LenteraKepri.com, Batam — Seorang pengusaha berinisial BJ menjadi korban perampokan dan pemerasan yang dilakukan oleh sekelompok orang berpakaian preman yang mengaku sebagai anggota Badan Narkotika Nasional (BNN).
Peristiwa mengejutkan itu terjadi di ruko milik BJ di kawasan Bunga Raya, Botania 1, Kota Batam, pada Sabtu (16/10/2025) malam sekitar pukul 22.00 WIB.
Menurut pengakuan BJ, delapan pelaku datang menggunakan dua mobil, mendobrak pintu tanpa menunjukkan identitas resmi, lalu langsung menodongkan senjata api ke arah dirinya.
“Mereka datang brutal, dobrak pintu, todong pistol, tanpa surat perintah apa pun,” ujar BJ dengan wajah pucat saat ditemui wartawan, Minggu (2/11/2025).
Para pelaku kemudian mengaku menemukan bungkus plastik berisi serbuk putih yang disebut sebagai sabu. Namun, BJ meyakini barang itu sengaja diselundupkan untuk menjebaknya.
“Saya tidak pernah memakai narkoba. Saya yakin itu jebakan,” tegasnya.
Setelah satu jam situasi mencekam, para pelaku mengancam akan membawa BJ ke kantor BNN jika tidak memberikan “uang damai”. BJ diminta membayar Rp1 miliar agar kasus tidak dilanjutkan.
Karena ketakutan dan istrinya yang sedang hamil histeris, BJ akhirnya menyerahkan Rp300 juta hasil pinjaman dari keluarganya malam itu juga.
Tujuh dari Delapan Pelaku Oknum Denpom
Dua hari kemudian, BJ baru mengetahui fakta mencengangkan: tujuh dari delapan pelaku adalah oknum anggota Detasemen Polisi Militer (Denpom), dan satu lainnya anggota Polri dari Polda Kepri.
“Ini bukan operasi hukum, tapi pemerasan terorganisir,” kata BJ tegas.
Kasus ini membuat istri BJ mengalami trauma berat hingga enggan kembali ke rumah.
“Setiap mendengar suara mobil berhenti di depan rumah, dia langsung menangis ketakutan,” ungkapnya.
Lebih parah lagi, dua pelaku sempat kembali menghubungi BJ dan menawarkan “jasa pengamanan” lewat WhatsApp dengan tarif Rp30 juta per bulan.
BJ pun menyimpan bukti percakapan itu sebagai barang bukti untuk dilaporkan ke Puspom TNI dan Propam Polda Kepri.
“Saya ingin mereka diadili. Kalau dibiarkan, masyarakat bisa jadi korban berikutnya,” tutup BJ.







