LenteraKepri.com, Batam – Kota Batam memiliki museum sejarah yang teletak di dalam kawasan Engku Putri, komplek perkantoran Wali Kota Batam, di Batam Centre.
Museum berwarna putih itu diberi nama Museum Raja Ali Haji. Diambil dari nama pahlawan nasional, pujangga, penyusun kamus bahasa Melayu, dan tokoh budaya. Posisi gedung museum ini percis berada dibelakang Kantor Wali Kota Batam, diseberang lapangan upacara.
Di museum ini bisa dilihat perkembangan Kota Batam dari masa ke masa. Dari zaman kerajaan Lingga, masa kolonial Belanda, Jepang, pasca kemerdekaan, di era Ibnu Sutowo, Burhanudin Jusuf Habibie, dan era Pemerintahan Kota Batam saat ini.
Di museum ini setidaknya ada 60-an artefak yang sudah didata dan diketahui apa saja kegunaannya, serta puluhan artefak yang belum didata, seperti puluhan keramik, dan guci sumbangan dari Bea Cukai, yang dipajang di depan loket masuk museum.
Ada juga benda-benda replika yang dipergunkan buat acara-acara adat di era kerajaan Lingga. Baju khas Melayu Lingga, keris, tombak, alat permainan anak-anak, sepeda jadul, dan beberapa tanda jabatan kerajaan (tanjak) ada di lantai pertama museum.
Artefak yang asih asli juga ada dipamerkan di museum ini seperti dua meriam dari Pulau Buluh, pulau dimana dimakamkan Temenggung Abdul Jamal.
“Hanya meriamnya saja yang dipamerkan, sedangkan peluru meriam, disimpan di Museum Angkatan Laut di Tanjung Pinang,” kata Rusman, penjaga Museum Raja Ali Haji, Rabu (05/08/2026).
Museum ini juga dilengkapi dengan foto-foto dokumentasi pembangunan Kota Batam dari masing-masing era, dan sebagian foto-foto dokumentasi era kolonial, yang merupakan copy-an dari museum Leiden, Belanda.
“Ada juga laptop dan hand phone yang dipergunakan Bapak Habibie yang disumbangkan buat museum ini,” jelas Rusman, sambil mengajak keetalase yang berisi satu unit laptop tebal, dan handphone jadul dilantai bawah gedung museun dua lantai itu.
Pencahayaan di museum ini terasa redup, pengap, lantai gedung museum rusak, dan ruangan era Kota Batam sekarang, terlihat kosong. Rusman mengatakan museum ini rencananya akan dilakukan pengrehaban dalam waktu dekat, umtuk memperbaiki lantai yang sudah lapuk.
“Kemungkinan rehab akan dilakukan pada bulan depan. Rehab akan belangsumg dua bulan. Selama rehab berlangsung, museum tidak dibuka buat umum,” terang Rustam, yang ditemui sedang bertugas sendiri di museum itu.
Posisi museum yang berada berdekatan dengan pelabuhan, dan hotel, serta mudah diakses mengunakan berbagai kendraan, menjadikannya objek kunjungan wisatawan.
“Ramai wistawan asal Malaysia, dan Singapura yang datang ke museum ini. Mereka ada yang datang melalui travel, dan ada juga yang datang langsung secara rombongan. Wisman ini biasa ramai datang pada hari Jumat sampai Minggu,” tutur Rusman.
Museum Raja Ali Haji, sebut Rusman, tidak dibuka pada hari Senin, serta hari libur nasional. Museum ini buka dari pukul 09.00 WIB sampai pukul 16.00 WIB, dai hari Senin sampai Minggu..






