
Serangan rudal Iran. (foto sepahnews.com)

LenteraKepri.com, Batam – Pasukan AS dilaporkan menyerang fasilitas militer Iran di sekitar Selat Hormuz pada Minggu malam (30/8). Kapten Angkatan Laut AS Tim Hawkins mengatakan pasukan AS menyerang dua peluncur milik Iran di Pulau Larak.

Menurut Hawkins, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) terlihat bersiap meluncurkan roket yang membawa ranjau laut ke Selat Hormuz.

Media Iran melaporkan sejumlah ledakan terdengar di sekitar Pulau Larak. IRGC menyatakan serangan AS akan mendapat balasan dan “hukuman bagi pihak agresor.”

Militer AS melalui Komando Pusat AS (CENTCOM) membantah tuduhan Iran bahwa serangan tersebut merupakan tindakan agresi.

“Pasukan AS mengambil tindakan terbatas dan terukur terhadap pasukan IRGC yang memasang ranjau dan menimbulkan ancaman langsung di Selat Hormuz,” kata CENTCOM.

“Iran menciptakan ancaman itu, dan militer AS menyingkirkannya demi melindungi pelaut sipil, pelayaran komersial, serta kelancaran perdagangan dunia.”

Tak berselang lama, IRGC mengatakan sejumlah personel militer dan warga sipil tewas serta terluka dalam serangan yang dilancarkan AS, dan menegaskan pihaknya membalas serangan AS sebelumnya di Pulau Larak dengan meluncurkan rudal balistik ke posisi militer AS di Yordania.

Kementerian Luar Negeri Iran pada Senin (31/8) resmi mengecam serangan AS di Pulau Larak. Teheran mengatakan serangan balasan terhadap pangkalan AS akan jadi bagian dari “hak yang melekat untuk membela diri.”

Kantor berita semi-resmi Iran, Tasnim, melaporkan AS menggunakan drone untuk menyerang pulau tersebut.

Kemlu Iran juga menyatakan, pangkalan AS di Yordania digunakan dalam serangan terhadap Larak yang menewaskan dan melukai personel militer serta warga sipil Iran.

IRGC mengeklaim serangan tersebut menyebabkan “kerusakan parah” pada dua pangkalan AS yang disebutnya sebagai Pangkalan King Hussein dan Al-Azraq, keduanya berada di Yordania.

Militer Yordania mengatakan telah mencegat delapan rudal yang memasuki wilayah udaranya. Namun, militer AS belum memberikan komentar mengenai laporan serangan balasan Iran tersebut.

Sementara itu, Uni Emirat Arab mengatakan angkatan udaranya mencegat sebuah drone pada Senin (31/8), setelah serangan AS terhadap Iran memicu serangan balasan dari Teheran.

“Kementerian Pertahanan mengumumkan bahwa Angkatan Udara UEA telah merespons sebuah drone UAV atau pesawat tanpa awak yang terdeteksi di wilayah perairan negara tersebut, bergerak mendekat dari arah Iran,” demikian pernyataan Kementerian Pertahanan di platform X.

Pernyataan itu tidak menjelaskan lebih lanjut sasaran drone tersebut maupun apakah drone itu berhasil ditembak jatuh.

Televisi pemerintah Iran sebelumnya melaporkan serangan drone menyasar pasukan dan helikopter AS di Pangkalan Udara Al Minhad, UEA. Namun, Kementerian Pertahanan UEA menyebut laporan itu tidak benar.

Sanksi Washington dan kebuntuan negosiasi
Serangan AS pada Minggu (30/8) menjadi serangan pertama terhadap Iran dalam beberapa pekan terakhir. Perang kini memasuki situasi yang ‘relatif buntu,’ sementara Washington mengancam akan menjatuhkan sanksi berat terhadap negara-negara yang mendukung Iran.

AS dan Israel sebelumnya melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari lalu. Iran kemudian membalas dengan menyerang Israel dan sejumlah negara Teluk yang menjadi lokasi pangkalan militer AS.

Konflik tersebut kini telah berlangsung lebih dari enam bulan. Serangan AS-Israel terhadap Iran serta serangan Israel ke Lebanon telah menewaskan ribuan orang dan membuat jutaan lainnya mengungsi. Sebanyak 18 personel militer AS juga dilaporkan tewas dalam konflik ini.

Perang juga menyebabkan Selat Hormuz di blokade. Sebelum konflik, jalur strategis tersebut menjadi rute bagi sekitar seperlima pasokan minyak dunia.

No More Posts Available.

No more pages to load.