Puisi: Ning
Di antara gemerisik hujan,
kutemukan bayangmu jatuh perlahan
seperti rahasia yang terlalu rindu
untuk tetap berdiam di langit.
Rintiknya menyentuh jendela
bagai jemari waktu
yang mengetuk-ngetuk ingatan,
menggugurkan kenangan
yang pernah kita selipkan
di antara detik dan denyut dada.
Kadang aku merasa,
hujan adalah engkau
yang kembali dari kejauhan:
menyusup lewat angin,
menjelma wangi tanah basah,
mengalir diam ke celah-celah sunyiku.
Dan kerinduan
adalah payung yang tak pernah utuh
selalu berlubang di bagian yang paling rapuh,
membiarkan setitik namamu
jatuh ke dalam dada
dan mekar menjadi luka yang lembut.
Malam ini,
hujan turun tanpa jeda,
seperti ingin menuliskan sesuatu
di halaman tubuhku.
Mungkin tentang kita.
Mungkin tentang pertemuan
yang tak jadi pulang.
Atau mungkin hanya ingin berkata:
bahwa rindu paling deras
selalu memilih turun sebagai hujan
menggenangi langkah,
menenggelamkan kata,
namun diam-diam
menyirami doa
yang tak pernah padam
untukmu.
Batam, 12122025
Ning adalah panggilan dari Sutarya Aryaningsih, S.Pd.
Dia adalah penyair perempuan paling produktif saat ini di Batam dan Provinsi Kepri.
Ning sehari-hari adalah Guru SDN 003 Batu Aji, Batam







