Berawal dari keberanian SMPN 26 mengungkap tabir ini, PWI Batam hadir bagai benteng untuk menghadang serangan pemberitaan yang muncul. Peperangan untuk memberantas premanisme berkedok wartawan semakin terarah. Bahkan, jika mereka berani menampakkan diri datang ke sekolah, PWI Batam siap menjadi garda terdepan menghadapi. Para kepala sekolah yang semula pesimis, bahkan secara massa ingin mengundurkan diri seakan mendapat jawaban dipenghujung harapan yang hampir pupus.
“Kita tidak ingin dunia pendidikan terganggu akibat oknum-oknum wartawan yang berperilaku bak preman ini,” tegas Kavi.
Dengan secercah harapan itu, mereka mulai bersatu, meminta PWI Batam memberikan wejangan bagaimana menghadapi para preman berkedok wartawan. Tidak hanya Batam, gabungan kepala sekolah SMA sederajat dari berbagai daerah di Kepri sampai mendatangi kantor PWI Batam untuk mengadu akan prilaku buruk ini.
Literasi Media Rendah, Media Abal-abal Menjamur
Mengutip keterangan Dosen Jurnalistik dari Fakultas Komunikasi dan Informasi Universitas Garut, Feri Purnama, yang terbit di prianganinsider.pikiran-rakyat.com, dengan judul berita “GILA, Preman Berkedok Jurnalis, PWI Garut: Ini Bukan Jurnalisme, Tapi Kriminalitas!”, menilai fenomena ini mencerminkan krisis etika di tengah menjamurnya media tanpa kredibilitas.
“Ini terjadi karena banyak media abal-abal yang tidak memiliki struktur redaksi jelas, tidak terdaftar di Dewan Pers, serta mempekerjakan orang-orang tanpa latar belakang jurnalistik. Mereka hanya bermodal kartu pers, tapi tidak tahu etika jurnalistik sama sekali,” ujarnya.
Feri menegaskan bahwa pekerjaan jurnalis yang sesungguhnya dijalankan berdasarkan kode etik yang ketat, menjunjung prinsip verifikasi, keberimbangan, dan tanggung jawab sosial. Tidak ada ruang bagi praktik ancam-mengancam ataupun permintaan imbalan untuk sebuah pemberitaan.
“Kalau ada yang mengaku wartawan lalu mengancam akan menulis berita buruk kecuali diberi uang, itu murni pemerasan. Itu bukan kerja jurnalistik, tapi tindakan kriminal,” tegasnya.
Badai Menerjang
Hal senada juga digaungkan Khafi serta Ketua PWI Kepri, Saibansah Dardani, bahwa pentingnya UKW. Malahan PWI Batam juga sudah menyebar stiker bertuliskan ‘Narasumber Berhak Menolak Wartawan yang Tidak Berkompeten’ ke sekolah-sekolah. Tujuannya hanya satu, membasmi preman berkedok wartawan.
Namun, masyarakat saat ini sudah cerdas. Berangkat dari pemberitaan yang dikeluarkan PWI Batam, akhirnya ruang gerak para oknum ini jadi terbatas. Para narasumber pun kini dengan berani mempertanyakan keabsahan itu, setiap wartawan yang datang sudah berkompetenkah?
Hanya saja, hal ini disalah artikan oleh kawan-kawan yang belum UKW. Pro dan kotra di lapangan menimbulkan asumsi publik beragam. Dengan keterbatasan pemahaman tentang pentingnya UKW, membuat sekelompok orang yang mengaku dirinya wartawan malah menggaungkan perlawanan. Menganggap jika bisa menulis dan menghasilkan produk jurnalistik, UKW tidak perlu lagi dilakukan.






