AS Hadapi Ancaman Baru di Selat Hormuz, Rudal Pemburu Kapal Iran

oleh -
oleh
Iran memiliki rudal baru mengincar kapal-kapal perang AS. (foto reuters)

LenteraKepri.com, Batam – Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat kembali meningkat. Iran dilaporkan menggunakan jenis rudal baru dalam serangan yang menyasar kapal-kapal perang Amerika Serikat di kawasan strategis Selat Hormuz.

Serangan tersebut menjadi sorotan karena rudal yang digunakan disebut memiliki sistem pencari target elektro-optik (electro-optical seeker), teknologi yang memanfaatkan sensor dan kamera untuk membantu rudal mengenali serta membidik sasaran secara lebih presisi.

Laporan New York Post yang dikutip media internasional, Minggu (12/9/2026) menyebut Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) melancarkan gelombang serangan terhadap fasilitas militer AS di Yordania serta kapal Angkatan Laut AS yang beroperasi di Selat Hormuz.

Namun, rudal-rudal Iran tersebut dilaporkan berhasil dicegat sebelum mencapai sasaran. Komando Pusat AS (US Central Command/CENTCOM) mengonfirmasi bahwa serangan rudal itu berhasil dihalau.

Penggunaan rudal dengan sistem pencari elektro-optik disebut menjadi salah satu perkembangan yang diperhatikan dalam eskalasi konflik terbaru antara kedua negara.

Serangan Iran diduga merupakan respons atas aksi militer AS terhadap lima kapal tanker minyak Iran di lepas pantai Pulau Kharg, salah satu kawasan penting bagi industri minyak Iran yang berada di sekitar jalur strategis Selat Hormuz.

Pejabat Iran menyatakan serangan tersebut merupakan tindakan pembelaan diri sebagai respons terhadap apa yang mereka sebut sebagai agresi Amerika Serikat.

“Sebagai respons terhadap tindakan agresif AS terhadap kapal tanker minyak Iran, angkatan bersenjata menyerang pangkalan dan fasilitas militer AS di Yordania serta sejumlah kapal AS,” demikian pernyataan pejabat Iran.

Diklaim Sulit Dijamming

Di tengah meningkatnya ketegangan, Iran juga mengumumkan rudal balistik Qassem Bassir, yang diklaim memiliki kemampuan canggih untuk menghadapi sistem pertahanan dan gangguan elektronik.

Iran menyebut rudal tersebut memiliki jangkauan sekitar 1.200 kilometer dengan hulu ledak seberat sekitar 500 kilogram.

Dengan kemampuan tersebut, rudal itu secara teoritis dapat menjangkau sejumlah kawasan penting di Timur Tengah, termasuk Tel Aviv, Riyadh, Doha dan Kuwait City. Jangkauannya juga mencakup wilayah di sekitar Selat Hormuz yang menjadi salah satu jalur pelayaran energi paling penting di dunia.

Iran bahkan mengklaim rudal tersebut sulit diganggu melalui sistem navigasi dan perang elektronik konvensional.

Meski demikian, klaim mengenai penggunaan Qassem Bassir dalam serangan terbaru terhadap kapal-kapal AS belum dikonfirmasi secara resmi oleh militer Amerika Serikat.

Fakta bahwa rudal-rudal Iran dalam serangan tersebut berhasil dicegat juga membuat sejumlah klaim mengenai kemampuan sistem rudal baru Iran masih perlu diuji lebih lanjut.

Pejabat keamanan Iran, Mohsen Rezaei, sebelumnya menyebut rudal tersebut sebagai senjata khusus untuk menghadapi kapal perusak dan bagian penting dari strategi pertahanan Iran dalam menghadapi Amerika Serikat.

Perkembangan ini menunjukkan bahwa konflik Iran-AS tidak hanya berlangsung melalui serangan konvensional, tetapi juga semakin mengarah pada penggunaan teknologi rudal dan perang elektronik.

Selat Hormuz pun kembali menjadi titik rawan karena gangguan di kawasan tersebut berpotensi berdampak terhadap keamanan pelayaran dan pasokan energi global

No More Posts Available.

No more pages to load.