Tuan kata,
bencana ini karena hujan
seolah langitlah yang bersalah,
seolah awan adalah dalang gelap
yang menumpahkan murka tanpa alasan.
Padahal di balik gemuruh itu,
ada jejak-jejak kapak serakah
yang menebang akar doa,
mengiris hutan seperti mengiris kesabaran Tuhan.
Ada suara sungai yang dipaksa diam,
dibelokkan dari fitrahnya,
dikeruk isinya hingga tinggal tulang air
yang mengalir tanpa nyawa.
Tuan masih berkata,
“Ini takdir alam.”
Padahal tanah yang longsor
adalah surat panjang yang ditulis bumi
dengan huruf lumpur:
Aku kehilangan penyangga yang kalian rampas.
Lalu banjir bandang datang
bukan hanya air,
tetapi amarah purba
yang turun membawa kabar
bahwa kesombongan manusia
telah melewati batas.
Ratusan jiwa tenggelam dalam hitungan selawat,
kampung-kampung hanyut seperti dosa yang terbongkar,
anak-anak menggigil di pengungsian,
menatap langit dengan mata bertanya:
“Jika ini salah hujan, mengapa rumah kami hilang sebelum hujan datang?”
Sementara itu para tuan
duduk di meja yang tak pernah basah,
mengusap tangan yang tak pernah berlumpur,
berkata lagi,
lembut seperti menjelaskan hal kecil:
“Ini hanya musim yang tak bersahabat.”
Tapi malam tahu kebenaran,
dan doa-doa yang pecah dalam gelap
menjadi saksi sunyi:
bahwa yang merobek bumi
bukanlah hujan,
melainkan tangan-tangan manusia
yang tak lagi takut pada kemurkaan Tuhan.
Di balik bencana,
ada ayat-ayat alam yang berdarah,
ada peringatan yang turun
dalam gemuruh dan gulung lumpur
dan kita hanya bisa berbisik
di antara jasad dan puing:
“Ampuni kami, Ya Rabb,
kami yang menyalahkan langit
padahal yang berdosa adalah bumi
yang kami rampas sendiri.”
Denni Risman
Batam, 11122025







