Puisi Ombak yang Menuntun Pulang, Menghadirkan Peringatan Penting

oleh -
oleh
Puisi Ombak yang Menuntun Pulang, Menghadirkan Peringatan Penting
Yurnaldi, kritisi sastra dan wartawan senior (ist)

LenteraKepri.com, Batam – Di tengah hiruk pikuk hidup yang semakin bising, kita sering lupa bahwa hati manusia sesungguhnya hanyalah sebuah “perahu kecil”. Ia rapuh, mudah terombang-ambing, dan bisa tersesat kapan saja oleh gelombang yang datang dengan cara yang tak selalu bisa kita prediksi.
Ada hari ketika ombak terasa lembut, dan ada waktu ketika gelombang mengguncang seolah ingin merontokkan keyakinan yang paling dalam. Di sanalah puisi ini berbicara, bukan hanya sebagai karya sastra, tetapi sebagai cermin perjalanan batin yang dialami banyak orang.

Puisi “Ombak yang Menuntun Pulang” karya Denni Risman mengingatkan kita bahwa manusia hidup di antara dua samudra: samudra dunia yang penuh riak dan samudra keheningan batin yang jauh lebih luas.

Kita sering khawatir tentang badai di luar, tetapi lupa bahwa kebisingan terbesar justru datang dari dalam diri sendiri—dari kecemasan, ketakutan, dan rasa kehilangan arah.

Ketika penyair menulis bahwa “lebih luas lagi keheningan yang Kau tanam dalam jiwaku”, ia sedang menunjukkan bahwa ruang paling hening itu bukan ada di luar, tetapi ditanam oleh Tuhan di kedalaman diri kita. Kita hanya perlu berani menengoknya.

Ombak dalam puisi itu bukan sekadar gelombang air. Ia adalah pesan, tanda, bahkan teguran halus yang kerap hadir justru ketika kita merasa paling tersesat. Ketika badai menggulung perahu kecil itu, ketika gelap terasa tak bertepi, justru di sanalah ombak bekerja: bukan untuk menenggelamkan, tetapi untuk mengangkat kembali, menuntun pulang, mengingatkan kita kepada cahaya yang pernah kita abaikan.

Perjalanan hidup, betapapun melelahkan, ternyata selalu memiliki arah selama nama-Nya masih disebut dalam diam.

Di dunia yang semakin memuja kecepatan, prestasi, dan gemuruh pencapaian, puisi ini menghadirkan peringatan penting: bahwa pulang bukan soal lokasi—bukan kota, bukan rumah, bukan tanah kelahiran—butuh lebih dari itu.

Pulang adalah peristiwa spiritual. Ia adalah rekonsiliasi dengan diri sendiri. Ia adalah kesadaran bahwa manusia datang dari satu sumber, dan pada akhirnya kembali kepada-Nya.
Seperti ombak yang datang dan pergi, lari dan kembali, manusia pun digerakkan oleh ritme hidup yang tak selalu kita pahami, tetapi selalu berujung pada pangkuan yang sama: pangkuan yang abadi.

Puisi ini juga menyentil ego kita yang sering merasa bisa mengendalikan arah hidup sepenuhnya. Kita lupa bahwa tanpa angin, tanpa ombak, tanpa cahaya, perahu kecil itu tak lebih dari kayu yang hanyut.

Kita bisa berusaha sekuat tenaga, tetapi ada wilayah hidup yang sepenuhnya berada di luar kendali kita, dan justru karena itulah kita membutuhkan “ombak yang menuntun”. Bukan untuk menyerah, tetapi untuk mengerti bahwa ketundukan yang tulus bukanlah kekalahan, melainkan bentuk tertinggi dari kedewasaan spiritual.

Puisi ini akhirnya mengajarkan bahwa perjalanan manusia bukanlah perjalanan menjauh dari badai, tetapi perjalanan menemukan makna di dalam badai.

Kita tidak akan pernah benar-benar tersesat selama masih ada keyakinan yang kita jaga, doa yang kita bisikkan, dan harapan yang belum padam. Dan kita tidak akan pernah jauh dari rumah sejati kita, sebab rumah itu selalu mengikuti kita: ia hidup sebagai keheningan yang mendalam, sebagai panggilan lembut, sebagai ombak yang menuntun pulang.

Jika hari ini Anda merasa terombang-ambing, mungkin bukan karena Anda jauh dari tujuan, tetapi karena ombak sedang menuntun Anda ke arah yang seharusnya.

Kadang pelajaran terbesar justru hadir di tengah gelombang, bukan di pantai yang tenang. Sebab pada akhirnya, seperti kata sang penyair, “tidak ada laut yang benar-benar kudatangi, selain Engkau, Samudra yang paling hakiki.”

Dan dari sanalah semua perjalanan pulang bermula.

Oleh: Yurnaldi

Catatan Apresiatif Yurnaldi, wartawan utama dan sastrawan yang peroleh Apresiasi 40 Tahun Lebih Berkarya dari Badan Bahasa Kementerian Dikdasmen, tahun 2025.

Padang, 11/12/2025.