Fana di Ambang Kekal

oleh -
Fana di Ambang Kekal
Ilustrasi Puisi Fana di Ambang Kekal (AI)

Puisi: Denni Risman

“Aku ingin hidup seribu tahun lagi,”
kata Chairil
namun para arif tersenyum,
karena umur hanyalah tirai tipis
antara fana dan kekal.

Hidup untuk apa,
jika aku masih “aku”?
Jika nafsu duduk di singgasana,
dan Engkau hanya kusebut di bibir doa?

Malam-malam kulipat diriku sendiri,
kucari-Mu dalam sunyi yang retak.
Kutinggalkan dunia setahap demi setahap,
hingga tak ada yang tersisa selain rindu
yang tak bernama.

Aku belajar mati sebelum mati,
menanggalkan kehendak,
meleburkan ingin,
hingga aku lenyap dalam kehendak-Mu.

Panjang umur hanyalah ilusi,
jika belum sampai pada fana.
Sebab hidup yang berguna
adalah saat diri tiada,
dan Engkau semata yang ada.

Jika Kau panjangkan nafasku,
jadikan ia zikir yang berjalan.
Jika Kau singkat jalanku,
terimalah aku dalam baqa-Mu.

Tuhan,
aku tak ingin seribu tahun untuk dunia,
aku ingin satu detik
yang utuh di hadirat-Mu
cukup itu, dan aku selesai.


Batam, 27 Desember 2025

Puisi “Fana di Ambang Kekal” Karya Denni Risman Bermain di Wilayah Spiritual Filosofis yang Matang

Catatan YURNALDI, wartawan utama dan Penyair Indonesia

Puisi Fana di Ambang Kekal bergerak di wilayah spiritual-filosofis yang matang, dengan pijakan kuat pada tradisi tasawuf.

Sejak baris pembuka yang menggemakan Chairil Anwar —“Aku ingin hidup seribu tahun lagi”— penyair langsung melakukan dialog lintas zaman: antara semangat eksistensial modern dan kebijaksanaan kaum arif yang memandang umur sebagai “tirai tipis” antara fana dan kekal. Ini strategi pembuka yang cerdas, karena segera menempatkan pembaca pada ketegangan makna hidup.

Kekuatan utama puisi ini terletak pada kejujuran reflektif. Pertanyaan “Hidup untuk apa, jika aku masih ‘aku’?” adalah inti kritik spiritual yang tajam: umur panjang tanpa transformasi batin hanyalah perpanjangan ego. Penyair tidak berkhotbah, tetapi mengajak pembaca bercermin pada keberagamaan yang masih berhenti di bibir doa, belum menembus singgasana nafsu.

Secara tematik, puisi ini konsisten dan terjaga. Konsep-konsep kunci tasawuf—fana, baqa, mati sebelum mati, lenyap dalam kehendak Tuhan—hadir bukan sebagai istilah kosong, melainkan diolah menjadi pengalaman personal. Larik “Malam-malam kulipat diriku sendiri” dan “aku belajar mati sebelum mati” menunjukkan proses spiritual yang bertahap, sunyi, dan penuh perjuangan batin.

Dari sisi bahasa, diksi yang digunakan relatif sederhana, bersih, dan efektif. Tidak ada metafora yang berlebihan; justru kesederhanaan itu memperkuat kesan khusyuk dan kontemplatif. Repetisi kata “aku” yang kemudian dipertanyakan dan akhirnya diluruhkan menjadi strategi estetik sekaligus spiritual: ego dibangun hanya untuk kemudian dileburkan.

Penutup puisi menjadi klimaks yang kuat dan menenangkan. Penolakan terhadap “seribu tahun untuk dunia” digantikan oleh kerinduan pada “satu detik yang utuh di hadirat-Mu”. Ini bukan sikap anti-dunia, melainkan penegasan orientasi hidup: kualitas kehadiran lebih bernilai daripada panjangnya waktu. Baris terakhir “cukup itu, dan aku selesai” memberi kesan pasrah yang tuntas, bukan kelelahan, melainkan kepulangan.

Secara keseluruhan, Fana di Ambang Kekal adalah puisi spiritual yang matang, jujur, dan berakar pada tradisi, namun tetap relevan dengan kegelisahan manusia modern. Ia layak dibaca bukan hanya sebagai karya sastra, tetapi sebagai teks perenungan—mengajak pembaca menimbang ulang makna hidup, iman, dan kehadiran diri di hadapan Yang Kekal.

Padang, 30/12/2025

No More Posts Available.

No more pages to load.