LenteraKepri.com, Batam – Kelompok milisi Houthi Yaman meminta agar Turki dan Pakistan tidak ikut serta dalam pertempuran antara Arab Saudi dan kelompok mereka.
Dalam pernyataan kepada kantor berita Rusia RIA Novosti, anggota biro politik Houthi, Hizam Al Asad, menyatakan konflik antara kelompoknya dan Saudi berangkat dari “agresi” Riyadh dan pengepungan terhadap Yaman selama belasan tahun.
“Kami berharap pemerintah Pakistan dan Turki menahan diri untuk berpartisipasi dalam agresi Saudi dan pengepungan yang dikenakan pada negara kami, yang telah berlangsung selama lebih dari 11 tahun dan telah mengakibatkan puluhan ribu korban jiwa,” kata Al Asad, seperti dikutip Middle East Monitor.
Turki dan Pakistan awal pekan ini memutuskan menolong Arab Saudi melawan serangan Houthi. Keputusan itu diambil berdasarkan Pakta Pertahanan Mekkah yang diteken pada Agustus lalu, yang menetapkan bahwa serangan terhadap salah satu anggota sama dengan serangan terhadap semua anggota.
Konflik Houthi dan Saudi memanas setelah bandara di ibu kota Sanaa yang dikuasai Houthi diserang pada 13 Juli lalu. Houthi menuduh Saudi dalang serangan tersebut.
Konflik Houthi dan Saudi pada dasarnya bermula setelah Riyadh mengintervensi perang saudara Yaman yang meletus pada tahun 2014. Kedua pihak sempat gencatan senjata pada 2022 namun kembali bertempur usai insiden di bandara Sanaa.







