LenteraKepri.com, Batam – Persoalan sampah di Kota Batam kini mulai menarik perhatian investor lokal hingga mancanegara. Sejumlah perusahaan dari Indonesia, Jerman, Norwegia, Denmark, hingga Tiongkok datang menawarkan berbagai teknologi pengolahan sampah kepada Pemerintah Kota (Pemko) Batam.
Namun menariknya, meski banyak investor mulai melirik potensi pengelolaan sampah di Batam, hingga kini Pemko Batam belum menentukan teknologi maupun investor yang akan dipilih.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Batam, Dohar Mangalando Hasibuan, mengatakan sejumlah perusahaan telah menyampaikan ketertarikannya untuk terlibat dalam pengembangan sistem pengelolaan sampah di Kota Batam.
Dari dalam negeri, salah satu perusahaan yang disebut telah menunjukkan minat adalah Danantara Indonesia. Sementara investor asing berasal dari sejumlah negara maju, seperti Jerman, Norwegia, Denmark, hingga Tiongkok.
Meski demikian, pembicaraan tersebut masih berada pada tahap awal. Para calon investor belum mengajukan skema pembiayaan proyek secara konkret.
Saat ini, perusahaan-perusahaan tersebut masih fokus mempresentasikan teknologi yang mereka miliki untuk kemudian disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan pengelolaan sampah di Kota Batam.
“Pembiayaan itu belum ada kita. Mereka masih menyodorkan soal teknologi untuk pencocokan di Batam,” kata Dohar kepada Batam Pos, Minggu (30/8).
Menurut Dohar, pemerintah masih mempelajari berbagai teknologi yang ditawarkan. Karena itu, belum ada keputusan mengenai teknologi mana yang akan digunakan maupun pihak yang nantinya dipercaya mengelola pengolahan sampah berskala besar di Batam.
“Masih sebatas pemaparan teknologi. Pemerintah belum meng-acc,” ujarnya.
Batam Mulai Kurangi Ketergantungan pada TPA
Penjajakan investasi teknologi pengolahan sampah tersebut berlangsung di tengah upaya Pemko Batam membenahi sistem persampahan yang selama ini masih bergantung pada tempat pemrosesan akhir atau TPA.
Sebagian besar sampah dari kawasan permukiman selama ini langsung berakhir di TPA. Kondisi tersebut membuat beban tempat pembuangan akhir terus meningkat seiring pertumbuhan penduduk dan aktivitas ekonomi di Kota Batam.
Untuk mengurangi persoalan tersebut, DLH Kota Batam mulai mendorong perubahan sistem pengelolaan sampah dari hulu.
Salah satu langkah yang dilakukan adalah penataan tempat penampungan sementara atau TPS serta pengembangan TPS berbasis reduce, reuse, recycle (3R).
Melalui konsep TPS 3R, sampah tidak lagi seluruhnya langsung dikirim ke TPA.
Sampah dari kawasan permukiman terlebih dahulu dikumpulkan dan dipilah. Material yang masih memiliki nilai ekonomi maupun dapat didaur ulang akan dipisahkan untuk dimanfaatkan kembali.
Sementara sampah yang tidak dapat diolah atau menjadi residu baru akan dikirim ke TPA.
Dohar mengatakan pembangunan TPS 3R akan dilakukan secara bertahap di sejumlah kecamatan di Kota Batam.
Model pengelolaannya nantinya akan disesuaikan dengan karakteristik kawasan serta volume sampah yang dihasilkan di masing-masing wilayah.
Langkah ini menjadi bagian dari strategi Pemko Batam untuk mengurangi ketergantungan terhadap TPA sekaligus memperbaiki sistem pengelolaan sampah dari sumbernya.
Di sisi lain, pemerintah tetap membuka peluang masuknya investasi swasta untuk menghadirkan teknologi pengolahan sampah dalam skala besar.
BP Batam Juga Jajaki Teknologi Sampah Jadi Energi
Tidak hanya Pemko Batam, Badan Pengusahaan (BP) Batam juga mulai menjajaki teknologi pengolahan sampah modern.
Sebelumnya, BP Batam bertemu dengan perusahaan asal Jepang, JFE Engineering, untuk membahas teknologi waste to energy (WtE) atau pengolahan sampah menjadi energi.
Pertemuan tersebut berlangsung di Marketing Center BP Batam pada 22 Juni 2026.
Dalam pertemuan itu, kedua pihak melakukan pertukaran informasi teknis terkait kondisi persampahan di Batam.
Pembahasan meliputi kebutuhan kapasitas pengolahan, kesesuaian teknologi, hingga kemungkinan skema investasi yang dapat diterapkan.
Deputi Bidang Investasi BP Batam, Fary Djemy Francis, sebelumnya mengatakan teknologi waste to energy tidak akan menjadi satu-satunya solusi dalam mengatasi persoalan sampah di Batam.
Menurutnya, sistem pengelolaan sampah harus dibangun secara terintegrasi.
Mulai dari pengurangan sampah dari sumber, pemilahan, daur ulang, pengumpulan, pengangkutan, hingga pengolahan akhir.
Saat itu, BP Batam juga belum menetapkan lokasi proyek, kapasitas fasilitas, potensi energi yang dapat dihasilkan maupun skema pembiayaannya.
Banyak Investor Melirik, Batam Belum Tentukan Pilihan
Masuknya tawaran teknologi dari berbagai negara menunjukkan persoalan sampah Batam kini tidak hanya menjadi tantangan lingkungan, tetapi juga mulai dilihat sebagai peluang investasi.
Beragam teknologi pengolahan sampah kini berada dalam tahap penjajakan.
Namun, Pemko Batam belum ingin terburu-buru menentukan pilihan.
Pemerintah masih mempelajari teknologi yang paling sesuai dengan karakteristik sampah, kebutuhan masyarakat, kapasitas pengolahan, hingga kemampuan pembiayaan proyek.
Sembari menunggu perkembangan investasi dan teknologi pengolahan sampah berskala besar, DLH Kota Batam tetap melakukan pembenahan dari sisi hulu melalui penataan TPS dan pengembangan TPS 3R.
Strategi tersebut diharapkan dapat menjadi awal perubahan besar sistem pengelolaan sampah di Batam.
Ke depan, sampah diharapkan tidak lagi seluruhnya berakhir di TPA, tetapi dapat dipilah, didaur ulang, dimanfaatkan kembali, bahkan berpotensi diolah menjadi sumber energi.






