“Berdiri di tanah para leluhur membuat kami merasa seakan sedang merangkai kembali kepingan sejarah masa lalu yang selama ini hanya singgah sebagai lembaran-lembaran bisu di dalam buku pelajaran sekolah,” ucap Rayhanah penuh kehangatan, seolah merajut kembali simpul batin yang lama tertidur di seberang selat.
Hanya butuh waktu 45 menit menembus kabut asap tipis yang menggelayuti Selat Riau untuk merasa terlempar ke abad masa lalu. Ketika speedboat khusus yang membawa rombongan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kepri asal Batam merapat di dermaga beton Pulau Penyengat pukul 14.50 WIB, waktu seolah berjalan mundur.
Perjalanan yang saya mulai sejak pukul 12.00 WIB dari rumah, melewati Kantor PWI Kota Batam untuk koordinasi akhir hingga ke Pelabuhan Telaga Punggur, seketika lunas saat kaki menapak di tanah semenanjung ini. Azan asar berkumandang begitu teduh dari menara Masjid Raya Sultan Riau, membasuh penat dan kepungan asap yang sempat menguji keteguhan kami di sepanjang perjalanan laut sejak pukul 14.20 WIB tadi.
Menyibak Gerbang Waktu di Pulau Penyengat
Penyengat menyambut kami dengan keheningan yang anggun. Pulau seluas kurang dari tiga kilometer persegi yang tidak mengenal deru mobil ini kini sedang menata takdir barunya melalui konsep Pariwisata Regeneratif.
Ini bukan sekadar proyek bersolek, melainkan sebuah ikhtiar besar Pemerintah Provinsi Kepri di bawah kepemimpinan Gubernur Ansar Ahmad untuk memulihkan, merawat, dan menghidupkan kembali aspek sosial, ekonomi, dan budaya dengan menempatkan masyarakat lokal sebagai jantung utamanya.

Di pelataran masjid bersejarah inilah, kami yang bertolak dari Batam akhirnya menyatu dengan rekan-rekan pengurus PWI dari Tanjungpinang dan Bintan yang menempuh jalur mereka masing-masing. Ada 50 jiwa yang berkumpul melebur dalam satu payung kebersamaan, terdiri dari para jurnalis dan para istri yang bernaung di bawah Ikatan Keluarga Wartawan Indonesia (IKWI) PWI Kepri.
Bagi masyarakat umum, perjalanan menuju pulau ini tentu harus ditempuh dengan lebih tertatih-tatih. Mereka tidak bisa menikmati privilese menyeberang langsung dengan jalur khusus dari Batam, melainkan harus menaiki feri reguler terlebih dahulu menuju riuhnya Kota Tanjungpinang, turun di pelabuhan utama, lalu kembali mengadu nasib di atas perahu pompong kayu tradisional untuk bisa menyeberang.
Kehangatan rombongan siang itu langsung dikunci oleh untaian bait pantun yang dialunkan tenang oleh Ketua Departemen Seni, Musik, Film, dan Budaya PWI Pusat, Ramon Damora.
“Kalau menyeberang ke Pulau Penyengat, bawalah bekal si buah kundur. Kalau sejarah Penyengat hendak diangkat, tulislah dengan akal budi yang luhur,” bisik Ramon Damora, saat sesi wawancara dengan Ketua PWI Kepri Saibansah Dardani, menitipkan sebaris pesan keluhuran bagi setiap tinta jurnalis yang hadir.
Bagi Saibansah, perjalanan ini adalah sebuah ikhtiar mengumpulkan rekam jejak. “Alhamdulillah, siang ini PWI Provinsi Kepri memulai kegiatan ekspedisi eksplorasi. Diharapkan nanti semua teman-teman akan menulis feature dan berita di media masing-masing. Dari hasil feature itu, nanti kita akan kumpulkan dan kita terbitkan menjadi buku karya dari PWI Kepulauan Riau,” ujarnya penuh harap.
Kami kemudian melangkah ke dalam masjid, bersujud menunaikan salat asar, membiarkan kedamaian ruang batin itu meresap sebelum kami melangkah menelusuri pulau. Wajah Penyengat hari ini memang telah bersolek anggun. Jalan-jalan kampung yang dulunya tanah merah kini telah rapi berselimut batu batako.
Saat malam menjemput, pulau ini tidak lagi gulita. Cahaya lampu jalan berpendar terang, ditenagai oleh aliran listrik PLN Batam yang dihantarkan sunyi melalui kabel bawah laut.
Ziarah Rindu Saudara Serumpun di Tanah Leluhur
Kemolekan baru inilah yang mengundang rindu para pelancong serumpun dari Malaysia, Singapura, hingga Brunei Darussalam, dengan angka kunjungan menembus 2.500 hingga 3.000 jiwa per bulan. Sebanyak 67 persen di antaranya adalah saudara serumpun dari Malaysia.
Mereka datang berbondong-bondong, menyeberangi selat demi menjenguk silsilah dan kerabat zuriat mereka yang tersisa dari galur Trengganu, Malaka, hingga Banjar.
Gelombang rindu itu turut terlukis indah dalam perjalanan seorang pelancong asal Johor, Rayhanah, bersama keluarganya yang beranggotakan lima orang. Menelusuri pulau secara lebih dekat, keluarga kecil ini seolah tengah menuntaskan sebuah janji batin. Berdiri di tanah para leluhur membuat mereka merasa seakan sedang merangkai kembali kepingan sejarah masa lalu yang selama ini hanya singgah sebagai lembaran-lembaran bisu di dalam buku pelajaran sekolah.
“Sebelumnya, kalau di sekolah dulu, kita selalu ada subjek Sejarah yang menceritakan pasal Kesultanan Johor, Riau-Lingga. Jadi, karena kami dari Johor, mumpung ada kesempatan, kami datang sekali ke sini untuk melihat langsung tempat-tempat bersejarahnya,” kenang Rayhanah dengan nada penuh kehangatan.

Bagi mereka, menjejakkan kaki di Pulau Penyengat bukan sekadar melepas lelah bertamasya, melainkan sebuah ziarah rasa. Pertemuan dengan warga lokal yang ramah serta sapaan lembut angin laut membawa kekaguman tersendiri, melahirkan rasa takjub yang teramat dalam saat menyusuri kompleks makam dan mendengar kisah hantaran cinta Raja Hamidah.
Di balik kekaguman itu, terselip pula secarik asa agar fasilitas publik seperti kebersihan masjid dan ketersediaan air di bilik-bilik persinggahan bisa terus dipercantik, demi menjaga kenyamanan setiap jiwa yang datang merawat rindu.
Berkah dari rindu yang bersemi itu jatuh ke atas pangkuan warga setempat. Pak Azmi, seorang penarik becak motor nomor 09 yang telah 15 tahun setia menggantungkan nasib di atas pedal gas bentornya, tersenyum simpul saat bercerita tentang rezeki yang mengalir ke dapurnya.
“Kalau lagi ramai pengunjung, saya bisa narik sampai 8 atau 9 trip sehari. Bersihnya bisa bawa pulang 300 sampai 400 ribu sehari setelah dipotong minyak semua,” kisah Pak Azmi. Ramah senyumnya yang tulus adalah cerminan sejati dari jiwa Penyengat yang tak pernah memudar oleh waktu.
Sore yang ramah itu kian lengkap saat pemerintah daerah menjamu rombongan dengan kelezatan hidangan laut segar dari Kedai Ikan Bakar Novana. Ikan salikur bakar, sotong bakar, ikan bulat, ikan lebam, ikan selar bakar, ikan asam pedas khas melayu serta berbagai menu lainnya disajikan hangat di atas meja. Kami menikmatinya perlahan, ditemani semilir angin laut dan alunan musik Melayu yang mendayu-dayu membelai telinga.
Suasana kian tumpah ruah dalam keakraban tatkala alunan musik tersebut mengetuk hati para pengurus Ikatan Keluarga Wartawan Indonesia (IKWI) yang berjiwa seni. Di tengah canda tawa yang larut dalam kebersamaan, beberapa ibu tergerak menyumbangkan suara emas mereka melantunkan tembang-tembang Melayu. Lantunan merdu itu mengalir dari bibir istri Ketua PWI Kota Batam, membawakan bait demi bait lagu dengan penuh penghayatan, menjadikan senja di tanah bersejarah itu terasa begitu hidup, hangat, dan abadi dalam kenangan.
Menderu Gasing, Merawat Marwah Tradisi
Di pulau sekecil ini, pusaka masa lalu ternyata tidak dibiarkan mati begitu saja ditiup angin zaman. Tepat di pelataran terbuka di hadapan Masjid Raya Sultan Riau yang megah, mata kami langsung terpaku pada sebuah pemandangan yang menghidupkan kembali denyut tradisi. Kami bersua dengan Rahmat, seorang pengusaha UMKM lokal yang dengan penuh ketekunan bersama rombongannya tengah merawat dan menghidupkan kembali riuh rendah permainan gasing pangkah.
Di bawah hamparan langit Penyengat, mereka berkumpul membentuk sebuah lingkaran kecil yang sarat keakraban. Dua hingga empat orang pria tampak berdiri siaga, jemari mereka terampil menggenggam gasing kayu yang lilitan talinya sudah melingkar erat di badan benda pusaka permainan itu.
Tiba-tiba, satu orang mengambil langkah awal, mengayunkan tangan dan melemparkan gasingnya dengan penuh tenaga ke atas lantai batu tepat di depan masjid. Praak! Suara hantaman keras beradu. Disusul seketika oleh lemparan-lemparan berikutnya dari rekan-rekan Rahmat yang meluncur deras dengan satu tujuan pasti: menyerang dan memangkah gasing yang lebih dulu berputar.
Seketika, lantai batu itu bergemuruh oleh putaran gasing yang menderu kencang, berdengung nyaring seolah memanggil kembali roh kejayaan masa lalu. Atraksi kian memukau ketika mereka memperlihatkan kebolehan tingkat tinggi, memindahkan gasing yang tengah berputar kencang itu ke atas sebilah papan kayu, lalu menyerahkannya agar bisa dipegang langsung oleh pengunjung yang terkesima.

Tak hanya sekadar menonton, atmosfer di sana begitu cair dan merangkul siapa saja. Rahmat dan kawan-kawan dengan ramah menawari setiap pengunjung, baik anak-anak kecil yang penasaran maupun orang dewasa yang bertandang, untuk ikut mencoba memegang tali dan melemparkan gasing ke lantai. Sensasi memutar gasing tradisional di tanah para sultan ini, diiringi gelak tawa dan decak kagum, membuat siapa pun yang hadir merasa seolah ikut menjadi bagian dari denyut nadi sejarah Pulau Penyengat itu sendiri.
“Kalau kita bermain gasing ini, kita ada urutan tingkatnya, mulai dari raja, menteri, sampai ke kuli. Maknanya, kita memutar gasing ini harus lebih kuat dan tepat, karena main gasing ini butuh presisi saat memangkah gasing lawan. Di situ kita lihat apakah gasing kita benar-benar punya kekuatan atau tidak,” tutur Rahmat, menjabarkan filosofi tentang kekuatan dan ketepatan yang harus selaras.
Napas tradisi itu berpadu harmonis dengan dawai akordeon dan tabuhan gendang beban yang dimainkan oleh Muhammad Razif. Sejak tahun 2014, pemuda ini setia menjaga warisan musik ghazal para orang tua terdahulu. Di sela-sela jemarinya yang menari di atas tut akordeon, Razif menyelipkan sebaris doa untuk masa depan.
“Dengan sekarang zaman digitalisasi, harapan saya ke depannya musik tradisi ini bisa lebih dilestarikan lagi, dan anak-anak muda juga tetap mencintai alat musik kita,” bisik Razif.
Menyapa Keabadian di Balik Nisan Berbalut Kain Kuning
Langkah rombongan kemudian membawa kami ke tempat yang paling keramat di pulau ini: kompleks pemakaman bersejarah. Di bawah rerindunan pohon tua yang menaungi tanah keramat Pulau Penyengat, langkah kaki seakan tertahan oleh keheningan yang begitu pekat.
Setiap kompleks pemakaman di sini bukan sekadar tempat bersemayamnya raga yang telah pulang, melainkan sebuah kitab sejarah yang terukir sunyi di atas batu. Di setiap pusara utama, para penguasa dan tokoh besar masa lalu berbaring dalam keabadian, dikelilingi oleh ratusan makam pengikut serta kerabat setia yang seakan tak pernah rela meninggalkan sisi para pemimpinnya, bahkan setelah dunia berlalu.
Pandangan mata kemudian terpaku pada batu-batu nisan penanda makam yang terbalut khidmat oleh kain kuning berkilau lembut. Dalam tradisi dan budaya Melayu, warna kuning bukanlah sekadar warna; ia adalah lambang kemuliaan, kedaulatan, serta mahkota keagungan bagi para leluhur yang dimuliakan. Kain kuning yang membalut batu nisan itu menjadi penjaga wibawa, seolah membisikkan bahwa marwah para pahlawan dan zuriat raja tak akan pernah luntur dimakan zaman.
Begitu merapat dan masuk ke dalam area pusara, suasana sakral langsung menyergap batin. Udara terasa berbisik lebih pelan, membawa ketenangan batin yang menusuk hingga ke lubuk hati. Tidak ada riuh rendah duniawi yang berani mengusik; yang tertinggal hanyalah desir angin selat, bayangan dahan yang menari di atas nisan, dan gema doa-doa lirih dari para peziarah yang datang menunduk takzim, mengingatkan setiap jiwa yang hadir akan kefanaan hidup di hadapan keabadian sejarah.
Di bawah keteduhan area makam, rombongan didampingi oleh Ketua LAM Provinsi Kepri Yang Mulia Datuk Raja Hafiz dan Raja Malik. Raja Malik sendiri adalah zuriat atau keturunan langsung keenam dari Pahlawan Nasional Raja Haji Fisabilillah yang jasadnya dimakamkan di tempat mulia ini.
Di depan pusara leluhurnya, suara Raja Malik terdengar begitu tenang, mengalir bagai air namun sarat akan wibawa sejarah saat meluruskan distorsi makna kata yang kerap disalahartikan zaman. Salah satunya adalah kata “gundik”.

“Pengertian gundik kalau zaman dulu beda dengan sekarang yang diartikan negatif. Gundik adalah istri yang dinikahi secara sah tetapi tidak mempunyai strata sosial yang sama, melainkan dari orang kebanyakan. Begitu juga dengan kata kota, jangan diartikan kota modern seperti city, melainkan tembok benteng yang memanjang,” urai Raja Malik, mengembalikan kehormatan istilah lama yang sempat terdistorsi.
Pandangan matanya menerawang jauh, membawa kami kembali ke tahun 1911. Sebuah tahun penuh air mata sekaligus kebanggaan, saat Sultan terakhir memilih angkat kaki eksodus ke Singapura daripada menandatangani kontrak politik dengan Belanda, yang kemudian disusul aksi bumi hangus istana oleh Belanda, disaksikan rakyat pulau yang setia tanpa daya.
“Itu adalah titik balik yang luar biasa dari sebuah kesultanan tamadun tinggi menjadi tempat yang sunyi dan ditinggalkan. Dari lima ribu jumlah penduduk, merosot tinggal hanya empat ratus orang saja yang bertahan. Namun, para keluarga yang tersisa tidak pernah pergi. Mereka terus menjaga situs-situs dan makam leluhur ini meskipun dengan segala keterbatasan,” kenang Raja Malik dengan nada mendayu yang berat, menyiratkan kesetiaan yang tak runtuh oleh kemiskinan puluhan tahun sebagai nelayan.
Pulau Penyengat sejatinya dikepung oleh jejak sejarah yang masif. Raja Malik memaparkan bahwa setidaknya ada empat kompleks pemakaman besar yang mengabadikan tokoh-tokoh raksasa masa lalu; pemakaman Raja Ali Haji bersama Engku Putri Raja Hamidah, Raja Haji Fisabilillah, Raja Ja’far, serta Raja Abdurrahman.
Dengan penuh penghayatan, beliau mengisahkan bagaimana gelar “raja” bukanlah sekadar nama, melainkan buah dari perpaduan darah dan peradaban yang agung:
“Raja ini adalah keturunan perpaduan antara bangsawan Melayu dan Bugis. Ada bangsawan-bangsawan Bugis yang merantau jauh dari Sulawesi, dari tanah Luwu, kemudian menautkan hati dalam ikatan suci dengan anak raja Melayu. Dari rahim perpaduan itulah, keturunan mereka tak lagi menyandang gelar bangsawan Bugis yang asli, melainkan melebur dalam keanggunan gelar bangsawan Melayu, menanggalkan kata ‘daeng’, dan memilih merengkuh sebutan ‘raja’ sebagai mahkota kehormatan mereka,” jelas Raja Malik yang seakan menajdi pustaka hidup untuk seluruh sejarah di tanah keramat ini.
Namun, jika menyusuri pulau lebih dalam, tidak kurang dari 48 titik cagar budaya nasional berdiri dengan megah, mulai dari benteng pertahanan, masjid tua, reruntuhan istana, hingga makam para bangsawan dan masyarakat setempat.
Dari puluhan cagar budaya itu, kami menyempatkan diri singgah di Pusat Maklumat Budaya Melayu serta reruntuhan Gedung Tabib yang sunyi. Kondisi Gedung Tabib petang itu terlihat begitu puitis dan magis. Bangunan kuno itu sudah kehilangan seluruh atapnya, namun dinding-dinding tuanya menolak rubuh ke tanah karena didekap erat dan ditopang oleh lilitan akar-akar pohon purba yang tumbuh perkasa di sekelilingnya, seolah alam ikut ambil bagian menjaga sisa-sisa peradaban.
Kesunyian sejarah di pulau ini memang kerap kali berbalut kisah-kisah di luar nalar. Bang Hades, pria yang sudah 15 tahun mengabdi sebagai juru pelihara Kompleks Makam Angku Putri Raja Hamidah, mengisahkan sepotong pengalaman gaib yang dialaminya di siang bolong.
“Pernah saya mengalami, padahal di dalam makam tidak ada pengunjung, tetapi terdengar suara laki-laki membacakan Al-Qur’an secara nyaring. Saya keliling siang itu, sandal tidak ada, pengunjung tidak ada, tapi suaranya nyata. Di sini, kami sebagai penjaga selalu menegaskan tugas kami adalah menasihati. Kita di sini berziarah untuk mengingat mati, bukan untuk hal mistis yang lain,” tegas Bang Hades.

Kisah-kisah gaib itu bahkan kerap menggelayuti pundak para penarik bentor yang merinding meriang saat melintasi pekuburan malam hari, merasa sespan becak mereka tiba-tiba berat seolah membawa penumpang tak kasat mata.
PR Kecil Menuju Destinasi Dunia
Sebagai seorang jurnalis, matanya tetap harus tajam memotret realita di balik tirai keindahan. Penyengat hari ini masih tertatih-tatih menghadapi lonjakan takdirnya sendiri.
Ketika rombongan besar di atas seratus orang datang, bentor-bentor pulau sering kali keteteran. Pulau ini pun masih miskin ruang inap; hanya ada 13 rumah singgah (homestay) dengan total 37 kamar, yang sebagiannya bahkan sedang direnovasi saat kami datang. Akibatnya, kue ekonomi dari sektor penginapan terpaksa terbang dan dinikmati hotel-hotel di Kota Tanjungpinang.
Ironi yang paling menyayat hati adalah perihal air bersih. Setiap kali musim kemarau menyapa, sumur-sumur resapan mengering atau payau terembes air laut. Fasilitas penyulingan air laut (SWRO) yang diharapkan menjadi juru selamat justru kerap kali membisu rusak saat paling dibutuhkan, akibat rentannya peralatan dan tiadanya tenaga ahli yang berjaga di sana.
Tantangan ini menjadi pekerjaan rumah yang besar. Atraksi seni tradisional pun belum mampu disuguhkan secara konsisten setiap akhir pekan. Mindset masyarakat lokal masih harus terus disentuh agar tumbuh mandiri dan bergerak bersama, meniru kesadaran komunal yang hidup di Desa Panglipuran, Bali.
Pemerintah Provinsi Kepri tidak tinggal diam melihat karut-marut ini. Dana raksasa hampir Rp200 miiliyar telah ditanamkan untuk mempercantik infrastruktur pulau, termasuk megaproyek Monumen Tugu Bahasa senilai Rp100 miiliar yang dibangun selama dua tahun.
Monumen ini nantinya akan menjadi perpustakaan digital raksasa, mengawinkan dokumen sejarah Melayu kuno dengan teknologi modern milik Nongsa Digital Park.
Ketegasan pemerintah untuk menjaga kedaulatan ekonomi rakyat kecil juga teruji di sini. Sebuah rencana investasi jembatan gantung bertarif murah Rp4.000 dari pangkalan Lantamal langsung ditolak mentah-mentah demi menyelamatkan hajat hidup ratusan penambang perahu pompong tradisional agar tidak digilas oleh roda kapitalisme.
Menatap masa depan, Kepala Dinas Pariwisata Kepri, Gani, atau yang akrab kami sapa Bang Hasan, mengungkapkan sebuah visi besar yang sedang digodok di atas meja akademik.
Pada tahun 2027 nanti, sebuah Badan Pengelola Pulau Penyengat akan dilahirkan untuk mengintegrasikan seluruh tata kelola pariwisata menjadi satu pintu, mengadopsi kemandirian pengelolaan Candi Borobudur dan Garuda Wisnu Kencana.
“Kunci pariwisata itu adalah komitmen kepala daerah,” tegas Bang Hasan memecah malam. “Kita ingin sistem terpadu satu tiket yang sudah mencakup biaya pompong, bentor, hingga pemandu wisata. Kita ingin pariwisata regeneratif ini memutar ekonomi masyarakat lokal, tetapi masyarakatnya sendiri harus siap mengelola ekosistemnya, jangan hanya menadah tangan ke pemerintah”, lanjutnya.
Ia mengeaskan, kebudayaan bukan sekadar pelengkap atau tontonan semata, melainkan esensi hidup dari sektor pariwisata itu sendiri.
“Kebudayaan adalah jantung dari pariwisata itu. Sebaliknya, pariwisata tidak akan pernah hidup jika budayanya tidak dijaga,” ucap Hasan penuh keyakinan, menegaskan bahwa merawat warisan leluhur adalah syarat mutlak agar pariwisata Penyengat senantiasa hidup dan dicintai.
Menjemput Takdir Baru di Bawah Langit Gurindam
Malam merayap pelan, merengkuh Pulau Penyengat dalam dekapannya yang basah. Selepas derap langkah salat Isya, langit Gurindam tiba-tiba tumpah, menumpahkan hujan deras yang menderu, membasuh sisa-sisa debu dan kabut asap yang sejak siang mengepung udara. Di balik tirai air hujan yang menghapus batas pandang, pulau tanpa deru kendaraan bermotor ini berubah menjadi sebuah dunia yang sunyi, magis, dan menghanyutkan sukma.
Melangkah masuk ke dalam naungan Balai Adat Melayu yang berdiri anggun, keheningan malam serta merta mencair. Senyuman hangat dari warga lokal menyambut di ambang pintu, menghalau dinginnya sisa hujan di luar.
Di tengah ruang yang memancarkan kehangatan budaya, meja-meja tersusun rapi, menanti dengan sajian jamuan malam istimewa khas Melayu di Kafe Senandung, berhampiran dengan Balai Adat Penyengat. Namun, ada satu pemandangan yang begitu mencuri pandang dan menghentak selera: hidangan laksa legendaris tersaji unik di atas hamparan daun pisang yang hijau segar.
Racikan mi sagu kenyal yang berpadu sempurna dengan suwiran ikan segar, disiram kuah kari berempah pekat yang mengepulkan aroma harum nan menggoda, seolah memanggil siapa saja untuk segera duduk dan menikmati kearifan rasa yang diwariskan turun-temurun di tanah keramat ini.
Di tengah kebersamaan malam yang dingin dan basah oleh sisa guyuran hujan di bumi Gurindam, komitmen pariwisata berbasis hati ini mewujud nyata. Gubernur Kepri, Ansar Ahmad, hadir langsung bersama istrinya, Ny. Dewi Kumalasari, serta jajaran pejabat utama. Tanpa sekat protokoler yang kaku, sang pemimpin duduk membaur akrab bersama 50 jiwa rombongan jurnalis dan ibu-ibu IKWI PWI Kepri.

Suasana malam itu kian sarat makna tatkala Ketua Bidang Seni Budaya PWI Kepri, Tarmizi rumahitam, melangkah maju menyematkan sebuah mahkota kebesaran Melayu—tanjak istimewa bertuliskan ‘Dendam Tak Sudah’ buatan Galeri Bengkel Tanjak Rumahitam—ke kepala sang Gubernur.
Pemasangan tanjak tersebut bukan sekadar simbolik, melainkan wujud takzim dan penghormatan tulus dari para kuli tinta kepada pemegang teraju kepemimpinan Provinsi Kepri yang telah menyempatkan diri membersamai langkah para jurnalis. Di tanah para zuriat yang agung ini, ikat kepala lelaki Melayu itu menjadi lambang kemuliaan, menyatukan niat suci antara pemerintah dan insan pers untuk bersama-sama merawat marwah negeri.
Malam kian larut, merayap perlahan dalam dekap keheningan yang magis. Bulir-bulir embun yang menempel sejuk di dedaunan tua seolah ikut membasuh segala letih dan debu perjalanan yang melekat sejak siang. Gelak tawa kecil berpadu dengan kehangatan di bawah temaram lampu gantung yang klasik.
Kehadiran sang gubernur malam itu seolah meneguhkan sebuah kebenaran; bahwa Pulau Penyengat tidak sedang merawat puing masa lalu yang berdebu.
Ia, dengan segala keteguhan sejarah dan komitmen kepemimpinannya, sedang berjalan dengan anggun menjemput takdir barunya sebagai destinasi dunia yang mandiri dan megah. Namun, gemerlap pariwisata regeneratif ini tidak akan pernah kokoh jika hanya disandarkan pada pundak pemerintah semata.
Di balik pesona dan kucuran investasi yang mengalir, terselip sebuah panggilan nurani bagi masyarakat lokal untuk bangkit bergerak bersama, menumbuhkan kesadaran mandiri, merawat warisan dengan tangan sendiri, dan tidak sekadar menadah tangan menanti uluran bantuan.
Sebab, di tanah para zuriat dan sultan inilah masa lalu yang agung dan masa depan pariwisata berpadu mesra, merengkuh setiap jiwa yang datang dengan kehangatan marwah Melayu yang takkan pernah lekang di telan zaman.
(Laporan perjalanan ini disarikan langsung dari catatan batin dan rekam jejak Romi Chandra, Sekretaris PWI Kota Batam, sebagai bagian dari rombongan tim Ekspedisi Eksplorasi Pulau Penyengat 2026 dalam merawat marwah dan merajut kembali kisah di tanah para leluhur.)








