Dibanderol Rp 6.000, Roti Siswa SMKN 2 Batam Laku Keras tapi Minim Dukungan Pemerintah!

oleh -
oleh
Dibanderol Rp 6.000, Roti Siswa SMKN 2 Batam Laku Keras tapi Minim Dukungan Pemerintah!
Siswi SMKN 2 Batam sedang packing Roti Tefa disaksikan Ketua PWI Batam M.A.Khafi Anshary (dok pwi batam)

LenteraKepri.com, Batam — Di balik hiruk-pikuk Kota Batam, tersimpan sebuah “mutiara” yang belum banyak diketahui publik. Itulah kesan awal Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kota Batam, M. A. Khafi Anshary, ketika mengunjungi SMKN 2 Batam, sekolah yang diam-diam memiliki potensi besar melalui karya kuliner unggulan: Tefa Roti.

Khafi dibuat kagum saat melihat langsung proses pembuatan roti oleh siswa jurusan kuliner. Dengan dukungan peralatan modern senilai ratusan juta rupiah dari pemerintah pusat, siswa-siswa tersebut mengolah adonan layaknya pekerja di pabrik roti komersial. Hasilnya pun tak main-main—roti lembut, wangi, dan berkualitas premium.

Namun di balik kualitas yang dapat bersaing dengan produk pasaran, Tefa Roti masih terhambat persoalan klasik: pemasaran. Meski siswa aktif mempromosikan produk dengan brosur dan media sosial, jangkauannya belum luas.

Khafi menyayangkan masih minimnya peran pemerintah daerah dalam membantu memperluas ekspose karya-karya sekolah.

“Setiap kegiatan pemerintah pasti butuh konsumsi. Roti ini bisa jadi pilihan,” ujar Khafi, Rabu (13/11/2025).

Menurutnya, dukungan ini bukan sekadar soal pemasaran, tetapi juga bisa meningkatkan kepercayaan diri siswa ketika memasuki dunia kerja.

Sebagai kota industri, Batam punya banyak perusahaan besar yang dapat menjadi mitra pemasaran. Namun, akses ke perusahaan ini sulit tanpa sentuhan pemerintah. Lewat PWI, Khafi pun berkomitmen menghadirkan ruang publikasi positif bagi sekolah-sekolah di Batam yang selama ini kurang terekspos.

SMKN 2 Batam juga memiliki unit bisnis lain yang tak kalah menarik: Bertuah Edotel, hotel edukasi dengan sembilan kamar lengkap fasilitas TV, wifi, dan air panas, dengan tarif Rp 200 ribu per malam.

Impian Siswa: “Ingin Tefa Roti Dikenal Seluruh Batam”

Di dapur produksi, Elvin Devita Putri Daci, siswi kelas XII, cekatan meracik adonan hingga membungkus roti siap jual. Dari usaha pre-order, Elvin bahkan sudah mendapatkan keuntungan pribadi:

“Kalau di pabrik Rp 4.500, saya jual Rp 6.000. Jadi untung Rp 1.500,” ucapnya bangga.

Setiap hari, Tefa Roti memproduksi 300–600 picis, tergantung pesanan. Tim berisi 6–8 siswa bekerja dalam siklus produksi yang rapi. Pesanan sementara ini datang dari sekolah-sekolah sekitar.

Promosi dilakukan melalui brosur, Instagram, dan WhatsApp.

“Kami berharap Tefa Roti bisa lebih maju dan dikenal seluruh Batam,” kata Elvin.

Sudah Punya Hak Paten Sejak 2023

Menurut Eka Wuladari, salah satu guru pengelola Tefa Roti, produk mereka telah resmi memiliki hak paten sejak 2023. Bahkan, mereka pernah kebanjiran order hingga 1.500 picis per hari.

Target sekolah sebenarnya ingin mencapai 2.000 picis, namun lagi-lagi, kendala pemasaran membuat target itu sulit tercapai.

Selain mengolah roti, siswa juga mendapat pelajaran penting soal komunikasi, pemasaran, dan cara menghadapi pelanggan.

“Saya berharap anak-anak bisa jadi pengusaha sukses setelah lulus,” tutur Eka.

Sekolah Maksimalkan Pemasaran untuk Masa Depan Siswa

Kepala SMKN 2 Batam, Drs. Refio, M.Pd., mengatakan sekolah terus membuka jalur pemasaran ke berbagai pihak, mulai dari perusahaan Epson hingga Politeknik Negeri Batam. Responsnya cukup positif.

Siswa bahkan diwajibkan memasarkan produk ke keluarga dan tetangga sebagai bagian dari penilaian mata pelajaran kewirausahaan.

Dari pemerintah, sekolah telah menerima bantuan peralatan senilai Rp 200 juta, namun hambatan geografis masih menjadi kendala dalam pemenuhan pesanan ke luar area.

Bertuah Edotel: Tempat Latihan Nyata untuk Jurusan Perhotelan

Melengkapi unit bisnis kuliner, SMKN 2 Batam juga mengelola Bertuah Edotel, hotel edukasi yang memberikan pengalaman kerja nyata bagi siswa jurusan Perhotelan.

Mereka bertugas mulai dari front office hingga housekeeping, bahkan malam hari dengan sistem shift. Meski tidak menerima gaji, pengalaman ini menjadi bekal kuat—banyak dari mereka sudah direkrut hotel sebelum lulus.

Edotel sempat vakum, tetapi kini hidup kembali setelah fasilitas dan akses diperbaiki.

“Tanpa dukungan industri, percuma SMK mencetak tenaga kerja,” tegas Refio.

No More Posts Available.

No more pages to load.