Fetih 1453: Film Penaklukan Konstantinopel

oleh -
oleh

LenteraKepri.com, Batam – Penaklukan Konstantinopel (Istanbul), ibu kota Romawi Timur, oleh Sultan Turki Mehmed II (1432 – 1481), membawa peradapan Islam ke dataran benua Eropa.

Dari sini Kesultanan Turki Ottoman melakukan invasi militer keberbagai negara sekitar Laut Hitam, Laut Trakia, dan Mediterania, serta meninggalkan jejak peradapan Islam di negara-negara itu.

Penaklukan Konstatinopel itu divisualisasikan dalam film berjudul Fatih 1453. Versi buku juga ada dengan judul “Muhammad Al Fatih 1453”, dan “1453 Detik-Detik Jatuhnya Konstantinopel ke Tangan Muslim”. Dapat dibaca melalui aplikasi e-book, atau membeli buku versi cetak di toko-toko buku, dan pasar online.

Film Fetih 1453 disutradarai Faruk Aksoy, dan penulis skenario film oleh Melih Esat Darurat, Mesin Atilla, dan Irfan Saruhan. Beberapa artis yang bermain dalam film ini adalah Devrin Evin, Ibrahim, Celikkol, Dilek Serbest, dan Cengiz Coskun.

Film berdurasi 162 menit ini diproduksi oleh Aksoy Film, Med Yapim, dan Medyapim. Film ini rilis di 18 negara, seperti Indonesia, Malaysia, dan Azerbaijan, serta Turki, secara serentak pada 16 Februari 2012.

Penayangan film Fetih 1453 di seluruh dunia menghasilkan keuntungan sebesar 35,797 juta dolar AS, atau setara Rp1,934 triliun. Film Fetih 1453 juga mendapatkan penghargaan seperti Piala Sadri Alisik Cinema Award untuk kategori Promising Actor Award melalui aktor Ibrahim Celikkol.

Sinopsis Fetih 1453
Alur film dimulai dengan gambaran kota Madinah, waktu Rasulullah SAW mengatakan sebuah hadis, “Kota Konstantinopel akan jatuh ke tangan Islam. Pemimpin yang menaklukkannya adalah sebaik-baik pemimpin dan pasukan yang berada di bawah komandonya adalah sebaik-baik pasukan.” (H.R. Ahmad bin Hanbal Al-Musnad 4/335).

Alur berganti beberapa masa saat Mehmed II (Devrin Evin), anak dari Sultan Murad II dilahirkan di kota Edirne, Turki pada tanggal 29 Maret 1432 M. Bersamaan dengan lahirnya Mehmed II, banyak keajaiban yang terjadi seperti banyak kuda melahirkan anak kembar, hasil panen mencapai empat kali setahun, dan sebagainya.

Menginjak umurnya ke-12 tahun, Mehmed II diangkat menjadi sultan, karena ayahnya tidak mampu menyelesaikan perang dingin antara penasihat dan pemberontak. Hal ini dilakukan setelah anaknya, Aladdin meninggal dunia tanpa disangka-sangka.

Kedudukan Sultan Mehmed II ini tidak bertahan lama. Adanya kemungkinan ancaman serangan dari tentara salib, maka Perdana Menteri Halil Pasha, membuat Sultan Murad II sekali lagi naik tahta.

No More Posts Available.

No more pages to load.