MBG Stop di Batam, Sekolah Sebut Ratusan Porsi Terbuang Sia-Sia: Pemborosan Anggaran?

oleh -
MBG Stop di Batam, Sekolah Sebut Ratusan Porsi Terbuang Sia-Sia: Pemborosan Anggaran?
Dilema berhentinya program MBG di Batam (ilustrasi/AI)

LenteraKepri.com, Batam – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kota Batam kembali menjadi sorotan setelah penghentian layanan di sejumlah sekolah memunculkan pro dan kontra. Di satu sisi, siswa mengaku kehilangan karena tak lagi mendapat makan siang gratis. Namun di sisi lain, pihak sekolah justru merasa lega karena selama program berjalan banyak makanan terbuang sia-sia setiap hari.

Salah satu kondisi itu terlihat di SMAN 3 Batam. Kantin sekolah yang sebelumnya sepi karena siswa mendapat jatah makan gratis dari pemerintah kini mulai kembali ramai sejak program dihentikan.

Wakil Kepala Sekolah Bidang Humas SMAN 3 Batam, Becek Tang, mengatakan penghentian program terjadi sejak awal semester 2026 setelah adanya surat pemberitahuan dari pihak Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).

“Kami cuma bisa menunggu,” ujar Becek Tang, Jumat (12/6/2026).

Menurutnya, pihak sekolah menerima informasi bahwa penghentian dilakukan karena adanya perbaikan fasilitas dapur pada SPPG yang melayani sekolah tersebut. Namun hingga kini belum ada kepastian kapan program akan kembali berjalan.

Bahkan sempat muncul wacana pengalihan layanan dari SPPG Buana Vista ke SPPG Legenda Malaka, tetapi rencana tersebut tak kunjung terealisasi.

Selama program berjalan, SMAN 3 Batam yang memiliki sekitar 1.700 siswa menghadapi persoalan lain, yakni banyaknya makanan yang terbuang setiap hari. Sekolah mencatat sekitar 100 hingga 200 porsi makanan tidak habis dikonsumsi siswa.

“Selera anak beda-beda. Ada yang tidak suka sayur, ada yang tidak suka lauk. Akhirnya banyak yang tidak dimakan,” ungkapnya.

Menurut pihak sekolah, kondisi itu dinilai menjadi pemborosan anggaran negara. Bahkan sekolah mengusulkan agar anggaran MBG lebih baik dialihkan untuk bantuan langsung kepada siswa kurang mampu atau mendukung operasional sekolah.

Selain persoalan makanan terbuang, guru-guru juga disebut kewalahan karena harus membantu proses distribusi ribuan paket makanan setiap hari di sela aktivitas belajar mengajar.

Para pedagang kantin sekolah pun ikut terdampak akibat menurunnya pendapatan selama program MBG berlangsung.

“Kami menunggu wacana pelibatan kantin dalam program ini. Tapi sampai sekarang belum ada mekanisme jelas,” tambah Becek.

Namun cerita berbeda datang dari kalangan siswa. Embun Gardina Rahim, siswa kelas XI SMAN 4 Batam, mengaku program MBG sangat membantu kebutuhan sehari-hari pelajar.

“Menurut saya cukup membantu. Kami jadi lebih fokus belajar karena tidak kepikiran makan siang,” katanya.

Sejak program dihentikan, siswa kembali harus membawa bekal sendiri atau membeli makanan di kantin sekolah.

“Kami harap program ini jalan lagi,” ujarnya.

Sementara itu, sebagian orang tua siswa memiliki pandangan berbeda. Merliana, wali murid SD Hang Tuah Bengkong, mengaku tetap menyiapkan bekal untuk anaknya sehingga tidak terlalu bergantung pada program MBG.

“Buat saya sama saja. Yang penting tepat waktu dan kualitasnya sesuai. Kalau anggarannya dialihkan untuk pendidikan atau orang miskin, itu lebih baik,” katanya.

Di sisi lain, Koordinator Wilayah SPPG Batam, Defri Frenaldi, meluruskan bahwa penghentian program sebenarnya terjadi sejak Maret 2026, bukan Januari 2026.

Menurut Defri, penghentian sementara dilakukan karena adanya perbaikan fasilitas pada dapur SPPG yang melayani sekolah tersebut. Pemerintah bahkan disebut telah menyiapkan SPPG pengganti, namun pihak sekolah memilih tidak melanjutkan layanan MBG.

“Saat akan dialihkan ke SPPG lain, kepala sekolah menolak dan memilih tidak menerima MBG,” jelas Defri.

Ia juga mengungkapkan bahwa persoalan ini tidak hanya terjadi di satu sekolah. Dari total 147 SPPG di Batam, masih terdapat 47 dapur MBG yang belum kembali beroperasi hingga pertengahan 2026.

Kondisi ini menunjukkan bahwa program MBG di Batam masih menghadapi berbagai tantangan, mulai dari persoalan teknis dapur, distribusi makanan, hingga efektivitas pelaksanaan di lapangan.

Sementara pemerintah pusat belum memberikan kepastian lanjutan program, banyak siswa di Batam kini hanya bisa berharap program makan gratis itu kembali berjalan tanpa menyisakan tumpukan nasi di tempat sampah.

No More Posts Available.

No more pages to load.