LenteraKepri.com, Batam – Fundamental ekonomi Indonesia yang tetap solid menjadi modal penting bagi pengembangan sektor pariwisata. Pada semester I 2026, ekonomi Indonesia tumbuh 5,45%, tertinggi di antara negara-negara G20. Inflasi pada September 2026 terkendali di angka 3,28%, sementara investasi meningkat 7,2% menjadi Rp 1.010,6 triliun.
Pertumbuhan ekonomi yang bertahan di atas 5% selama 5 kuartal berturut-turut mencerminkan ketahanan permintaan domestik dan keberlanjutan investasi yang mendukung pengembangan pariwisata nasional.
“Bagi sektor pariwisata, stabilitas ekonomi sangat penting karena daya beli masyarakat yang lebih kuat mendorong perjalanan domestik, sementara investasi mendukung pembangunan infrastruktur, akomodasi, dan peningkatan layanan,” ujar Wakil Menteri Koordinator Perekonomian Dradjad Hari Wibowo dalam keterangan tertulis, Kamis (15/10/2026).
Di tengah tekanan yang dihadapi industri pariwisata global, pariwisata Indonesia menunjukkan kinerja yang relatif tangguh. Pada semester I 2026, kunjungan wisatawan internasional secara global hanya tumbuh 0,4%, sementara kawasan Timur Tengah mencatat penurunan 22%, dan Asia Tenggara mengalami kontraksi 1%.
Sebaliknya, Indonesia mencatat pertumbuhan sebesar 5,71%. Sepanjang Januari hingga Agustus 2026, jumlah kunjungan wisatawan mancanegara mencapai 10,58 juta kunjungan, meningkat 5,38% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya dan mendekati 99% dari tingkat kunjungan pada periode yang sama sebelum pandemi.
Capaian ini menunjukkan bahwa pemulihan pariwisata Indonesia terus berlanjut dan semakin mendekati tonggak pencapaian penting.
Kontribusi pariwisata juga tercermin dari pergerakan ekonomi domestik, penerimaan devisa, dan penciptaan lapangan kerja. Sepanjang tahun 2025, perjalanan wisatawan nusantara mencapai 1,2 miliar perjalanan, menghasilkan devisa pariwisata sebesar US$ 18,28 miliar, serta mendukung 25,91 juta lapangan kerja.
Sektor ini berkontribusi langsung sebesar 3,97% terhadap produk domestik bruto (PDB), sementara nilai investasi sektor ini mencapai Rp 73,55 triliun.
Momentum positif tersebut berlanjut pada tahun 2026, di mana perjalanan wisatawan nusantara mencapai 842,15 juta perjalanan hingga Agustus, meningkat 4,29%, dengan devisa pariwisata pada semester I 2026 mencapai US$ 8,43 miliar.
Investasi sektor pariwisata juga tumbuh 16,64%, lebih dari dua kali lipat laju pertumbuhan investasi nasional. Capaian tersebut semakin menegaskan potensi pariwisata dalam mendorong penciptaan lapangan kerja, pembangunan daerah, dan pertumbuhan ekonomi yang inklusif.
Untuk mengoptimalkan potensi tersebut, Pemerintah menempatkan pariwisata sebagai salah satu penggerak strategis pertumbuhan ekonomi, sejalan dengan Asta Cita Presiden Prabowo Subianto. Pada 2026, sektor pariwisata ditargetkan menarik 16-17,6 juta kunjungan wisatawan mancanegara dan berkontribusi sebesar 4,5-4,7% terhadap PDB. Pencapaian target-target tersebut tentu membutuhkan kebijakan terkoordinasi yang mampu mendorong permintaan sekaligus meningkatkan kualitas pariwisata.
Guna mendorong permintaan dan memperkuat konektivitas, Pemerintah menyiapkan paket stimulus ekonomi senilai Rp 26,34 triliun, mencakup diskon transportasi dan insentif perpajakan untuk mendorong perjalanan wisata domestik.
Dukungan lainnya mencakup pemberian keringanan PPh bagi 552.000 pekerja sektor perhotelan, pengembangan keterampilan bagi 400.000 tenaga kerja pariwisata setiap tahun, serta perluasan akses visa dan konektivitas udara. Langkah-langkah tersebut diarahkan untuk meningkatkan keterjangkauan, aksesibilitas, dan kualitas layanan pariwisata.
“Kami juga ingin menyoroti betapa mendesaknya inovasi dan efisiensi di sektor pariwisata Indonesia. Pemerintah akan mengembangkan ekosistem yang mendorong pelaku usaha pariwisata untuk menghasilkan desain produk kreatif dengan harga yang kompetitif,” imbuh Dradjad.







