LenteraKepri.com, Batam – Amerika Serikat (AS) dilaporkan bersiap mengerahkan tambahan pasukan dan jet tempur ke Israel dalam beberapa pekan mendatang. Langkah ini dilakukan di tengah kekhawatiran meningkatnya eskalasi militer di Timur Tengah.
Mengutip media Israel Walla, sekitar 3.000 personel AS saat ini telah berada di berbagai wilayah Israel. Mereka bertugas mengoperasikan sistem pertahanan udara, mendukung operasi penerbangan, menangani logistik, serta menjadi penghubung langsung di markas militer.
Meski rotasi pasukan rutin tetap berlangsung, pejabat pertahanan mengatakan personel tambahan dan pesawat tempur baru akan segera tiba untuk memperkuat kemampuan militer AS yang sudah ada. Pengerahan tersebut dikoordinasikan dengan Komando Pusat AS (CENTCOM) dan Pasukan Pertahanan Israel (IDF).
Seorang pejabat senior keamanan Israel mengatakan kepada Walla bahwa berbagai pihak di kawasan tengah memantau perkembangan politik di Israel dan AS. Mereka juga mencari cara untuk mengubah keseimbangan regional tanpa memicu perang terbuka.
“Mereka memahami bahwa respons Israel kali ini akan sangat agresif,” ujarnya, seperti dikutip TRTWorld, Senin (5/10/2026).
Perencanaan operasional AS-Israel saat ini berfokus pada kemungkinan serangan balasan dan sasaran di wilayah Iran apabila Teheran kembali meluncurkan rudal balistik.
Peningkatan kesiagaan itu berlangsung ketika Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi kembali menegaskan bahwa negaranya masih terbuka terhadap penyelesaian melalui jalur diplomatik.
Pada akhir September, Iran disebut menyampaikan tujuh syarat melalui mediasi Qatar untuk membuka kembali Selat Hormuz. Namun, tuntutan tersebut ditolak oleh Presiden AS Donald Trump.
Di sisi lain, pejabat keamanan Israel menilai konflik melawan kelompok Houthi di Yaman berpotensi mengubah pola kemitraan keamanan di kawasan Teluk. Mereka menyoroti meningkatnya kerja sama Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA) serta memperingatkan bahwa negara-negara regional yang tidak menghadapi Houthi secara langsung dapat menghadapi serangan lanjutan secara sendiri.
Situasi di Yaman juga kembali memanas setelah Houthi mencatat kemajuan di Provinsi Al Hudaydah dan Taiz, termasuk merebut Mokha serta posisi strategis di Pulau Mayun yang mengawasi Selat Bab al-Mandab. Perkembangan ini menambah kekhawatiran bahwa konflik regional dapat semakin meluas.
Iran: Negosiasi Tak Bermakna
Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengatakan negosiasi dengan Amerika Serikat (AS) tidak lagi bermakna. Dia menuding setiap perundingan justru diikuti serangan terhadap Iran.
Pernyataan itu disampaikan Pezeshkian di tengah kebuntuan upaya mengakhiri perang di Timur Tengah. Dilansir AFP, Senin (5/10/2026), pernyataan Pezeshkian dikutip kantor berita pemerintah Iran, IRNA.
“Sejauh ini, mereka telah menyerang kami tiga kali setelah perundingan. Ini menunjukkan bahwa mereka tidak mencari dialog, melainkan tujuannya adalah menggulingkan Republik Islam Iran,” kata Pezeshkian.
Dia menilai perundingan menjadi tidak berarti ketika Iran menghadapi apa yang disebutnya sebagai pembunuhan, sanksi, tekanan, hingga ancaman dari pihak AS.
“Dengan musuh yang setiap hari melakukan pembunuhan, sanksi, tekanan dan ancaman, serta melanggar komitmennya, negosiasi menjadi tidak bermakna,” ujarnya.
Perang di Timur Tengah dimulai pada akhir Februari ketika AS dan Israel melancarkan serangkaian serangan mendadak terhadap Iran. Serangan itu terjadi saat Washington dan Teheran tengah melakukan perundingan mengenai program nuklir Iran.
Kedua pihak sempat menyepakati memorandum of understanding (MoU) pada Juni yang memuat kerangka penyelesaian permanen konflik. Namun, situasi kembali memburuk setelah Iran melakukan serangan terhadap kapal-kapal di Selat Hormuz.
AS kemudian kembali menjalankan operasi militer. Perundingan antara kedua negara praktis menemui jalan buntu sejak saat itu
Pertemuan tidak langsung antara AS dan Iran di sela-sela Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) baru-baru ini juga tidak menghasilkan terobosan.
Dalam beberapa pekan terakhir, Washington mengurangi operasi militernya dan lebih mengandalkan tekanan ekonomi. AS tercatat belum melancarkan serangan terhadap Iran sejak 1 September.






