Pengalaman ini ia ceritakan bukan mengharuskan wartawan harus bergabung dengan PWI. Hanya saja pada masa itu baru ada PWI. Dalam amanat UU Pers, wartawan harus bergabung dalam organisasi profesi yang diakui. Peran organisasi, salah satunya untuk menjunjung kemerdekaan pers, serta mendorong profesionalisme wartawan.
Organisasi wartawan juga menjadi mitra Dewan Pers dalam mengawasi pelaksanaan Kode Etik Jurnalistik dan memastikan praktik-praktik jurnalistik yang bertanggung jawab.
“Jadi, ketika kita ingin terjun ke dalam profesi, jangan mencoba melawan arus, jangan menentang apa yang telah ditetapkan. Namun berusahalah untuk masuk dan mengambil peran di dalamnya. Jadikan semua ini sebagai pelajaran, dan jadilah wartawan yang profesional,” pesannya.
Benang Kusut Mulai Terurai, Perjuangan Takkan Berakhir
Silaturahmi ini, menandakan benang kusut yang terjadi selama ini sudah mulai terurai. Tujuan memberikan pemahaman menemukan titik terang, bagai pelangi yang muncul pasca hujan melanda, seperti birunya langit yang muncul usai badai menerpa. Nahkoda bersama awak kapal juga siap mengarungi samudera, membawa perubahan, menebus segala dosa, kembalikan citra positif sebuah profesi yang diakui negara.
Meski nasi sudah menjadi bubur, jangan biarkan terbuang sia-sia. Saatnya meramu bubur menjadi hidangan yang sempurna. Kini, PWI Batam dan perkumpulan Solidaritas Wartawan Batam bersatu. Membina para wartawan untuk bisa berperilaku menjunjung etika jurnalistik, menciptakan citra positif yang bertujuan pada kesejahteraan jurnalis.
Kavi, juga mengajak seluruh pihak untuk bersama-sama memerangi perilaku wartawan bak preman ini. Seiring jalan, PWI Batam berencana mendirikan posko aduan masyarakat tentang perilaku wartawan yang menyimpang. Tujuannya, bukan untuk menghakimi, namun memberikan edukasi, agar profesi ini tidak ditunggangi tindakan kriminalisasi.
Tidak muluk-muluk, yang ia inginkan semua wartawan di Kota Batam bersatu. Bersatu untuk membangun benteng yang kokoh menuju kesejahteraan. Tidak ada lagi didengar pernyataan ‘wartawan abal-abal’. Semua sudah dibekali dengan Kode Etik Jurnalistik dan memiliki kompetensi sehingga kredibilitas dalam menghasilkan produk jurnalistik lebih diakui di tengah masyarakat.
“Perjuangan kami belum berakhir. Pantang untuk mundur walau selangkah. Kami yakin, masih ada badai yang harus diterjang dalam perjuangan kami menegakkan marwah,” lanjut Kavi.






