LenteraKepri.com, Batam – Hari ini, Senin, 10 Agustus 2026, Indonesia memperingati Hari Kebangkitan Teknologi Nasional (Hakteknas) ke-31. Meski peringatan Hakteknas melewati usia tiga dasawarsa, Indonesai masih jauh tertinggal dibidang sains, riset dan teknologi dari negara-negara maju di Asia, bahkan di dunia.
Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Arif Satria mengatakan peringatan Hakteknas adalah momentum menegaskan kembali pentingnya riset dan inovasi sebagai fondasi utama pembangunan bangsa.
“Di tengah persaingan global yang semakin kompetitif, maka penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi tidak lagi menjadi pilihan, tapi keharusan, melainkan kebutuhan strategis untuk mewujudkan Indonesia yang berdaulat, maju, dan berdaya saing,” kata Arif Satria, Minggu (9/8/2026) melalui rilis BRIN.
HKTN, terang Arif Satria, memperkuat keyakinan bahwa masa depan Indonesia ditentukan oleh kemampuan menguasai ilmu pengetahuan, mengembangkan teknologi, serta menghadirkan inovasi yang memberikan solusi atas berbagai persoalan bangsa.
“Riset harus berdampak, inovasi harus memberikan manfaat, dan teknologi harus menjadi penggerak kesejahteraan masyarakat,” ujar Arif Satria, dalam rilis HKTN bertema ‘Teknologi Berdampak untuk Indonesia Berdaulat’.
Menurut Arif, tantangan pembangunan saat ini semakin kompleks, mulai dari ketahanan pangan, energi, kesehatan, pengelolaan sumber daya alam, perubahan iklim, transformasi digital, hingga penguatan industri berbasis teknologi tinggi.
“Seluruh tantangan tersebut hanya dapat dijawab melalui riset yang berkualitas, kolaboratif, dan mampu diterjemahkan menjadi kebijakan maupun inovasi yang dapat diterapkan secara luas,” terang Arif Satria.
Keberhasilan riset, terang Arif Satria, tidak cukup diukur dari jumlah publikasi ilmiah atau paten yang dihasilkan.
“Yang jauh lebih penting adalah sejauh mana hasil riset mampu memberikan dampak nyata, yaitu meningkatkan produktivitas, memperkuat daya saing industri, melahirkan lapangan kerja baru, meningkatkan kualitas hidup masyarakat, serta menjadi dasar penyusunan kebijakan publik berbasis bukti,” katanya.
Memasuki usia Hakteknas ke-31, BRIN mengajak seluruh elemen bangsa menjadikan inovasi sebagai budaya bersama. Pemerintah, perguruan tinggi, industri, komunitas, dan masyarakat diharapkan terus memperkuat kolaborasi sehingga ekosistem riset Indonesia semakin produktif dan mampu melahirkan solusi bagi berbagai tantangan pembangunan nasional.
Semangat Hari Kebangkitan Teknologi Nasional, sebut Arif Satria, harus menjadi energi bersama untuk membangun Indonesia yang semakin mandiri dan berdaulat dalam ilmu pengetahuan dan teknologi. Melalui kolaborasi, kreativitas, dan inovasi yang berkelanjutan, ucapnya, harus memastikan bahwa riset dan teknologi tidak berhenti sebagai pengetahuan atau temuan.
“Tetapi hadir sebagai solusi yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, memperkuat daya saing dan kemandirian bangsa, serta membuka peluang bagi terwujudnya Indonesia yang semakin adil dan makmur,” tutup Arif Satria.
Hakteknas ke-31 tahun 2026 diperingati dengan serangkaian kegiatan yakni, Anugerah Talenta Unggul Indonesia Innovator Award, dan Indonesia Innovator Lecture 2026 yang diselenggarakan bekerja sama dengan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP).
BRIN juga akan meresmikan Program Riset Kebijakan Pembangunan Merah Putih (PRIMA) sebagai program sinergi riset dan sinkronisasi kebijakan nasional yang menghasilkan riset terapan lintas sektoral.
