Melodi Sendu di Batam: Riwayat Para ‘Robin Hood’ yang Dicintai Rakyat dan Dikejar Hukum

oleh -
Robin Hood
Ilustrasi penegakan hukum dan mafia yang deermawan. (foto: Dokumen yang dibuat dengan AI)

LenteraKepri.com, Batam – Di bawah temaram langit pesisir Batam, keadilan sosial sering kali tidak mengetuk pintu gubuk warga melalui selembar surat keputusan pejabat atau pidato manis dari mimbar dewan. Bagi sebagian orang yang hidupnya terjepit di antara debu pelabuhan dan kerasnya hantaman ekonomi, keadilan itu datang dengan cara yang amat sunyi: diantarkan oleh tangan-tangan dingin para penguasa dunia hitam.

Ketika derap langkah Bareskrim Polri menyergap Basri Lewaimang di Johor Bahru, Malaysia, atas tuduhan mengendalikan pasokan 40.000 butir ekstasi per bulan ke Tempat Hiburan Malam (THM) Planet Group, dunia digital Batam tidak sekadar riuh oleh caci maki.

Di sudut-sudut kampung tua, di balik kepulan asap warung kopi pinggiran, mengalir untaian doa dan air mata yang tulus untuk sang buronan. Bagi mereka yang anaknya pernah ditebus dari rumah sakit karena tak punya biaya, atau yang dapurnya kembali mengepul karena sebongkah beras pemberiannya, Basri adalah pelindung yang nyata.

Duka ini memicu dejavu kolektif, memutar kembali memori kelam satu dekade silam tentang Ahmad Mahbub alias Abob. Jauh sebelum nama Basri mencuat, Abob adalah sang “Raja Minyak” legal dari Belakangpadang yang merajai penyelundupan bahan bakar bernilai triliunan rupiah.

Kisah Abob berakhir ngilu; ia kehilangan seluruh kejayaannya dan mengembuskan napas terakhirnya sebagai pesakitan di balik jeruji besi pada Agustus 2022 akibat komplikasi penyakit. Namun, hingga hari pemakamannya, masyarakat pulau melepasnya dengan isak tangis.

Abob adalah penyambung napas bagi ribuan kepala keluarga di saat negara absen menyediakan lapangan kerja.

Dua zaman telah berganti, dua komoditas haram yang kontras telah diadili, minyak subsidi dan racun ekstasi. Namun, mereka melahirkan denyut penerimaan sosial yang serupa. Sebuah pertanyaan besar mengapung di atas Selat Malaka: Mengapa bumi Batam begitu subur melahirkan dan mencintai para “Robin Hood” dari ruang remang-remang?

Nestapa ‘Rakyat Kecil’ dan Ilusi Kedermawanan

Membaca fenomena Abob dan Basri dari kacamata sosiologi struktural adalah melihat potret kejenuhan akut (societal fatigue) masyarakat kelas bawah terhadap dinginnya kebijakan ekonomi makro pemerintah. Batam megah dirancang sebagai etalase investasi, berkilau dengan angka statistik pertumbuhan yang dipamerkan di atas meja-meja rapat Jakarta.

Namun, bagi masyarakat tempatan yang tersingkir ke sudut-sudut sepi, kemegahan itu terasa asing, tinggi, dan tak tersentuh. Secara moral dan hukum, jalan yang ditempuh oleh para figur dunia hitam ini sepenuhnya keliru. Tidak ada pembenaran atas bisnis racun narkoba ataupun penjarahan subsidi negara. Cara mereka salah, hitam, dan merusak.

Hanya saja, bagi perut-perut yang lapar, teori hukum itu kalah bising dari deru sepeda motor yang mengantarkan karung-karung beras ke rumah mereka. Di tengah badai hidup rakyat kecil, kehadiran para “Robin Hood” ini justru dirasa sangat nyata, hangat, dan hidup kontras dengan bayang-bayang bantuan pemerintah yang kerap kali hanya manis di atas kertas dokumen.

“Rakyat di akar rumput tidak makan angka inflasi atau kurva pertumbuhan ekonomi; mereka butuh kepastian bisa makan esok hari,” tutur seorang pengamat sosial di Kepulauan Riau.

No More Posts Available.

No more pages to load.