LenteraKepri.com, Batam – Penanganan darurat pascagempa bumi magnitudo 7,7 yang mengguncang wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) terus dilakukan pemerintah bersama sejumlah instansi.
Sektor pendidikan menjadi salah satu bagian yang terdampak, dengan ribuan satuan pendidikan mengalami kerusakan dan puluhan ribu warga sekolah harus mengungsi.
Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen) Prof Atip Latipulhayat mengatakan, berdasarkan pendataan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), bencana tersebut telah menimbulkan korban dari lingkungan pendidikan.
“Tiga di antaranya peserta didik dan satu tenaga pendidik yang meninggal dunia, serta 38 ribu warga sekolah yang mengungsi,” ujar Atip, di NTT, Jumat (21/8/2026) dikutip aktual.com.
Selain menimbulkan korban jiwa dan pengungsian, gempa juga berdampak pada infrastruktur pendidikan. Kemendikdasmen mencatat sebanyak 1.378 satuan pendidikan terdampak bencana. Dari jumlah tersebut, 502 sekolah dilaporkan mengalami kerusakan berat.
“Gempa bumi berdampak pada 1.378 satuan pendidikan, dengan 502 sekolah di antaranya dilaporkan rusak berat,” tuturnya.
Kerusakan tersebut membuat kegiatan belajar mengajar di sejumlah wilayah tidak dapat berlangsung secara normal. Kondisi bangunan yang terdampak serta potensi gempa susulan menjadi pertimbangan pemerintah dalam menentukan pola pembelajaran selama masa darurat.
Untuk menjaga kegiatan pendidikan tetap berjalan, pembelajaran sementara dilakukan dengan menyesuaikan kondisi di masing-masing wilayah terdampak. Peserta didik dapat mengikuti kegiatan belajar dari rumah maupun lokasi pengungsian.
“Pembelajaran dilaksanakan dari rumah dan tempat pengungsian agar menghindari bangunan yang berpotensi roboh dan melukai akibat gempa susulan yang terus berlangsung,” imbuh Wamendikdasmen.
Pemerintah pusat kemudian menyiapkan sejumlah langkah untuk mendukung keberlangsungan pendidikan di tengah situasi darurat. Kemendikdasmen berkoordinasi dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) serta instansi terkait untuk mempercepat pemulihan layanan pendidikan bagi anak-anak di wilayah terdampak.
Salah satu langkah yang disiapkan adalah penyediaan ruang kelas darurat. Tenda akan didistribusikan ke sekolah-sekolah yang mengalami kerusakan berat sehingga kegiatan pembelajaran dapat kembali berlangsung tanpa menggunakan bangunan yang dinilai berisiko.
“Saat ini akan didistribusikan tenda yang diharapkan dapat mulai digunakan sebagai ruang kelas darurat bagi sekolah yang mengalami rusak berat,” pungkasnya.
Tim Kemendikdasmen telah berada di wilayah terdampak sejak 16 Agustus 2025. Selain melakukan penanganan dan koordinasi, tim membawa bantuan yang kemudian disalurkan ke sejumlah daerah yang terdampak gempa.
Kemendikdasmen juga telah menerbitkan panduan pembelajaran pada masa darurat. Panduan tersebut memberikan fleksibilitas dalam penggunaan moda dan materi pembelajaran sesuai dengan kondisi di lapangan.
Tidak hanya aspek akademik, dukungan psikososial juga menjadi bagian dari panduan tersebut. Langkah ini ditujukan agar peserta didik dan warga sekolah yang terdampak bencana tetap mendapatkan pendampingan selama menghadapi kondisi darurat.
Dengan kerusakan yang cukup luas pada satuan pendidikan, pemerintah terus mendorong agar layanan pendidikan tetap berjalan secara bertahap. Penggunaan ruang kelas darurat dan pembelajaran dari lokasi yang aman menjadi bagian dari upaya menjaga aktivitas belajar anak-anak NTT selama proses penanganan dan pemulihan pascagempa berlangsung.








