LenteraKepri.com, batam – Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) terus bergerak cepat untuk menekan angka pengangguran terdidik. Caranya, dengan memperkuat program link and match antara pendidikan vokasi dan dunia usaha.
Lewat sinergi strategis antara Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dan sejumlah perusahaan, peluang kerja bagi para lulusan kini kian terbuka lebar.
Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Kepri, Andi Agung, menegaskan bahwa kemitraan ini tidak sekadar seremoni. Menurutnya, kerja sama dengan industri dirancang agar kompetensi siswa benar-benar sesuai dengan kebutuhan dunia kerja.
“Kerja sama dengan industri tidak hanya sebatas MoU, tetapi juga mencakup penyusunan kurikulum, program magang, guru tamu dari industri, hingga penyerapan lulusan,” ujar Andi Agung, Kamis, 20 Agustus 2026, dilansir dari Bisnis.com.
Langkah ini sejalan dengan arahan Kementerian Pendidikan yang menjadikan sejumlah bidang keahlian SMK sebagai sektor prioritas. Dalam praktiknya, perusahaan dilibatkan langsung dalam menyusun materi pembelajaran dan menyediakan fasilitas Praktik Kerja Lapangan (PKL).
Para praktisi industri pun turun gunung menjadi guru tamu, memberikan gambaran nyata tentang kondisi dunia kerja kepada para siswa.
“Harapannya, ketika lulus mereka tidak lagi membutuhkan waktu lama untuk beradaptasi dengan lingkungan kerja karena sudah mendapatkan pengalaman dan kompetensi yang sesuai,” tambah Andi.
Implementasi kemitraan ini telah menunjukkan hasil yang signifikan. Berdasarkan data Dinas Pendidikan Kepri, ratusan perusahaan telah menjalin kerja sama dengan berbagai SMK Negeri di kabupaten/kota se-Kepri.
Kota Batam menjadi wilayah dengan jumlah serapan kemitraan tertinggi. Sebanyak 12 SMK Negeri di Batam tercatat memiliki total sekitar 450 kemitraan.
Rincian sekolah dengan jumlah kerja sama terbanyak di Batam adalah sebagai berikut:
SMK Negeri 05 Batam 110 kerja sama
SMK Negeri 11 Batam 60 kerja sama
SMK Negeri 10 Batam 43 kerja sama
SMK Negeri 01 Batam 42 kerja sama
SMK Negeri 07 Batam 34 kerja sama
SMK Negeri 08 Batam 34 kerja sama
Tren positif ini juga menyebar merata ke kabupaten/kota lainnya di Kepri.
Di Bintan, 4 SMK Negeri menjalin 195 kerja sama, Karimun dengan 5 SMK Negeri memiliki 135 kerja sama, Natuna melalui 5 SMK Negeri mencatat 49 kerja sama, Anambas dengan 4 SMK Negeri memiliki 40 kerja sama, dan Lingga dengan 4 SMK Negeri mencatat 29 kerja sama.
Andi menjelaskan, pola pengembangan pendidikan vokasi di Kepri tidak disamaratakan. Setiap wilayah mendapat pendekatan yang disesuaikan dengan potensi dan karakteristik ekonominya.
Untuk kawasan Batam-Bintan-Karimun (BBK), pendidikan vokasi difokuskan untuk menopang kebutuhan industri skala besar yang berkembang pesat di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK).
Sektor prioritasnya meliputi manufaktur berteknologi tinggi, industri minyak dan gas, galangan kapal, serta pariwisata.
Sementara itu, untuk kawasan Natuna, Anambas, dan Lingga, kurikulum diarahkan pada penguatan sektor ketahanan pangan, pemanfaatan sumber daya maritim, dan digitalisasi pelayanan daerah.
“Untuk wilayah Natuna, Anambas, dan Lingga, fokusnya tidak hanya menyiapkan tenaga kerja, tetapi juga mendorong lahirnya wirausahawan muda lokal agar potensi komoditas laut dan pertanian bisa diolah dan memiliki nilai tambah,” paparnya.
Ke depan, Pemprov Kepri berkomitmen untuk terus memperluas jaringan kerja sama ini. Dengan strategi yang tepat sasaran, pendidikan SMK di Kepri diharapkan mampu mencetak tenaga terampil yang memiliki sertifikasi kompetensi, pengalaman kerja, serta peluang rekrutmen langsung segera setelah mereka lulus.






