LenteraKepri.com, Batam – Perang Iran-AS menjadi ajang penggunaan generasi baru rudal, dengan kedua pihak mengerahkan senjata yang mampu menyerang dari jarak lebih jauh sekaligus mempersempit waktu bagi sistem pertahanan untuk merespons.
Amerika Serikat (AS) untuk pertama kalinya diketahui menggunakan Precision Strike Missile (PrSM) dalam pertempuran, sementara Iran mengatakan telah mengerahkan Kheibar Shekan, rudal yang mampu menjangkau sasaran militer AS di sebagian besar kawasan Timur Tengah.
Meski dirancang untuk tujuan berbeda, kedua rudal itu mencerminkan tantangan yang semakin besar dalam perang modern: rudal dapat diluncurkan dari platform bergerak, menghantam sasaran dari jarak yang semakin jauh, dan memberikan waktu yang semakin sedikit bagi sistem pertahanan untuk bereaksi.
Lantas, apa yang membedakan kedua rudal tersebut, bagaimana penggunaannya dalam perang, dan apa artinya bagi masa depan perang rudal?
Rudal baru AS terjun ke medan perang
PrSM pada dasarnya merupakan generasi baru rudal balistik berbasis darat milik Angkatan Darat AS. Rudal ini dirancang untuk terbang lebih jauh dibandingkan pendahulunya, sekaligus memungkinkan pasukan membawa lebih banyak rudal dengan kendaraan peluncur yang sudah digunakan saat ini.
PrSM menggantikan Army Tactical Missile System (ATACMS), rudal yang dikembangkan pada era Perang Dingin dan pertama kali digunakan dalam pertempuran pada Perang Teluk 1991.
Versi dasar PrSM memiliki jangkauan sekitar 500 kilometer, dibandingkan sekitar 300 kilometer untuk varian ATACMS dengan jangkauan terjauh.
Artinya, satuan Angkatan Darat AS berpotensi menyerang sasaran dari jarak lebih dari 200 kilometer lebih jauh dibandingkan sebelumnya. Awak peluncur pun dapat berada lebih jauh dari pasukan dan sistem pertahanan udara lawan.
Program pengembangan PrSM juga menargetkan jangkauan sekitar 650 kilometer, sementara varian berikutnya dirancang mampu menjangkau sedikitnya 1.000 kilometer.
PrSM dapat ditembakkan dari HIMARS, sistem peluncur roket yang dipasang pada truk, maupun peluncur berantai M270A2. Kompatibilitas ini membuat AS tidak perlu membangun armada kendaraan peluncur yang sepenuhnya baru untuk mengoperasikan rudal tersebut.
Kapasitas angkutnya juga lebih besar. Satu peluncur HIMARS yang hanya dapat membawa satu rudal ATACMS mampu membawa dua PrSM sebelum perlu diisi ulang.
Menurut para pakar persenjataan, PrSM dipandu sistem navigasi inersial yang dibantu GPS dan dirancang meledak di atas sasaran, lalu menyebarkan ribuan serpihan logam berkecepatan tinggi ke area yang luas.
Penggunaan perdana rudal ini juga memiliki arti lebih luas bagi perencanaan militer AS di luar medan perang Iran. Jangkauannya memungkinkan peluncur bergerak mengancam sasaran dari jarak lebih jauh, sementara kecepatannya membuat rudal tersebut cocok digunakan terhadap sasaran yang harus dihancurkan dengan cepat, seperti peluncur rudal dan sistem pertahanan udara.
Varian PrSM berikutnya juga tengah dikembangkan untuk menyerang sasaran bergerak, termasuk kapal.
Pada Juni, The Defense Post melaporkan Angkatan Darat AS memberikan modifikasi kontrak senilai 8,4 miliar dolar AS kepada Lockheed Martin untuk meningkatkan kapasitas produksi PrSM.
Penggunaan perdana di medan tempur picu kontroversi
Perang Iran-AS tampaknya menjadi medan tempur pertama bagi PrSM.
Komando Pusat AS (CENTCOM) pada 1 Maret merilis rekaman yang memperlihatkan PrSM ditembakkan dari HIMARS dalam apa yang disebut sebagai 24 jam pertama operasi AS terhadap Iran, yang dimulai pada 28 Februari.
Namun, penggunaan rudal itu kemudian menjadi sorotan menyusul serangan mematikan di Lamerd, sebuah kota di Iran selatan.
BBC Verify pada Maret melaporkan bahwa para pakar persenjataan yang memeriksa rekaman serangan pada 28 Februari menilai proyektil yang digunakan kemungkinan merupakan PrSM.
Airwars, lembaga pemantau berbasis di Inggris yang menyelidiki dampak konflik terhadap warga sipil, secara terpisah menganalisis tiga serangan yang diduga menggunakan PrSM di Lamerd, termasuk di kawasan permukiman dan dekat fasilitas sipil, salah satunya gedung olahraga Shahid Naimi.
Penyelidikan Airwars menemukan bahwa salah satu serangan diduga menyebabkan kerusakan hingga radius sedikitnya 170 meter, sementara korban sipil tercatat tewas hingga jarak sedikitnya 50 meter dari perkiraan titik ledakan.
Airwars mengatakan sedikitnya 21 warga sipil tewas dalam serangan yang mereka selidiki, termasuk tujuh anak-anak dan dua perempuan, sementara hingga 170 orang lainnya terluka.
Menurut Airwars, CENTCOM mengatakan rekaman kamera pengawas menunjukkan senjata yang digunakan sesuai dengan karakteristik rudal jelajah Hoveyzeh milik Iran. Namun, Airwars menyimpulkan senjata tersebut merupakan PrSM berdasarkan analisis rekaman dan pola kerusakan yang ditinggalkan.
Berbeda dengan rudal yang meledak saat menghantam permukaan, PrSM dirancang meledak di atas tanah dan menyebarkan serpihan ke area yang luas. Airwars mengatakan serangan di Lamerd meninggalkan ribuan bekas khas pada bangunan, jalan, dan kendaraan, bukan kawah besar akibat benturan.
“Penghancur benteng” milik Iran
Kheibar Shekan milik Iran, yang namanya kurang lebih berarti “penghancur benteng”, dirancang untuk tujuan berbeda.
The Wall Street Journal menggambarkan Kheibar Shekan sebagai rudal yang “murah, akurat, dan mematikan” serta menjadi salah satu “andalan” dalam arsenal Teheran.
Diperkenalkan pada 2022, Kheibar Shekan merupakan rudal balistik jarak menengah berbahan bakar padat yang dikembangkan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC). Iran mengeklaim rudal tersebut memiliki jangkauan sekitar 1.450 kilometer.
Dengan jangkauan itu, fasilitas militer AS di sebagian besar kawasan Timur Tengah berpotensi berada dalam jangkauannya.
Media Iran melaporkan rudal tersebut mampu membawa hulu ledak dengan bobot sekitar 449 hingga 590 kilogram.
Namun, salah satu keunggulan utama Kheibar Shekan terletak pada kecepatan persiapannya sebelum diluncurkan.
Kheibar Shekan menggunakan bahan bakar padat. Berbeda dengan rudal berbahan bakar cair yang biasanya membutuhkan persiapan lebih lama sebelum diluncurkan, rudal berbahan bakar padat umumnya dapat disimpan dalam kondisi siap digunakan dan ditembakkan lebih cepat.
Kemampuan itu membuat lawan memiliki waktu lebih sedikit untuk mendeteksi persiapan peluncuran dan menghancurkan rudal sebelum meninggalkan landasan.
Iran dan sejumlah analis menyebut kendaraan masuk kembali (re-entry vehicle) Kheibar Shekan memiliki kemampuan manuver tinggi pada fase akhir penerbangan. Kemampuan itu dirancang untuk mempersulit pencegatan karena lintasan akhir hulu ledak menjadi lebih sulit diprediksi oleh sistem pertahanan rudal.
Teheran juga mengatakan Kheibar Shekan lebih ringan dan dapat diluncurkan jauh lebih cepat dibandingkan sistem sebelumnya, meski tolok ukur perbandingan tersebut belum dipublikasikan.
Di mana Iran menggunakannya?
Iran berulang kali mengatakan telah menembakkan rudal Kheibar Shekan ke posisi militer AS sejak konflik dimulai pada 28 Februari.
IRGC merilis rekaman yang memperlihatkan Kheibar Shekan bersama sejumlah rudal balistik Iran lainnya, termasuk Fateh-110, Zolfaghar, dan Emad, yang menurut Teheran telah digunakan untuk menyerang sasaran militer AS.
Ketika ketegangan meningkat pada akhir Agustus, otoritas Iran mengatakan Kheibar Shekan digunakan dalam serangan terhadap aset AS di Yordania.
Iran juga mengeklaim telah menyerang sasaran yang terkait dengan AS di Bahrain, Kuwait, dan Erbil di Irak utara, meski klaim semacam itu sulit diverifikasi secara independen.
Kheibar Shekan merupakan bagian dari arsenal Iran yang jauh lebih luas, yang mencakup rudal balistik dan rudal jelajah jarak pendek, menengah, hingga jarak lebih jauh.
Sistem seperti Emad, Ghadr, Khorramshahr, dan Sejjil memberikan Iran kemampuan untuk mengancam sasaran di sebagian besar kawasan.
Dampak rudal terhadap doktrin militer
Meski PrSM dan Kheibar Shekan berada dalam kelas yang berbeda dan dikembangkan oleh negara dengan kemampuan industri pertahanan yang sangat berbeda, keduanya mencerminkan pergeseran yang lebih luas menuju sistem serangan jarak jauh yang bergerak dan semakin presisi.
Melalui program seperti PrSM, AS mengembangkan rudal berbasis darat yang mampu menghantam sasaran semakin jauh dengan presisi, menggunakan peluncur bergerak yang sudah tersebar bersama pasukan darat.
Iran, di sisi lain, berinvestasi pada rudal yang dapat dipindahkan, disiapkan dengan cepat, dan diluncurkan untuk menyerang pangkalan serta sasaran lain di berbagai wilayah di kawasan.
Dalam kedua kasus tersebut, mobilitas membuat peluncur rudal lebih sulit ditemukan dan dihancurkan, sementara jangkauan yang lebih jauh memungkinkan serangan dilakukan dari posisi yang lebih jauh dari sasaran.
Perkembangan ini sekaligus menghadirkan tantangan yang semakin berat bagi sistem pertahanan.
Rudal balistik melaju dengan kecepatan sangat tinggi, terutama ketika turun menuju sasaran. Sistem pertahanan harus lebih dulu mendeteksi peluncuran, menentukan lintasan rudal, memastikan apakah rudal mengancam sasaran tertentu, kemudian melakukan pencegatan, semuanya hanya dalam hitungan menit.
Kondisi tersebut membuat persaingan antara kemampuan serangan jarak jauh dan sistem pertahanan udara serta rudal yang dirancang untuk menangkalnya menjadi semakin kompleks.








