Perempuan Minang yang Mengubah Dunia Islam! Kisah Rahmah El Yunusiyyah, Pendiri Diniyah Putri dan Pahlawan Nasional Baru

oleh -
oleh
Perempuan Minang yang Mengubah Dunia Islam! Kisah Rahmah El Yunusiyyah, Pendiri Diniyah Putri dan Pahlawan Nasional Baru
Rahmah El Yunusiyyah, perempuan minang yang mengubah dunia Islam dan penerima Pahlawan Nasional 2025 (ist)

LenteraKepri.com, Jakarta – Indonesia kembali menorehkan sejarah penting dalam peringatan Hari Pahlawan Nasional tahun 2025.

Sosok ulama perempuan asal Minangkabau, Rahmah El Yunusiyyah, resmi dianugerahi gelar Pahlawan Nasional oleh Presiden RI Prabowo Subianto pada upacara kenegaraan di Istana Negara, Senin (10 November 2025).

Rahmah El Yunusiyyah adalah pendiri Madrasah Diniyah Putri Padang Panjang, sekolah agama Islam pertama khusus untuk perempuan di Indonesia — bahkan di Asia Tenggara. Ia dikenal sebagai pelopor emansipasi perempuan Muslim di awal abad ke-20, jauh sebelum isu kesetaraan gender menjadi arus utama.

Dari Padang Panjang ke Dunia Islam

Lahir di Padang Panjang, Sumatra Barat, pada 20 Desember 1900, Rahmah tumbuh dalam keluarga terdidik dan religius. Sejak muda, ia memiliki tekad kuat untuk memajukan kaum perempuan melalui pendidikan Islam modern.

Pada 1 November 1923, Rahmah mendirikan Diniyah Putri, lembaga pendidikan yang kemudian menjadi simbol kemajuan perempuan Muslim Indonesia.

Baginya, pendidikan bukan sekadar alat untuk berilmu, tetapi kunci pembebasan perempuan dari kebodohan dan ketertinggalan.

Rahmah menolak dikotomi antara perempuan dan laki-laki; ia justru berjuang agar keduanya maju sejajar dalam bingkai dakwah Islam.

Pejuang Pendidikan dan Penolak Kolonialisme

Keteguhan Rahmah diuji ketika pemerintah kolonial Belanda menerbitkan Ordonansi Sekolah Liar tahun 1932, aturan diskriminatif yang menekan sekolah pribumi.

Alih-alih tunduk, Rahmah justru memimpin Panitia Penolak Ordonansi Sekolah Liar di Padang Panjang, memperjuangkan hak bangsa untuk mendidik generasinya sendiri tanpa intervensi penjajah.

Selama lebih dari 46 tahun, ia memimpin Diniyah Putri dengan penuh pengorbanan. Harta pribadi dijual, tenaga dicurahkan, dan semangatnya tak pernah padam.

Di bawah kepemimpinannya, Diniyah Putri berkembang menjadi lembaga pendidikan unggulan dengan kurikulum modern, perpustakaan multibahasa, dan jenjang pendidikan lengkap dari taman kanak-kanak hingga perguruan guru Islam.

Bundo Kanduang Para Pejuang

Ketika Indonesia memproklamasikan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945, Rahmah termasuk orang pertama yang mengibarkan bendera Merah Putih di Sumatra Barat.

Ia juga mempelopori pembentukan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) dan menghimpun laskar-laskar Muslim untuk mempertahankan kemerdekaan.

Atas dedikasinya itu, masyarakat menjulukinya sebagai “Bundo Kanduang Para Pejuang”.

Menginspirasi Al-Azhar Kairo

Ketenaran Rahmah tidak berhenti di Indonesia. Pada tahun 1955, Rektor Universitas Al-Azhar Kairo, Dr. Syaikh Abdurrahman Taj, berkunjung ke Padang Panjang.

Ia terpukau melihat sistem pendidikan Islam di Diniyah Putri, yang memberikan ruang luas bagi Muslimah untuk belajar dan mengajar.

Kunjungan itu mengubah sejarah pendidikan Islam dunia.
Setelah kembali ke Mesir, Syaikh Abdurrahman Taj membentuk Kulliyatul Banat Al-Azhar, lembaga pendidikan khusus perempuan pertama di Universitas Al-Azhar.

Sebagai bentuk penghargaan, pada 1957 Rahmah El Yunusiyyah diundang ke Kairo untuk menerima gelar Doktor Honoris Causa — menjadikannya perempuan pertama dari luar dunia Arab yang mendapat kehormatan itu.
Sejak saat itu, dunia mengenalnya dengan gelar Syaikhah Rahmah El Yunusiyyah.

Warisan Abadi untuk Perempuan Indonesia

Rahmah wafat pada 26 Februari 1969 di Padang Panjang, meninggalkan warisan luar biasa bagi bangsa.
Hingga kini, Diniyah Putri Padang Panjang tetap berdiri kokoh sebagai lembaga pendidikan Islam unggulan dan simbol kebangkitan perempuan Muslim Indonesia.

Penganugerahan gelar Pahlawan Nasional 2025 menjadi pengakuan resmi atas perjuangan panjangnya dalam mendidik generasi bangsa, memperjuangkan emansipasi, dan menegakkan nilai-nilai Islam yang rahmatan lil alamin.

Sumber: republika

No More Posts Available.

No more pages to load.