LenteraKepri.com, Batam – Harga minyak mentah dunia naik sekitar 2% pada perdagangan Kamis (1/10/2026). Penguatan terjadi setelah China menghentikan ekspor produk minyak ke sejumlah wilayah, sehingga memperketat pasar bahan bakar yang sebelumnya sudah menghadapi keterbatasan pasokan global.
Melansir Reuters, kontrak berjangka Brent untuk pengiriman Desember 2026 naik 2,1% atau US$ 2,06 menjadi US$ 100,09 per barel. Kontrak November yang berakhir pada Rabu (30/9/2026) ditutup di US$ 103,50 per barel dan mencatat kenaikan sekitar 14% sepanjang September.
Sementara itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat naik US$ 2,06 atau 2,28% menjadi US$ 92,48 per barel.
Pergerakan harga minyak sempat berfluktuasi pada awal perdagangan. Harga sempat turun lebih dari 1% sebelum kembali menguat.
Kenaikan harga minyak terjadi setelah kilang-kilang China menghentikan ekspor produk minyak ke wilayah di luar Hong Kong dan Makau hingga ada arahan lebih lanjut dari Beijing. Kebijakan tersebut diperkirakan semakin memperketat pasar bahan bakar yang sudah terdampak gangguan pasokan akibat konflik di berbagai kawasan.
Analis UBS Giovanni Staunovo mengatakan penghentian ekspor China menunjukkan adanya kekhawatiran terhadap ketersediaan produk minyak untuk kebutuhan domestik.
Meski demikian, masih perlu dilihat apakah kebijakan tersebut akan mendorong China meningkatkan impor minyak mentah setelah stok minyak mentah dan bahan bakarnya mengalami penurunan.
Pasokan solar global juga semakin ketat akibat berkurangnya kapasitas pengolahan minyak setelah serangkaian serangan yang berkaitan dengan konflik di Timur Tengah dan perang Rusia-Ukraina. Kondisi tersebut meningkatkan tekanan kepada pemerintah untuk mengambil langkah guna melindungi konsumen dari kenaikan harga.
Pemerintahan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump juga meminta Jerman dan Prancis menggunakan cadangan darurat solar untuk membantu meredakan harga bahan bakar global. Jika tidak, AS berpotensi memberlakukan larangan ekspor solar, menurut tiga sumber yang mengetahui pembahasan tersebut.
Margin keuntungan pengolahan solar di Eropa berada di sekitar US$ 80,05 per barel pada pukul 08.29 GMT, turun sekitar 4% dibandingkan sesi sebelumnya. Margin tersebut sempat mencapai rekor US$ 95 per barel pada 23 September 2026.
Di sisi lain, pelaku pasar masih mencermati perkembangan diplomasi dan arus ekspor minyak di Timur Tengah. Arab Saudi telah kembali melakukan pemuatan minyak dari terminal Yanbu setelah sebelumnya mengaktifkan kembali East-West Pipeline.
Iran pada Rabu (30/9/2026) mengatakan telah menerima tanggapan AS atas proposal terbaru untuk menghidupkan kembali gencatan senjata di kawasan Teluk.
Namun, Presiden AS Donald Trump membantah laporan Axios dan CNN yang mengutip pejabat AS terkait kemungkinan pemberian keringanan sanksi dan pencairan dana Iran yang dibekukan sebagai imbalan atas langkah konkret Teheran terkait program nuklirnya.
Goldman Sachs memperkirakan ekspor minyak dari kawasan Teluk, termasuk ekspor gelap (dark exports) yang menggunakan kapal dengan transponder lokasi dimatikan, telah pulih menjadi 23,3 juta barel per hari dalam sepekan terakhir. Angka tersebut sejalan dengan rata-rata 2025 setelah ekspor meningkat dua kali lipat pada September.








