Ironi Hari Kebebasan Pers 2026: Dunia Makin Memburuk, Indonesia Turun ke Peringkat 129!

oleh -
Ironi Hari Kebebasan Pers 2026: Dunia Makin Memburuk, Indonesia Turun ke Peringkat 129!
Indeks kebebasan pers di dunia saat ini, anjlok (llustrasi)

LenteraKepri.com, Batam – Setiap 3 Mei, dunia memperingati World Press Freedom Day sebagai momentum refleksi atas kebebasan pers. Tahun ini, peringatan diselenggarakan Konfrensi Global oleh UNESCO di Lusaka, Zambia, pada 4–5 Mei 2026.

Namun pertanyaannya, apakah pers benar-benar sudah bebas hari ini?

Faktanya justru mengejutkan. Berdasarkan laporan terbaru Reporters Without Borders (RSF) 2026, kondisi kebebasan pers global kini berada di titik terendah dalam 25 tahun terakhir.

Lebih dari setengah negara di dunia kini masuk dalam kategori “sulit” hingga “sangat serius” bagi jurnalis.

Salah satu indikator paling mengkhawatirkan adalah anjloknya jumlah populasi yang hidup di negara dengan kebebasan pers “baik”. Saat ini, angkanya bahkan kurang dari 1 persen—turun drastis dibanding awal 2000-an yang masih sekitar 20 persen.

Tak hanya itu, tren kriminalisasi terhadap jurnalis juga semakin meningkat. Lebih dari 60 persen negara dilaporkan menggunakan hukum pidana hingga regulasi darurat untuk membungkam kerja jurnalistik.

Dalam daftar negara, Norwegia masih menjadi yang terbaik selama 10 tahun berturut-turut, disusul Belanda dan Estonia. Sebaliknya, Eritrea berada di posisi terbawah, diikuti Korea Utara, China, Iran, dan Arab Saudi.

Indonesia Ikut Terpukul

Bagaimana dengan Indonesia?

Dalam indeks kebebasan pers 2026, posisi Indonesia turun ke peringkat 129 dari 180 negara. Statusnya kini masuk kategori “difficult” atau sulit, sebuah sinyal serius bagi dunia jurnalistik nasional.

Penurunan ini bukan tanpa sebab. Dalam beberapa tahun terakhir, tren negatif terus terjadi: dari peringkat 108 (2023), 111 (2024), 127 (2025), hingga kini 129.

Beberapa faktor utama yang menjadi sorotan antara lain meningkatnya tekanan hukum terhadap jurnalis, penggunaan pasal-pasal bermasalah, hingga serangan digital dan intimidasi fisik.

Selain itu, konsentrasi kepemilikan media oleh elit politik juga dinilai mengancam independensi redaksi.

Refleksi di Hari Kebebasan Pers

Momentum Hari Kebebasan Pers Sedunia tahun ini menjadi pengingat keras bahwa kebebasan pers bukan sesuatu yang bisa dianggap selesai.

Di tengah meningkatnya tekanan global, peran jurnalis sebagai pilar demokrasi justru semakin krusial, namun juga semakin rentan.

Pertanyaannya kini, apakah kebebasan pers masih bisa diperjuangkan di tengah tantangan yang kian kompleks?

Jawabannya ada pada komitmen semua pihak untuk menjaga ruang informasi tetap bebas, independen, dan berpihak pada kebenaran.

No More Posts Available.

No more pages to load.