Kapal Terus Berlayar, Menerjang Badai di Tengah Perjuangan Marwah yang Terabai

oleh -
Perjuangan Marwah
Ilustrasi kapal PWI Batam berlayar menerjang badai dalam meperjuangkan marwah. (Foto: hasil AI)

Menilai pernyataan-pernyataan dari PWI Batam keliru, muncullah suatu perkumpulan yang mereka beri nama ‘Solidaritas Wartawan Batam’. Di dalamnya, didominasi oleh para wartawan belum melakukan UKW yang juga merasakan imbasnya. Berbagai upaya dilakukan untuk meminta Kavi mengklarifikasi pernyataan dalam berita yang menjadi produk PWI.

“Dua kali saya dihubungi oleh nomor yang tidak dikenal. Mereka mengaku wartawan dan ingin meminta saya mengklarifikasi pernyataan dalam berita yang terbit. Namun saat ditanya apa yang salah, tidak direspon,” ingat Kavi.

Sampai akhirnya pada Senin (9/6/2025), wartawan senior, Marganas Nainggolan, menghubunginya dengan mengatakan, “Ada wartawan yang meminta dipertemukan dengan Kavi. Mereka minta klarifikasi”. Jika bertannya siapa Marganas Nainggolan? Mungkin seantero Kota Batam ini sudah tidak asing lagi. Dialah tokoh pers, pendiri salah satu media besar di Batam. Apalagi semasa mudanya sangat disegani semua pihak. Mulai dari pengusaha, pejabat pemerintahan, aparat penegak hukum, dan bahkan tukang parkir pun mengenalinya.

Dihubungi sang legenda, Kavi tidak dapat menolak. Forum diskusi dibuat di sebuah ballroom hotel kawasan Harborbay yang diinisiasi dari pihak mereka. Sebagai ketua panitianya adalah Ali Saragih. Dia juga yang menghubungi Marganas dan meminta bantuannya untuk dipertemukan dengan Kavi dalam sebuah Forum diskusi bertajuk klarifikasi pers tentang ‘Wartawan Bukan Premanisme’ pada Sabtu (14/6/2025).

Forum Diskusi Berujung Emosi

Hadir dalam forum, Kavi dengan tegas menyatakan tidak ada yang perlu diklarifikasi. Semua pernyataan sudah jelas dan sesuai dengan UU Pers serta Peraturan Dewan Pers. Namun hal itu masih menimbulkan gejolak. Sudut pandang yang disampaikan masih ditentang. Bahkan seakan kehadirannya untuk dihakimi. Melihat situasi, Kavi memilih meminta izin meninggalkan forum. Sebanyak dua kali ia berpamitan dan bahkan sudah bersalaman dengan beberapa orang yang hadir, teriakan provokatif masih menggema dalam ruangan. Beberapa anggota PWI yang hadir juga nyaris terpancing emosi.

“Saya sudah berpamitan tapi masih dihalang-halangi. Dengan lantang saya sampaikan, siapa yang menghalami berarti akan berhadapan dengan kami. Jika merasa tidak senang ayo keluar, main kita,” ucapnya, menirukan perkataan saat kejadian..

Teriakan itu berbalas dengan serangan kepada dirinya hingga akhirnya mendapat kekerasan dari peserta yang sedari awal sudah tidak senang. Kejadian ini juga langsung disaksikan Marganas. Kecewa, merasa dijebak, semua itu ia lontarkan pada panita sebelum meninggalkan ruangan.

Betapa tidak, seorang yang seharusnya menjadi saksi hidup sejarah pembangunan Batam, dan merupakan legenda di dunia jurnalis harus merasakan kekecewaan di masa tuanya. Bahkan, dengan beraninya mereka menyandingkan sang legenda dengan seorang yang katakanlah dalam menerbitkan berita saja, belum mampu menerapkan Ejaan Yang Disempurnakan (EYD), pedoman resmi tentang kaidah Bahasa Indonesia.

Forum yang seharusnya menjadi ajang diskusi, justru membuktikan bahwa kegiatan itu sudah ditunggani oleh perilaku preman yang selama ini telah membuat citra wartawan tercoreng di dunia pendidikan. Padahal, niat tulus dua tokoh ini hadir dalam kegiatan itu jelas, ingin memberikan edukasi dan menyamakan persepsi untuk memerangi premanisme berkedok wartawan.

No More Posts Available.

No more pages to load.