LenterKepri.com, Batam –Â Rendi, seorang warga negara Indonesia, asal Ranai, Kabupaten Natuna, Provinsi Kepulauan Riau, meninggal di medan tempur Rusia-Ukraina. Rendi diketahui bekerja sebagai tentara bayaran untuk Republik Federasi Rusia.Â
Kepala Balai Pelayanan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP3MI) Provinsi Kepri Kombes Pol Imam Riyadi S.I.K., M.H., membenarkan ada warga negara Indonesia (WNI) asal Ranai, Kabupaten Natuna, meninggal di Rusia, dan bekerja sebagai tentara bayaran.Â
Keberangkatan dan perekrutan Rendi sebagai tentara bayaran untuk Republik Federasi Rusia dalam perang Ukraina-Rusia, jelas Imam Riyadi, dipastikan tidak melalui jalur resmi.Â
“Dia bekerja melalui jalur tidak resmi. Tidak melalui lembaga perekrutan tenaga kerja Indonesia,” kata Imam Riyadi, kepada awak media melalui telepon whatsapp, Rabu (29/9/2026).
BP3MI Kepri, jelas Imam Riyadi, telah melakukan penelusuran data terhadap warga negara Indonesia asal Natuna, atas nama Rendi tersebut. Namun, jelas Imam, yang bersangkutan tidak terdaftar sebagai salah satu pekerja migran Indonesia (PMI) di luar negeri.
“Kita sudah melakukan penelusuran melalui Sistem Komputerisasi Pelayanan Penempatan dan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia, dan ternyata nama (Rendi) itu tidak ada terdaftar sebagai pekerja migran,” tutur Imam.
Dengan demikian, jelas Imam, dapat dikatakan Rendi berangkat atas keinginan seorang diri, dan atau bekerja berdasarkan kehendak sendiri untuk bekerja sebagai tentara bayaran yang berperang untuk Republik Federasi Rusia.
BP3MI Kepri, terang Imam, juga sudah menyampaikan adanya warga Indonesia asal Natuna tersebut ke Jakarta, dan ternyata juga tidak ada WNI atas nama Rendi.
“Jadi kita juga tidak tau bagai mana cara mereka (Rendi) masuk kesana, karena tidak ada datanya. Mungkin bagaimana dia bisa kesana dapat ditelusuri melalui keterangan dari keluarganya,” terang Imam.
Informasinya, Rendi meninggalkan Ranai, Natuna, sekitar tahun 2022. Dia sempat tinggal dan bekerja di Tanjungpinang dan Kota Batam sebelum singgah di Jakarta, dan selanjutnya ke Filipina. Rendi diketahui punya spesialisasi kerja dibidang jaringan internet dan telekomunikasi (IT).
Sekitat bulan Februari-Maret 2026, keluarga Rendi mendapat informasi bahwa dia berada di Dubai, sebelum ke Rusia sekitar Mei 2026. Di Rusia, semula Rendi bekerja dibidang logistik, dan baru sebulan belakangan dipindah tugas ke medan perang Rusia-Ukrania sebagai tentara bayaran bagian logistik.Â
Pada 18 September 2026, Rendi terakhir kali menghubungi saudaranya di Ranai, Natuna. Ia mengabarkan akan dikirim ke front depan perang menghadapi pasukan Volodymyr Zelenskyy.
Naas, mobil militer yang dia naiki diserang drone kamikaze Ukraina, dan meningggal di tempat bersama rekan-rekan tentara yang berada di dalam truk. Meninggalnya Rendi disampaikan oleh rekannya sesama pasukan bayaran Rusia.
Sebagai tentara bayaran yang memihak pemerintah Rusia, dikabarkan Rendi memperoleh kontrak senilai Rp 600 juta, di luar gaji dan lain-lain pendapatan yang nilainya diperkirakan mencapai puluhan juta tiap bulan. Selama bekerja di Rusia, Rendi mengirimkan uang antara Rp 20 juta sampai Rp 50 juta tiap bulan kepada keluarganya di Ranai. Â






